Current Issues

Ilmuwan Pecahkan Misteri Telur Hias Berusia 5.000 Tahun di British Museum

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 10th 2020


British Museum memang memiliki beberapa barang koleksi eksklusif yang asal muasalnya belum terpecahkan hingga sekarang. Salah satunya adalah telur burung unta yang permukaannya dihias persis telur paskah.

Meski tampak seperti telur burung unta biasa, namun sejarawan menyimpulkan bahwa beberapa spesimen dari koleksi langka tersebut sudah berusia 5.000 tahun, atau sudah ada sejak permulaan zaman tembaga.

Selama ini, kebanyakan studi akademik seputar telur-telur unik tersebut baru berfokus pada desain unik yang ada di permukaannya. Namun baru-baru ini tim arkeolog internasional yang dibimbing para ahli dari Universitas Bristol dan Durham mengumumkan hasil temuan baru mereka.

Tepatnya pada Kamis (09/04) lalu, melalui majalah Antiquity, Dr. Tamar Hodos dari Universitas Bristol mengumumkan bagaimana rumitnya telur-telur tersebut dibuat dan diperdagangkan oleh kelompok-kelompok masyarakat di Mediterania, Afrika dan Timur Tengah pada masa lampau.

Beberapa spesimen yang ditemukan di situs arkeologis yang sama diuji lewat analisis isotop dan pemindaian mikroskopik. Analisis isotop menemukan fakta bahwa telur-telur itu berasal dari tempat-tempat yang berbeda. Sementara pemindaian mikroskopik mengungkap betapa rumitnya proses pengukiran pola geometrik pada permukaan kulit telur, meski metode ukir yang digunakan masih menjadi misteri.

Telur burung unta yang diambil dari sarangnya, dicat dan dihias dengan gading atau hiasan lainnya memiliki nilai sangat tinggi bagi peradaban di sepanjang Mediterania selama zaman tembaga dan zaman besi. Lebih dari dua lusin koleksi milik British Museum di London, Inggris, berupa pecahan-pecahan kulit telur dan beberapa telur utuh yang diukir dengan indah.

“Burung unta bukan hewan endemik Benua Eropa, sehingga spesimen yang ditemukan di Spanyol, Italia dan Yunani bisa dipastikan tidak berasal dari sana,” ujar Hodos.

Bahkan beberapa telur kuno yang ditemukan arkeolog di sepanjang Mediterania Timur dan Afrika Utara ternyata tidak berasal dari tempat mereka ditemukan. “Ini temuan yang sangat tidak terduga yang menciptakan pertanyaan baru, misalnya : apakah telur yang berasal dari wilayah beriklim lain memiliki nilai yang lebih tinggi bagi manusia purba?”

Hasil uji mikroskopik dan isotop yang dilakukan oleh tim arkeolog ini juga berpotensi mematahkan teori bahwa telur tersebut diperoleh dari burung yang dijinakkan. Hampir semua spesimen berasal dari spesies burung liar yang sangat berbahaya.

Pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul dari hasil temuan tim ini, menurut Hodos, menggiring mereka pada penelitian lebih lanjut tentang asal-muasal telur-telur tersebut.

“Ribuan tahun sebelum Paskah, manusia sudah menghias telur. Sekarang kita semakin dekat dengan jawaban tentang siapa yang menghias telur-telur tersebut,” ujar Hodos.

 

Related Articles
Current Issues
Pemerintah Italia Pugar Habis-habisan Kota Bersejarah Bernama Pompeii

Current Issues
Mendekati Musim Dingin, Kasus Covid-19 Makin Melonjak di Eropa dan Amerika

Current Issues
Alat Rapid-test Murah dan Bisa Dilakukan di Rumah Ciptaan Orang Indonesia