Cerpen

Di Lantai Atas

GERIMIS: Geng Cerita Mistis

Insani U.J

Posted on April 9th 2020

(Stefan Koidl)

 

"'Bapakku nge-ubah rencana, jadinya besok deh,' Gitu kata Nugroho kemarin, rek." Kalau aku bisa menatap mataku sendiri, pasti sekarang sedang loyo-loyonya. Padahal sudah betul rencana awal weekend kami pasti bisa kompak ke bandara. Sial nasib berkata lain.

Nugroho Jumat ini fix meninggalkan kampus untuk setahun ke depan. Yang artinya ... lusa. Dia diterima student exchange di Jepang ceritanya. Sedangkan setahun itu, kami semua sudah siap-siap lulus. Sedih bukan?

Itulah mengapa kami berusaha menemani Nugroho ke bandara untuk terakhir kali—dengan title masih teman sekelas.

"Ya berarti besok bareng-bareng ke rumahmu, Ins. Nginep. Biar langsung cus ke bandara Subuh-Subuh itu." Sebuah saran yang AGAK solutif, demi memecahkan persoalan flight sebegitudiniharinya.

Kenapa AGAK? He ... he ... he .... Karena frasa "nginep di rumah Ins" sejauh ini tidaklah pernah berakhir baik. Tapi cukup aku yang tahu. Mereka jangan.

***

"Taro situ, biar nanti aku ambilin kasur tambahan. Nah, iya gitu. Kalau gini kan cukup toh berempat?" tangan kananku mengacung-ngacung sudah bak mandor proyekan saja. Sebagai anggota genk yang rumahnya paling dekat (padahal ya masih sejam) dari bandara, rumah dijadikan markas untuk rencana besok Subuh memang harus diterima lapang dada. Bahkan sejak kemarin mereka rela ngemper di ruang tamu kalau-kalau semua kamar di rumahku memang penuh.

"Halah, tenang. Lapo se penuh," begitu sahutku kemarin.

Ada satu kamar kosong di atas. Iya, kamar itu. Kamar di mana aku melihat 'mamaku' bergelantung itu (Baca juga: Itu Bukan Mama!) Masih sangat terawat karena jelasnya karena mama. Beuh, jangan pernah berharap seorang Ins punya pemikiran telaten membersihkan sebuah tempat keramat. Tapi ya itu tadi, cukup aku yang tahu. Mereka jangan.

"Ins ...," Farah menepukku yang sedang fokus menyelipkan sisa sprei di sudut kasur.

"Hmm?" tentu untuk seorang aku dengan karakter tekun, keukeuh, dan rajin menabung ini tidak mungkin menoleh kanan-kiri sekalipun ditepuk oleh badai.

"Ini ... kamar yang pernah bok ceritain itu kan?"

"Hah?!" aku menoleh. "Cerita apa?" kukembalikan tatapanku ke sudut kasur.

"Yang ... bergelantung ... itu?" Suara Farah lirih, saking lirihnya aku sendiri nyaris tak mendengar. Apalagi mereka bertiga yang sedang berceracau di dekat pintu sana.

"Hahaha! Mana mungkin hahaha ... ha ... ha ... kok inget?"

"Tuh kaaan!"

Aku panik. Maksud hati seandainya tidak dibahas begini, mungkin bisa tidak terjadi apa-apa. Tapi dasar Farah dodol. Padahal dulu dia yang bilang ke aku kalau makhluk begituan semakin dibahas, mereka semakin mendekat. Sekarang dia sendiri yang mengundang.

"Lapo, rek?" Frida menginterupsi pembicaraan persetanan kami.

Yang disidak tentu saja panik bukan main. Takut membuat takut 3 lainnya. Alasan membahas bensin lah, hadiah buat Nugroho lah, padahal maksud sebenarnya semoga mereka semua tidak ingat cerita entah-apa-itu bergelantung adalah di kamar ini.

"Ehehehe." Alhasil, pringas-pringis tak lucu yang keluar dari mulut kami berdua.

Dari tatapan keempat mata kami—aku dan Farah—sepakat kalau cerita itu harus dilupakan selupa-lupanya. Karena apa lagi yang lebih dahsyat dari sebuah sugesti alam bawah sadar? Setidaknya itu kata Rommy Rafael.

***

Dentuman musik dari speaker mini yang dibawa Mayang, novel-novel berhamburan kecintaan Arvin, dan tentu saja ... keripik kentang balado amunisi bawaan Frida. Kamar yang mati suri selama ini, akhirnya hidup lagi. Meski, setengah mematikan keberanian Farah yang sedang di kamar mandi depan kamar situ.

"Far?" aku relakan memutar bahuku 20 derajat demi Farah yang baru memasuki pintu kamar. Sejak di sela-sela jendela tadi, kulihat wajahnya yang baru disiram air tak menampakkan hawa-hawa kesegaran sama sekali.

"Lapo?" Mayang menimpali kebingunganku.

"Gak ... gak lapo-lapo," sahut Farah singkat lalu meraih handuk kecilnya di sebelah cermin.

"He, tidur yuk. Wes malem ini. Sebelum subuh lho berangkat." Belum juga kami mengamini ajakan Frida, dia sudah terbang ke angkasa raya.

"Wes ya, nanti setengah empat tak bangunin. Ojok dikunci dari dalem pintu'e biar aku bisa masuk nyiram air hahaha. Dadah, teman-teman semu—"

"Lhah kamu nggak tidur sini, Ins??" kening Mayang mengerut. "Di sini bisa kan berlima. Kamu sama Arvin di kasur sana," telunjuk kirinya mengarah ke kasur kecil yang kami tata dadakan tadi. Gara-gara kasur besar yang memang sudah di kamar ini berabad-abad lamanya tidak cukup menampung tubuh mereka berempat. Tapi dasar Arvin, dia mau-mau saja jadi tumbal untuk tidur terpisah.

"Enggak wes, Arvin wes di kasur kecil, moso aku sek nyumpeki. Selamat malam, teman-teman ... semoga berbahagia hahaha."

Memang semoga berbahagia.

Bukan basa-basi-busuk-belaka atas apa yang baru kuucapkan. Farah sudah sadar di mana dia akan menghabiskan malamnya kali ini. Semoga memang mereka berempat bisa berbahagia.

Aku? Tidur di kamar bawah seperti hari-hari sebelumnya.

***
03.45

Untung aku aktifkan tiga kali berturut-turut alarmku tadi. 03.40, 03.43, dan yang terakhir, 03.45 tentunya. Selalu berhasil bangun di alarm ketiga. Seandainya 5 menit saja terlambat membuka mata, maka bisa berujung ditinggal Nugroho di bandara.

"Bangun, reeek! Banguuun!" teriakku sambil lari-lari kecil ke kamar atas. Sejak di anak tangga pertama, tidak kudengar tanda-tanda kehidupan di sana. Wah, ini. Alamat tidak mandi. "BAAA ... NGUUU—"

Rupanya yang dibangunkan sudah menata selimut segala. Farah malah sudah sisiran.

"Lhah, kok sudah seger aja?" selidikku yang masih ingin mendapat kesempatan predikat bangun paling awal.

"Yaiyalah. Udah cuci muka dari tadi itu. Mau mandi dingin banget," Farah fokus dengan cerminnya.

"Dari tadi ... 'itu'?" selidikku belum berakhir. Aku merasa ada makna di balik kata "itu", sebagai anak bahasa, seharusnya kata "itu" tak perlu dibubuhkan bila memang maksud mereka sekadar ingin congkak sebagai manusia yang bangun lebih dulu.

"Ya dari tadi yang kamu bangunin itu," timpal Mayang selagi kedua tangannya mengoyak-ngoyak Frida dan Arvin, "Bangun, woy!"

....

....

Hening.

Tubuhku yang membatu di depan Farah dan Mayang yang tengah bersolek tampaknya tak mengundang tanya. Aku berharap tidak akan pernah mengundang tanya. Karena otakku masih berpikir keras kapan aku membangunkan mereka di waktu "itu". Kapan aku memaksa mereka beranjak sejak tadi "itu". Meski pupil mata berusaha tak menunjukkan gelagat ketakutan, paru-paruku tak bisa diajak kompromi. Aku tarik napas dalam ... dan mulutku pun mengambil porsi kerjanya.

"Kapan aku bangunin kalian?"

Kan.

Sekarang giliran Farah dan Mayang menghentikan kegiatan mereka. Membatu. Keempat mata mereka bertemu. Meski tidak ada kata yang keluar, aku tahu itu apa.

"Kapan aku bangunin kalian sebelum ini?" kupertegas. Kepenasarananku sudah di ujung. Tidak bisa ditahan. Tidak mungkin bisa. Aku tahu mereka mau mengalihkan pembicaraan dan sepakat dalam diam untuk tidak pernah membahasnya.

"Lho, Ins?" Akhirnya Frida bangun juga. "Kok kamu belum siap?"

"Oh jadi kalau masih selimutan gitu sudah siap?"

"Hehehe soalnya tak pikir kamu turun tadi sudah langsung siap-siap. Lha tadi sek pukul tiga eh, males aku sek ngantuk."

Kini giliran keenam mata kami yang bertemu; aku, Farah, Mayang.

"Pukul tiga?" Masih aku dan rasa penasaranku.

"Jadi beneran kamu tadi nggak tidur sini?" Farah mulai berbicara lagi. Tapi kali ini, nadanya melamban dan merendah. Terdengar dia memang tak ingin membahasnya.

"REEEK!" berhamburan satu per satu kami keluar kamar menuruni tangga. "VIIIN! BANGUUUN!"

***

"Saya Farah, Tante. Maaf ya malam ini nyumpeki ehehehe," cengengas-cengenges aku mencium tangan ibu Ins. Antara cengenges sungkan, atau ketakutan. Bukan, bukan ke ibunya. Tapi ke tempat yang sedang kami pijak ini.

Gara-gara Nugroho mengubah rencana dadakan terbang besok Subuh, kami berlima dibikin kelabakan. Seandainya rencana awal dia berangkat Sabtu siang, tentu kami bisa berangkat dari kos kami masing-masing.

Sebenarnya berangkat kolektif begini bukan ide buruk, yang buruk tahu apa?

Memulai semuanya dari rumah Ins. Menginap pula.

Ins membawa kami ke kamar atas. Kata dia, ini memang kamar khusus tamu. Cukup memang untuk berlima, tapi baru di tapak pertama tadi melewati pintu, perasaanku berkata yang tidak-tidak.

"Ins ...," kutepuk pundak Ins yang sedang bergelut meluruskan pinggiran sprei. Seperti dugaanku, dia tidak mungkin menoleh sebelum kerjaannya kelar. "Ini ... kamar yang pernah bok ceritain itu kan?"

"Hah?!" Bak tersentak. Ins melepas ujung sprei yang sedari tadi dia perjuangkan. Lalu diambilnya lagi. "Cerita apa?" seolah tak mau meneruskan arah pembicaraanku.

Sebenarnya aku sendiri takut membawa topik ini ke permukaan. Bagaimana lagi. Aku pikir saat Ins bilang di grup WhatsApp kami akan ditempatkan di kamar tamu atas, itu artinya di atas ada beberapa kamar dan keresahanku tentang cerita 'mama' bisa ditepis.

Tapi lihat. Di lantai atas cuma ada satu kamar dan satu kamar mandi. Yang itu artinya ... mau tak mau, 'mama' itu ... pasti di sini kan?

Ah, sial. Kalau otakku mengingat terus, ini bakal berujung buruk.

Aku langkahkan kaki ke kamar mandi, berniat cuci muka siapa tahu cuci otak sekalian.

"Huuu ...."

"Rek ...." kuhentikan kucuran kran di depan wajahku. Berharap suara selain air terdengar jelas. Baru saja? Apa itu?

Pupil mataku bergerak ke kanan, tepat ke jendela yang lebih cocok disebut lubang panorama. Bagaimana tidak, gara-gara lubang sebesar jendela itu, kamar mandi ini serasa outdoor, karena bila aku julurkan kepalaku keluar, maka tepat di depan mata adalah sawah dengan pohon-pohon tinggi menjulang.

"Huuu ...."

Suara itu lagi.

Lebih mirip suara tangis tinimbang suara orang menyanyikan intro lagu.

"Rek ...?" Belum ada yang menyahutku. Meski masih kudengar suara tawa teman-teman di dalam kamar, namun di antara tawa renyah itu ada tawa yang tidak biasa.

"Ihi hi hi hi ...."

Setan setan setan. Itu setan! Suaranya makin nyaring dibanding keempat suara yang sudah kukenal.

"Ihi hi hi hi hi ...."

Dan belum menghilang!

Semakin nyaring, semakin jelas, semakin dekat, seolah berada tepat di belakang telingaku.

"Nggateli!" Sesegera mungkin aku membuka pintu. Mengumpat setidaknya mengurangi 23% kekhawatiran bagaimana kalau pintu ini tidak bisa dibuka.

Cklek

Terbuka!

Oke ... tenang, oke ... tarik napas .... Masuk kamar dan beraktinglah tak ada apa-apa. Toh kata mbah kalau suara 'itu' terasa dekat, berarti pertanda baik: 'dia' nun jauh di sana. Asal jangan sebaliknya. Matilah aku.

"Far?" Sepertinya di antara keempat lainnya memang Ins yang paling peka. Kerut keningnya seolah tahu kenapa aku terpaku begini.

"Lapo?" Mayang tak kalah penasarannya.

"Gak ... gak lapo-lapo." Aku tutupi wajah ketakutanku dengan handuk kecil yang sudah kugantung di sebelah cermin.

***

01.01

Angka cantik. Kantung mataku yang jelek. Padahal kami sudah sepakat 04.15 harus sudah siap. Apa mau dikata, memori otakku masih memutar ulang tawa melengking yang tidak ingin kutahu asalnya. Gelebak-gelebuk badanku. Mayang yang tepat di sampingku ini sampai sudah tunjukkan gelagat terganggu. Ah, dasar aku. Sungguh tidak sepadan dengan Arvin yang tidur sendiri di kasur kecil penuh dengan ketenangan. Sialan memang Ins. Aku kira dia akan menemani kami di sini. Kurangajar malah ditinggal kabur ke kamarnya sendiri. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Apa yang membuatnya tak mau sekasur dengan Arvin, oh, bukan. Apa yang membuatnya tak mau tidur di kamar ini.

02.56

Lumayan, hampir 2 jam setidaknya aku terlelap. Entah bagaimana ceritanya tadi aku bisa tidak sadar, yang jelas aku kepanasan. Perasaan aku sudah ambil posisi paling pinggir, masih saja dipenyet begini. Badanku sengaja kuhadapkan tembok, sabodoamat kalau-kalau ada apa-apa di sisi mereka.

***

01.33

Hah, akhirnya Farah tidak bergerak lagi. Kalau tahu dia tidur mirip ulet keket begitu, pasti tadi aku tidak memilih tidur di sebelahnya. Mau pindah, kepalang tanggung. Tidak pindah, kepala pusing.

01.43

Astaga! Baru juga sepuluh menit bisa molor, tidurku sudah diganggu lagi. Kakiku ditendang Arvin!

"Vin! He!"

Oh, Ins. Akhirnya dia di sini juga. Sebenarnya sejak lihat Farah keluar kamar mandi tadi aku jadi ingat cerita horor Ins dengan setting kamar atas katanya. Kalau bukan di sini, di mana lagi. Ingin kutanyai, tapi aku belum siap mendengar jawaban "ya". Ditambah dia sendiri tidak mau tidur di sini. Cuman kalau sekarang dia di sini, berarti kamar ini tidak sehoror yang aku takutkan. Sekarang aku bisa tidur tenang.

"Bangun, rek. Bangun. Pukul berapa ini he?" Suara Ins terdengar mendengung untukku yang tak rela membuka kelopak mata. "He, bangun. Dua lima puluh dua."

Dua lima puluh dua? Pukul tiga? Ya ampun. Nanti-nanti kan masih bisa.

Jdug!

"Geser po'o." Masih dengan suara Ins. Yang terdengar tepat di depan mataku yang masih belum kubuka ini.

Sialan. Dia malah merampas lahan kami yang sudah sempit.

Tapi kalau sudah bangun di jam mepet begini, memang lebih baik tidak tidur lagi.

"Ins, he malah tidur. Gak jelas arek iki. Kamu habis bangunin, tapi kamu tidur. Ayok wes siap-siap biar mereka nanti nyusul," kedua tanganku dengan badan masih menempel di kasur, mengoyak-ngoyak punggungnya yang membelakangiku.

"Hmmm ...." Ins duduk. Masih membelakangiku. Terlihat lunglai sekali tetapi masih berusaha berdiri. Dia berjalan ke arah pintu dan keluar begitu saja.

Kini giliranku berusaha duduk. Berusaha kuraih pula ponsel di bawah bokongku.

02.58

"May?" Suara Farah dari tidur menelungkupnya.

"Ha?"

"Itu tadi Ins ta?"

"Iya."

"Oalah, tak pikir gak jadi tidur sini."

"Mbo, tak pikir sisan kok."

Lima menit kami berusaha mengumpulkan nyawa, kami pun bergantian menggunakan kamar mandi. Rasanya tidak rela kantuk yang susah didapat harus sirna terpaksa. Tapi bagaimana lagi. Cuma dua kamar mandi di rumah ini, dan total kami berlima. Bertujuh malah kalau kedua adik Ins jadi ikut ke bandara. Jadi beberes terlebih dahulu adalah jawaban.

Lebih 45 menit berlalu, belum ada tanda-tanda kehidupan selain aku dan Farah. Bahkan Ins yang sejak tadi turun, tak kudengar jebyar-jebyur di kamar mandi bawah.

"Bangun, reeek! Banguuun!" Itu dia. Yang akhirnya jengkel lantaran kami tak bergegas ke bawah. "BAAA ... NGUUU— Lhah, kok sudah seger aja?" Ins mecungul dari balik pintu. Ya lebih 45 menit sejak dia turun tadi, kalau nggak seger memangnya kami mau ngapain di kamar mandi? Ngosek WC?

"Yaiyalah. Udah cuci muka dari tadi itu. Mau mandi dingin banget," celetuk Farah yang belum tuntas berurusan dengan sisir dan cerminnya.

"Dari tadi ... 'itu'?" Pertanyaan yang aneh dari Ins. Ya iya. Ya dari tadi itu.

"Ya dari tadi yang kamu bangunin itu," jelasku tak serantan. "Bangun, woy!" Semakin tak serantan melihat Frida dan Arvin masih terbang di atas awan.

"Kapan aku bangunin kalian?"

Sialan. Ins amnesia apa sudah memotong jatah tidur kami yang ...

Tunggu. Far ...?

Aku panggil Farah lewat tatapan ketakutan. (*)

Related Articles
Cerpen
Ibu Penunggu Lift Lantai 4 Apartemen Dekat Kuburan itu

Cerpen
Kamu Sudah Tahu?

Cerpen
Itu Bukan Mama!