Current Issues

Kehidupan Warga Tiongkok Pasca Lockdown Bergantung pada Label Hijau Ini

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 10th 2020

Pemerintah Tiongkok sudah resmi mencabut status lockdown di Kota Wuhan sejak Maret lalu. Akan tetapi, itu tidak serta-merta berarti warga Tiongkok kembali bebas beraktivitas seperti sedia kala. Penduduk Tiongkok, khususnya Wuhan, masih terikat pada peraturan ketat tentang bepergian, termasuk penyematan 'label hijau' pada aplikasi buatan pemerintah Tiongkok yang wajib diaktifkan di smartphone masing-masing warga.

Label hijau adalah kode kesehatan yang berarti bahwa seorang warga bebas dari gejala covid-19. Warga dengan label hijau di smartphone-nya dapat bepergian dengan menggunakan kereta, check-in di hotel dan diizinkan memasuki Kota Wuhan. Sistem ini dapat diberlakukan pemerintahh Tiongkok dengan memanfaatkan teknologi 'Big Data' yang selama ini memang digunakan untuk memantau dan mengendalikan penduduk Tiongkok.

Wu Shenghong, salah satu warga Tiongkok yang menjadi manajer di perusahaan tekstil, pada Rabu (10/04) lalu mencontohkan bagaimana penggunaan teknologi ini dalam kehidupan sehari-hari. Ia menggunakan ponselnya untuk memindai kode bar dari sebuah poster di stasiun kereta untuk melakukan check-in ke stasiun. Label kesehatan berwarna hijau, beserta kartu identitasnya muncul di sebuah layar, lalu ia diizinkan mengakses kereta di stasiun.

Jika seorang warga memiliki label kesehatan berwarna merah, itu berarti ia terinfeksi covid-19 atau memiliki gejalanya. Sementara itu, label kuning berarti seorang warga sempat berkontak dengan penderita covid-19 dan belum selesai melewati masa karantina 14 harinya.

Penggunaan sistem ini turut membantu Tiongkok dalam menghidupkan kembali perekonomian Tiongkok. Dengan menggunakan bantuan aplikasi buatan pemerintah tersebut, banyak pekerja yang kini dapat kembali ke tempat kerjanya masing-masing dengan perasaan lebih aman.

Wuhan adalah salah satu pusat perekonomian di Tiongkok bagian tengah. Penutupan kota ini dan kota-kota lain di Provinsi Hubei pada 23 Januari lalu sempat melumpuhkan perekonomian Tiongkok untuk beberapa waktu. Larangan bepergian terakhir di Wuhan telah dicabut pada 8 April lalu.

Di dalam kereta bawah tanah, para penumpang diwajibkan memindai kode yang merekam nomor polisi dari mobil yang mereka kendarai, agar pemerintah dapat berjaga-jaga jika harus menemukan mobil itu nanti demi mencegah penyebaran virus korona.

Begitu pula dengan masyarakat yang mengunjungi pusat perbelanjaan, gedung kantor dan tempat-tempat publik lainnya di Wuhan. Siapa pun wajib memindai kode yang sudah disediakan petugas kesehatan di berbagai tempat sebelum mereka bisa diizinkan masuk.

Kode kesehatan yang disimpan oleh aplikasi smartphone tersebut menyuplai pemerintah Tiongkok dengan informasi tentang tempat-tempat publik yang dikunjungi oleh warganya. Selain itu, jutaan kamera selama ini juga telah meliputi seluruh sudut jalanan kota di Tiongkok. Ponsel warga Tiongkok yang semuanya diproduksi di dalam negeri juga dapat digunakan unuk melacak ke mana perginya si pemilik ponsel.

Informasi-informasi tersebut kemudian diolah lewat sistem komputer yang dikenal dengan nama 'social credit' yang digunakan pemerintah Tiongkok dalam mencatat rekam jejak warganya. Warga yang sering melakukan pelanggaran hukum, mulai dari tindak pidana berat hingga membuang sampah sembarangan, dapat di-ban dari pembelian tiket pesawat, mendapat pekerjaan di sektor pemerintah atau bahkan dari bepergian keluar Tiongkok.

Penggunaan label kesehatan tersebut hanya berlangsung sementara, meski belum ada penjelasan lebih lanjut dari pemerintah tentang kapan penggunaannya akan diakhiri. Kode untuk mendapatkan label kesehatan tersebut tersebar melalui aplikasi WeChat yang dikembangkan oleh Tencent Ltd., penyedia jasa internet di Tiongkok.

Label kesehatan dapat diperoleh dengan mudah: pengguna aplikasi cukup mengisi formulir online dengan identitas mereka dan menjelaskan apakah mereka memiliki gejala batuk dan demam.

Pemerintah menentang siapa pun warganya yang memaksakan diri bepergian dengan label kesehatan yang berwarna merah. Jika melanggar, mereka akan ditandai dalam sistem social credit.

"Penipuan, penyelundupan dan pelanggaran-pelanggaran lainnya akan berdampak besar bagi hidup dan pekerjaan mereka di masa mendatang," ujar pemerintah Provinsi Helionjiang dalam pernyataannya.

Singkatnya, meski tidak lagi berada dalam masa lockdown, warga Tiongkok tetap tidak bebas beraktivitas seperti sedia kala. Perubahan ini akan terus berlangsung hingga kurun waktu yang belum ditentukan. Bagaimana dengan negara kita ya? (*)

Related Articles
Current Issues
Ilmuwan Manfaatkan AI untuk Deteksi Pasien Covid-19 yang Butuh Ventilator

Current Issues
8 Hal yang Tidak Akan Sama Lagi Setelah Pandemi Covid-19 Berlalu

Current Issues
Facebook dan YouTube Tindak Tegas Penyebar Hoaks Sinyal 5G-COVID-19