Current Issues

Ahli: Nostalgia Senjata Ampuh Menghadapi Social Distancing

Delya Oktovie Apsari

Posted on April 12th 2020

(Daily Bruin)

 

Ketika kamu mendengarkan lagu yang sering diputar oleh Ibu ketika kamu masih kecil, maupun melihat foto penuh tawa saat hangout bareng sahabat, kamu akan merasakan kebahagiaan yang berbeda. Lagu tersebut bukan lagi sekadar lagu, dan foto tersebut tak sembarang foto -- mereka adalah kenangan indah bagimu.

Di tengah-tengah pandemi coronavirus COVID-19 ini, mau tak mau kita harus #DiRumahAja demi memperlambat laju penyebaran virus. Kita pun jadi sering mengingat-ngingat kejadian maupun perasaan yang sudah lalu. Jangan khawatir, itu bukan tanda-tanda kamu belum bisa move on.

Menurut Hal McDonald, profesor sastra dan linguistik Mars Hill University, nostalgia bisa menjadi senjata ampuh kita dalam berperang menghadapi situasi ini.

Dalam tulisannya di Psychology Today, penelitian psikologis menyebut apabila kamu tiba-tiba bernostalgia di tengah-tengah pandemi, itu 'bukanlah hal yang tidak biasa atau tidak terduga'.

"Nyatanya, nostalgia adalah respon umum terhadap tekanan, dan sebenarnya melayani fungsi adaptif yang dapat membantu kita secara emosional menghadapi situasi penuh gejolak seperti yang kita semua alami sekarang," jelas McDonald.

Studi menunjukkan, keadaan yang membuat kita semakin sering bernostalgia biasanya adalah ketika kita sedang tertekan, maupun memiliki suasana hati yang negatif.

"Pengalaman menyedihkan yang diidentifikasi dalam penelitian sebagai pemicu suasana hati negatif, itu memicu nostalgia. Termasuk kesepian, kebosanan, dan 'diskontinuitas diri', yang semuanya sekarang menjadi norma sehari-hari ketika kita berjongkok di rumah kita agar tidak terinfeksi atau menginfeksi orang lain, dan menyaksikan liputan berita 24 jam tentang kekacauan yang terjadi di dunia di luar pintu depan kami," paparnya.

Nostalgia memerangi rasa kesepian kita selama social distancing dengan 'memberi akses' ke pengalaman menyenangkan yang kita rasakan bersama orang lain di masa lalu. Peneliti menemukan bahwa nostalgia adalah 'emosi sosial yang mendalam', dan sebagian besar kenangan nostalgia berputar 'di sekitar diri dalam konteks sosial'.

Dalam kenangan-kenangan nostalgia, pikiran kita 'dihuni' dengan teman-teman, keluarga, serta kenalan-kenalan lain dari masa lalu kita.

"Jadi tidak peduli seberapa sendirian kita saat ini, kita tidak perlu kesepian selama kita dapat memanfaatkan orang-orang dalam kenangan kita," ucap penulis buku The Anatomists tersebut.

Meskipun nostalgia mungkin tidak dapat mencegah kita dari kebosanan, nostalgia membantu kita supaya tidak merasa kesepian. Hal itu dapat membantu kita mengatasi beberapa efek emosional tidak menyenangkan yang menyertai kebosanan. Penelitian menunjukkan bahwa 'kebosanan membuat kita kehilangan tujuan', yang akhirnya mengancam persepsi kita tentang makna hidup kita. Kenangan nostalgia membantu memerangi 'ancaman makna' ini dengan memungkinkan kita untuk 'meninjau kembali pengalaman masa lalu yang bermakna'.

"Jadi di hari, minggu, maupun bulan-bulan (menghadapi) distancing serta bahaya di depan kita, jika ada ingatan bahagia muncul secara acak di kepalamu entah dari mana, jangan menganggapnya sebagai gangguan sepele dari masalah mendesak saat ini. Berpegang pada memori tersebut dan simpan semua nilainya. Itu tidak hanya memberimu pelarian sementara ke masa lalu yang lebih simple; ini juga akan membantumu mengatasi permasalahan masa kini yang sangat kompleks dan meresahkan," pungkasnya. (*)

Related Articles
Current Issues
10 Cara Mengurangi Stres Gara-gara Coronavirus dari Pakar Kesehatan Mental

Current Issues
Kepanikan Massal Akibat Corona Bisa Picu Gangguan Kecemasan

Current Issues
Enggan Lakukan Social Distancing, Tanda-tanda Orang Narsis?