Interest

Panic Buying Warga AS Berubah, Minggu Kelima Borong Pewarna Rambut

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 12th 2020

Setelah toko-toko ritel di Amerika Serikat dan Eropa kehabisan hand sanitizer dan tisu toilet, sekarang giliran penjepit rambut dan semir rambut yang habis diborong para panic buyer.

Beberapa waktu belakangan, pola belanja warga Amerika Serikat dapat mencerminkan dampak dari pandemi covid-19 terhadap aktivitas semua orang sehari-hari.

"Selama semua orang tinggal di rumah. Fokus mereka berubah-ubah," ujar CEO Walmart, Doug McMillon dalam Today Show, Jumat (10/4) lalu. McMillon berkata, kini warga Amerika Serikat tengah memasuki masa 'pewarnaan rambut' dalam melakukan  panic buying.

Pertama mereka memenuhi kebutuhan makanan dan barang-barang konsumsi. Kemudian warga beralih ke puzzle, game, serta bentuk lain dari hiburan jangka panjang yang bisa mereka lakukan selama pandemi. Sekarang trennya beralih ke pewarna rambut. Hasil penjualan Walmart menunjukkan, karena masyarakat tidak bisa pergi ke salon, mereka mencoba bereksperimen dengan rambut mereka di rumah masing-masing.

"Orang-orang mulai merasa mereka perlu potong rambut dan bercukur," tambah McMillon.

Hal tersebut tampak dari produk pencukur dan pewarna rambut yang belakangan lebih banyak terjual. Seperti apa pola belanja tersebut, berikut lebih lengkapnya.

Pekan Pertama : Hand Sanitizer, Sabun dan Disinfektan

hand sanitizer (foto:businessinsider.com)

Produk primadona dalam masa awal pandemi tentu saja adalah produk-produk pembersih seperti hand-sanitizer, sabun, dan disinfektan. Berdasarkan data Nielsen, penjualan hand sanitizer meroket hingga 470 persen dari tahun lalu. Selain itu, penjualan produk disinfektan semprot meningkat hingga 385 persen dari tahun sebelumnya. 

Masyarakat di seluruh Amerika bersikap seolah mereka bersiap menghadapi badai besar. "Kami biasanya menyiapkan stok ekstra di toko saat badai besar akan datang dan masyarakat terpaksa akan mengurung diri di rumah," terang Andrea Karns, wakil presiden bidang penjualan dan pemasaran Karns Foods.


Pekan Kedua : Tisu Toilet

tisu toilet (foto:popmama.com)

Memasuki pekan kedua, gelombang panic buying mulai beralih ke produk lain yang kerap jadi bahan meme di internet: tisu toilet. Krisis tisu toilet di berbagai tempat menciptakan efek berkelanjutan dalam rantai suplai

"Sebagian besar pabrik (pembuat tisu toilet) beroperasi 24 jam setiap hari. Mereka bekerja dalam kapasitas yang stabil," ujar Tom Sellars, CEO di Sellars Absorbent Materials di Milwaukee, Wisconsin, kepada CNN Business Maret lalu. "Bahkan tidak ada lagi mesin pabrik yang bisa digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi." 

Tren menunjukkan, penjualan tisu toilet, tisu wajah, dan produk handuk meningkat hingga tiga digit persen sampai 14 Maret lalu. Pada waktu yang sama, penjualan disinfektan semprot tetap meroket menjadi 519%.


Pekan Ketiga dan Keempat : Daging Ham Spiral dan Ragi

daging ham spiral (foto:foodnetwork.com)

Memasuki pekan ketiga, warga Amerika mulai mengalihkan fokus ke masak-memasak. Khususnya memasak olahan roti. Pada 21 dan 28 Maret, atau pekan ketiga dan keempat semenjak pandemi di Amerika Serikat, penjualan ragi pengembang roti meningkat melampaui produk makanan lainnya. Yaitu 647 persen di pekan ketiga, dan 457 persen pada pekan keempat.

Selain ragi, daging ham spiral juga menjadi produk favorit, dengan penjualan sebanyak 622 persen dan 413 persen dibandingkan pekan penjualan yang sama pada 2019. Produsen tepung dan ragi mengatakan mereka tidak mengalami kekurangan stok produk untuk dijual. 


Pekan Kelima : Penjepit Rambut dan Cat Rambut

pewarna rambut (foto:internewcast.com)

Daging ham spiral tetap merajai penjualan hingga 4 April, tapi data juga menunjukkan bahwa konsumen mulai melirik produk lain. Kali ini untuk menjaga bentuk rambut mereka.

Penjualan penjepit rambut meningkat 166 persen pada pekan kelima pandemi. Sedangkan penjualan produk pewarna rambut meningkat penjualannya sebesar 23 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Amerika Serikat mulai bereksperimen dengan rambutnya di rumah masing-masing karena ditutupnya salon di seluruh negeri.

Monique Campbell, pemilik Endless Extension di Dallas, Texas, mengaabrkan lewat Dallas Morning News, bahwa penutupan salon sangat berdampak buruk secara finansial, tapi dia juga paham akan kondisi tersebut.

"Mengunjungi penata rambut atau meminta penata rambut untuk datang ke rumah cukup berisiko (dalam menyebarkan virus korona). Aku tidak mau membahyakan diriku sendiri hanya untuk mempercantik rambut orang lain," tutur Campbell.


Related Articles
Current Issues
Kata Peneliti Kalau Kondisi Ini Terjadi, Lockdown Bisa Berjalan Sampai 2022

Interest
Begini Cara Ustaz di AS Ajak Jamaahnya Sikapi Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

Current Issues
Facebook dan YouTube Tindak Tegas Penyebar Hoaks Sinyal 5G-COVID-19