Current Issues

Selebriti dan Politisi Kunci Penyebaran Konten Salah Terkait Covid-19

Mainmain.id

Posted on April 11th 2020

Hasil penelitian ini sangat bermanfaat banget buat kalian agar tak menelan mentah-mentah informasi terkait covid-19 yang diunggah idolamu. Baik itu dari kalangan selebriti maupun politisi. Sebab, dari penelitian yang dibuat oleh Reuters Institute, ternyata dua figur itu termasuk menjadi penyebar utama konten keliru terkait Covid-19.

Penelitian Reuters Institute ini dirilis 7 April kemarin. Judulnya: Types, sources, and claims of COVID-19 misinformation. Ada empat peneliti yang terlibat melakukan riset, yakni Dr. J. Scott Brennen, Felix Simon, Dr Philip N. Howard, dan Professor Rasmus Kleis Nielsen.

Biar gak ragu, kita cari tahu dulu ya siapa para peneliti itu. J. Scott Brennen adalah peneliti studi jurnalisme di Institut Reuters dan Institut Internet Oxford di Universitas Oxford. Sedangkan Felix M. Simon adalah seorang doktor di Oxford Internet Institute dan asisten peneliti di Institut Reuters untuk studi jurnalisme.

Lalu si Philip N. Howard merupakan direktur Oxford Internet Institute dan Profesor Sosiologi, Informasi, dan Hubungan Internasional di Universitas Oxford. Dan, Rasmus Kleis Nielsen tak lain sebagai direktur Institut Reuters untuk studi jurnalisme plus profesor Komunikasi Politik di Universitas Oxford.

Studi yang mereka lakukan ini mempelajari 225 postingan di media sosial terkait Covid-19 yang terbit antara Januari dan Maret. Postingan itu telah diindikasikan sebagai informasi salah. Dari data itu, para peneliti coba menemukan bagaimana informasi yang salah menyebar di sosial, jenis informasi salah apa yang dibagikan, dan bagaimana platform itu sendiri merespons.

Nah, dalam hal bagaimana jenis informasi yang salah itu menyebar dan dibagikan ke media sosial, ternyata kuncinya pada akun-akun dengan profil tinggi. Akun-akun dengan profil tinggi seperti selebriti, politisi dan tokoh masyarakat lainnya memainkan peran kunci dalam menyebarkan konten salah, baik itu misinformasi maupun hoaks.

Yang paling ramai dan sempat membuat sejumlah aplikasi media sosial melakukan take down adalah teori menyesatkan soal transmisi 5G yang berkontribusi pada penyebaran Covid-19. Hal itu sempat diungkapkan oleh aktor Woody Herrelson.

Menurut tim riset Reuters, pengguna media sosial dengan profil tinggi seperti selebriti, politisi, dan tokoh masyarakat lainnya menyumbang 69 persen dari penyebaran konten salah tentang Covid-19.

Sebenarnya hanya ada 20 persen selebriti, politisi, dan tokoh masyarakat yang menyebarkan konten salah tentang Covid-19 dari total sampel yang diteliti. Tapi engagements-nya luar biasa, mencapai 69 persen. Jadi, meskipun yang menyebarkan sedikit, tapi efeknya luar biasa.

 

Dari hasil studi tim Reuters disebutkan bahwa pesan keliru terkait Covid-19 yang menyebar di media sosial kebanyakan berupa konten yang "dikonfigurasi ulang". Atau pada dasarnya memutarbalikkan kebenaran. Konten jenis ini ditemukan sebanyak 59 persen. Lalu, sebanyak 38 persen merupakan konten yang benar-benar dibuat sebagai hoaks atau informasi palsu. Dan 3 persen sisanya dibuat dengan tujuan satire.

Nah, dari penelitian ini kalian hati-hati ya ketika mendapatkan informasi dari idola kalian. Belum tentu yang mereka sebarkan itu benar. Mending ikutin saja informasinya langsung dari badan atau instansi yang berwenang, seperti misalnya WHO. (Baca juga: Awas Hoaks! Berikut Daftar Situs Terpercaya Terkait Coronavirus di Indonesia). (*)

Hasil lengkap penelitian Reuters Institute: Types, sources, and claims of COVID-19 misinformation

 

Related Articles
Interest
Gak Punya Kuota Buat Buka Situs? Update Coronavirus Bisa Lewat Whatsapp

Interest
Awas Hoaks! Berikut Daftar Situs Terpercaya Terkait Coronavirus di Indonesia

Interest
Jangan Terkecoh, Foto Ini Buktikan Mudahnya Membuat Berita Palsu Lewat Fotografi