Current Issues

Peneliti Ini Buat Simulasi Bagaimana Coronavirus Bisa Menyebar Lewat Udara

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 11th 2020

Sejak menyebar ke seluruh dunia pada Februari lalu, Covid-19 membuat semua orang jadi mendadak waswas saat berada di dekat orang lain yang sedang bersin-bersin. Pasalnya, salah satu cara penyebaran virus korona penyebab penyakit ini adalah lewat droplet, alias percikan air ludah dari penderitanya. Tapi, seperti apa sih persisnya proses menyebarnya virus ini lewat bersin?

Belakangan, beberapa ilmuwan Finlandia membuat tayangan simulasi bagaimana Coronavirus dapat menyebar lewat batuk dan bersin, dengan latar suasana supermarket. Dalam simulasi tersebut, tampak bahwa droplet dari seseorang yang batuk dapat bertahan selama beberapa menit di udara supermarket dan berpotensi menginfeksi orang lain di sana.

Universitas Aalto, Institut Meteorologi Finlandi, Pusat Riset Teknis VTT, dan Universitas Helsinki mempelajari bagaimana cara coronavirus dapat menyebar di udara saat seorang carrier virus tersebut batuk, bersin, atau bahkan hanya berbicara. Hasil awal penelitian mereka membuktikan bahwa Coronavirus dapat bertahan di udara terbuka lebih lama dari yang diperkirakan.

Keempat lembaga riset tersebut masing-masing melakukan uji coba secara terpisah dengan kondisi awal yang sama, yaitu seseorang yang batuk saat berada di gang di antara rak yang ada di supermarket.

"Seseorang yang terinfeksi Coronavirus bisa pergi begitu saja setelah dia batuk, akan tetapi partikel aerosol super kecil yang mengandung virus akan tertinggal di udara yang dilewatinya," ujar Ville Vuorinen, asisten profesor di Universitas Aalto. "Partikel super kecil ini dapat terhirup oleh orang lain dan menginfeksi saluran pernapasannya."

Jussi Sane, Ketua Spesialis Institut Kesehatan Finlandia menekankan pentingnya hasil awal penelitian tersebut dalam mengambil sikap.

"Atas dasar itu kenapa kami (Institut Kesehatan Finlandia) menyarankan semua orang untuk tetap tinggal di rumah saat merasa tidak enak badan, serta tetap menjaga jarak dari orang lain. Kami juga menyarankan siapa pun yang bersin atau batuk untuk menutup mulut dan hidungnya dengan tisu atau bagian dalam lengan baju, serta tetap menjaga kebersihan tangan," ujarnya.

Penelitian ini melibatkan 30 orang ilmuwan, termasuk para ahli di bidang dinamika fluida, fisika aerosol, jaringan sosial, virologi dan teknik biomedis. Mereka memanfaatkan superkomputer untuk membuat model pergerakan partikel aerosol yang ukurannya kurang dari 20 mikrometer.

Bahkan batuk tidak berdahak, yang merupakan gejala paling umum dari covid-19, menghasilkan partikel aerosol berukuran lebih kecil dari 15 mikrometer. Partikel-partikel super kecil tersebut tidak lenyap di tanah atau lantai, akan tetapi tetap mengambang di udara. Karakter partikel tersebut mirip dengan hasil dari penelitian tentang virus influenza tipe A yang dapat melekat pada partikel aerosol berukuran kurang dari 5 mikrometer.(*)

Related Articles
Current Issues
Peneliti Temukan Vitamin D Pengaruhi Jumlah Kasus dan Kematian Akibat Covid-19

Current Issues
Kata Peneliti Kalau Kondisi Ini Terjadi, Lockdown Bisa Berjalan Sampai 2022

Current Issues
Kehidupan Warga Tiongkok Pasca Lockdown Bergantung pada Label Hijau Ini