Current Issues

Facebook dan YouTube Tindak Tegas Penyebar Hoaks Sinyal 5G-COVID-19

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 8th 2020

S

Selalu ada saja pihak yang membuat rusuh di tengah kondisi chaos. Saat pandemi COVID-19 begini, berbagai hoaks seputar virus ini menyebar dan membuat sebagian warganet takut. Salah satu hoaks yang baru-baru ini ramai diperbincangkan adalah pengaruh akses internet supercepat, 5G terhadap penyebaran virus korona.

Hoaks ini menyebutkan bahwa perangkat elektronik yang memancarkan sinyal seluler 5G adalah penyebab utama terciptanya virus COVID-19.

Meski kebohongan dalam berita hoaks tersebut sudah jelas, akan tetapi banyak yang termakan kebohongannya. Contohnya di Inggris. Banyak teknisi broadband internet yang mendapat ancaman publik. 

Muncul pula ajakan menghancurkan tiang pemancar sinyal internet karena takut terhadap penyebaran virus korona via perangkat elektronik. Padahal, jaringan internet adalah elemen krusial yang dibutuhkan dalam melawan penyebaran virus korona.

Teori konspirasi ini menyebar lewat media sosial dan memakan korban tanpa memandang kelas sosial. Keri Hilson, penyanyi berkebangsaan Amerika Serikat dengan 4,2 juta follower, juga ikut termakan hoaks. Bulan lalu dia mencuitkan beberapa tweet yang berisi tentang teori ini.

“Banyak orang yang berusaha memperingatkan kita tentang 5G bertahun-tahun lalu. Petisi, organisasi, hasil penelitian... yang kita alami saat ini (pandemi) adalah efek dari radiasi. 5G diluncurkan pertama kali di Tiongkok, 1 November 2019. Setelahnya, banyak orang yang mati,” demikian isi cuitannya.

Awal April ini, aktor Woody Harrelson juga mengeluarkan pendapatnya tentang kaitan antara 5G dan virus korona. Lewat akun instagram-nya, ia menyatakan belum memutuskan percaya atau tidak pada teori ini, namun ia menyebutnya menarik. Selain mereka, banyak pengguna YouTube dan grup Facebook yang secara khusus menyebarkan berita bohong soal teori konspirasi tersebut.

Menanggapi kondisi tersebut, Selasa (07/04) YouTube menyatakan akan menghapus semua konten video di platform-nya terkait isu 5G-virus korona dan melakukan ban akun selama 24 jam bagi akun yang mengunggah video tersebut.

“Kami berkomitmen untuk menyediakan informasi penting di masa-masa kritis seperti sekarang, termasuk dalam hal meningkatkan konten yang dapat dipertanggungjawabkan, mengurangi penyebaran disinformasi yang berbahaya dan menunjukkan panel-panel informasi berdasarkan data dari NHS dan WHO dalam rangka memberantas disinformasi,” tulis YouTube dalam pernyatannya.

“Saat ini, segala konten yang bertentangan dengan informasi yang benar tentang penyebaran COVID-19, sebagaimana dihelaskan oleh WHO dan otoritas kesehatan di tiap tempat, akan digolongkan sebagai pelanggaran kebijakan YouTube, termasuk teori konspirasi yang menyatakan bahwa COVID-19 menyebar lewat pancaran sinyal 5G.”

Langkah serupa juga diambil oleh Facebook.

“Kami akan mengambil langkah agresif dalam menghentikan penyebaran konten disinformatif dan berbahaya di platform, dan akan menghubungkan para pengguna dengan informasi yang akurat mengenai virus korona,” begitu bunyi sebagian pernyataan Facebook.

“Dalam kebijakan kami untuk mengatasi misinformasi yang berbahaya tersebut, kami akan mulai menghapus konten tentang klaim bohong mengenai kaitan antara COVID-19 dan teknologi 5G.”

Langkah Facebook tersebut menyusul post dari pengguna Facebook bernama Ben Mackie pada Maret lalu. Melalui statusnya, Mackie mengatakan bahwa virus korona hanyalah teknologi buatan Bill Gates untuk mengurangi populasi manusia di dunia melalui radiasi seluler.

Mackie juga menyebut bahwa vaksin yang tengah dikembangkan sata ini adalah perangkat chip yang akan ditanamkan di tubuh manusia. Klaim-klaim palsu tersebut sudah dibantah oleh FullFact dan para ahli lainnya.

“Cerita tentang kaitan 5G dengan virus korona ini tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan berpotensi menciptakan misinformasi dalam mengontrol penyebaran pandemi COVID-19,” ujar Dr. Jonathan M. Samet, Dekan Colorado School of Public Health.

5G adalah teknologi internet nirkabel supercepat yang beberapa waktu belakangan tengah dikembangkan penggunaannya di seluruh dunia. Kota-kota besar di Amerika Serikat sudah menggunakan jaringan 5G.

Selain Amerika Serikat, negara-negara lain di dunia yang telah menggunakan jaringan ini adalah Tiongkok, Korea Selatan, Jerman dan Inggris. Teknologi ini diharapkan akan membuka jalan menuju pengembangan teknologi lain, mulai dari mobil otomatis tanpa supir hingga ke teknologi augmented reality yang lebih realistis.

Meski klaim mengenai pengaruh 5G terhadap penyebaran virus korona adalah hoaks, masih ada banyak orang yang mencemaskan efek samping dari penggunaan teknologi ini terhadap kesehatan manusia. Sebab, salah satu komponen dalam teknologi 5G, yaitu gelombang milimeter, memancar dalam frekuensi radio yang sangat tinggi.

Sinyal tersebut tidak dapat memancar ke tempat yang terlau jauh, sehingga dibutuhkan menara pemancar sinyal yang dibangun di beberapa tempat sekaligus. Penggunaan sinyal seluluer ini ditakutkan akan dapat meningkatkan potensi penyakit kanker otak, kemandulan, sakit kepala hingga penyakit-penyakit lainnya kepada para penggunanya.

FDA dan FCC menyatakan, tidak ada yang perlu dicemaskan tentang hal tersebut, karena belum ada penelitian yang secara valid menyebutkan bahwa frekuensi sinyal radio dari perangkat seluler atau menara seluler dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan fisik.

Namun karena teknologi 5G juga baru dikembangkan, belum bisa disimpulkan sepenuhnya apakah 5G akan memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan manusia.

Tapi bagian terpentingnya adalah, yang jelas, sinyal 5G tidak menyebarkan virus korona.

 

Related Articles
Current Issues
Hoaks: Vaksin Covid-19 Penyebab Munculnya Varian Baru Corona

Current Issues
Covid-19 Global Tembus 10 Juta Kasus, Hampir 500 Ribu Penderita Meninggal Dunia

Current Issues
Biden Sebut Facebook Sebarkan Informasi Salah yang Berujung Pada Kematian