Interest

Angka Kematian Coronavirus di Vietnam Nol, Ini 4 Rahasianya

Delya Oktovie Apsari

Posted on April 13th 2020

Warga mengenakan masker dan melakukan physical distancing ketika antre membeli nasi di Hanoi. (SCMP/AFP)

 

Meski berbatasan dengan Tiongkok, Vietnam hingga kini memiliki jumlah pengidap coronavirus COVID-19 yang terhitung sedikit dan jumlah kematiannya nol. Bahkan, negara berbendera bintang kuning tersebut mendapat pujian dari World Health Organization (WHO).

Dilansir dari South China Morning Post, Vietnam menjalankan tindakan tegas yang dilakukan sejak awal, pengujian besar-besaran hingga karantina yang diterapkan secara ketat.

Statistik resminya menunjukkan bahwa saat ini, lebih dari 75.000 warga Vietnam sedang menjalani karantina atau isolasi. Sejauh ini, Vietnam telah menjalankan lebih dari 121.000 tes, dan hanya 260 kasus yang positif coronavirus COVID-19.

Angka ini jauh lebih rendah dari Korea Selatan, Singapura dan Taiwan. Padahal, ketiga negara tersebut sangat dielu-elukan karena respon yang efektif. Dan hingga kini, belum ada kasus kematian yang berhubungan dengan coronavirus COVID-19.

 

1. Gerak cepat

Disinfeksi kendaraan di Son Loi. Distrik ini memberlakukan lockdown selama 20 hari. (Nikkei Asian)

 

Perwakilan WHO di Vietnam, Kidong Park, percaya bahwa respon awal suatu negara terhadap sebuah krisis sangat penting.

"Vietnam merespon outbreak ini sejak awal dan secara proaktif. Latihan penilaian risiko pertama dilakukan pada awal Januari, segera setelah kasus di Tiongkok mulai dilaporkan," ucapnya.

Park menambahkan, Vietnam juga langsung membentuk Komite Pengarah Nasional untuk Pencegahan dan Kontrol COVID-19 di bawah naungan wakil perdana menteri, dan mengimplementasikan rencana respon nasional sesegera mungkin.

 

2. Kekompakan masyarakat

(Reuters)

 

Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Xuan Phuc, menyebut salah satu faktor yang berkontribusi besar terhadap respon baik ini adalah 'kesatuan masyarakat'. Nguyen Van Trang, seorang ekonom di Hanoi, menyebut kalau orang tuanya belum pernah melihat tingkat kepatuhan, disiplin serta solidaritas rakyat yang sampai seperti ini sejak Perang Vietnam.

 

3. Lockdown sejak dini

Sekolah-sekolah ditutup sejak bulan Januari. (VOA)

 

Meski jumlah kasus yang dikonfirmasi terbilang rendah, Vietnam tetap melakukan lockdown nasional pada 1 April. Respon ini jauh lebih cepat dibanding Inggris atau Italia, yang melakukan penutupan ketika ribuan orang sudah terinfeksi coronavirus COVID-19.

Sekolah-sekolah di Vietnam telah ditutup sejak Januari, dan karantina masal dilakukan mulai 16 Maret. Sejak saat itu, puluhan ribu orang dari negara-negara yang parah penanganannya, memasuki karantina wajib di kamp-kamp militer. Pada 25 Maret, Vietnam menghentikan penerbangan internasional.

 

4. Langkah tegas dengan ancaman penjara

(Reuters)

 

Bila orang yang tidak mengenakan masker diketahui telah menulari orang lain, orang tersebut bisa dipenjara selama 12 tahun. Pada 10 Maret, seorang pria Vietnam yang menolak 'secara agresif' mengenakan masker dipenjara selama sembilan bulan.

Meskipun langkah-langkah ketat tersebut sejauh ini relatif sukses, masih harus dilihat apakah Vietnam atau negara-negara lain dengan tanggapan serupa mampu menahan penyebaran virus dalam jangka panjang.

“Kami tidak dapat membuat prediksi, tetapi kami dapat mengatakan bahwa perjalanan pandemi akan ditentukan oleh tindakan yang diambil oleh negara, termasuk Vietnam, sekarang,” kata Park.

 

17 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2003, Vietnam adalah negara pertama di luar Tiongkok yang dikonfirmasi memiliki kasus SARS. Namun, menurut WHO, Vietnam pula negara pertama yang berhasil mengatasi wabah tersebut. (*)

Artikel Terkait
Interest
Yuk Kenali Istilah Seputar Coronavirus, Biar Nggak Panik dan Salah Langkah

Current Issues
Musim Panas Datang, Akankah Virus SARS-Cov-2 Jadi Tak Berdaya?

Interest
Yuk, Ikutan 'Until Tomorrow' Challenge! Begini Caranya