Current Issues

Hewan-hewan Ini Terapkan Physical Distancing Jika Kawanannya Sakit

Delima Pangaribuan

Posted on April 8th 2020

 
Pemerintah dan otoritas kesehatan berbagai negara menganjurkan --bahkan sedikit memaksa-- warganya untuk melakukan social distancing atau physical distancing demi menekan kemungkinan persebaran virus. Siapa sangka ternyata kita nggak sendirian loh! Selain manusia, rupanya ada sejumlah binatang yang juga melakukan physical distancing. Bahkan bukan cuma kali ini saja, tapi setiap ada sebagian dari kawanan mereka yang sakit.
 
Hal ini diungkap sama Dana Hawley, Professor of Biological Science Virginia Tech dan Julia Buck, seorang asisten profesor biologi di University of North Carolina Wilmington. Melansir The Conversation, mereka menyatakan bahwa sejumlah hewan bisa mendeteksi apakah ada wabah penyakit di antara mereka. Hewan-hewan itu antara lain monyet, serangga, lobster, dan burung.
 
Hewan-hewan ini selama proses evolusi telah mempelajari bahwa physical distancing efektif untuk bertahan hidup ketika ada wabah. Hampir sama seperti manusia, hewan-hewan ini menjaga jarak dari salah satu anggota kawanan mereka yang sakit kecuali jika itu keluarga sendiri. 

 
(Yahoo!)
 
Hawley dan Buck mempelajari bahwa sebenarnya ada banyak variasi perilaku yang dilakukan binatang dalam menghadapi wabah. Tapi physical distancing cenderung paling banyak dilakukan, apalagi kalau penyakitnya menular sangat cepat. Hewan-hewan yang hidup dalam kawanan seperti ini memang paling rentan mengalami penularan penyakit secara cepat.
 

Misalnya semut. Bayangin aja, semut kalau ngumpul gimana ramainya. Tapi, mereka rupanya juga bisa tahu kalau ada semut yang sakit dan penyakitnya berbahaya. Menurut Hawley dan Buck, semut-semut ini bakal langsung membuat mekanisme pertahanan. Di mana mereka akan mengkarantina semut yang sakit dan mengamankan semut-semut penting, terutama ratunya. 
 
Semut-semut sehat lainnya otomatis akan menyesuaikan perilaku mereka dengan wabah itu. Mereka akan saling menjaga jarak satu sama lain untuk mencegah penularan. Jadi kalau kebetulan kita lihat ada semut yang jalannya jauh-jauhan dan nggak bergerombol seperti biasa, mungkin ada salah satu dari mereka yang sakit.
 
Physical distancing juga diamati sama kedua ahli biologi ini pada kawanan monyet. Lebih spesifik, monyet jenis Mandrills. Sama seperti semut, mereka juga menerapkan physical distancing ketika ada salah satu yang sakit. Bedanya, monyet punya kecenderungan untuk tetap dekat dengan monyet yang sakit jika itu anggota keluarganya.
 
Mereka masih berdekatan karena keluarga yang sehat ingin merawat anggota keluarganya yang sakit. Tapi kalau itu bukan keluarganya sendiri, Mandrills nggak akan dekat-dekat dan menerapkan physical distancing. Memang jadi ada potensi keluarga bakal tertular. Tapi menurut Hawley dan Buck, perilaku itu dilakukan untuk meneruskan gen-gen keluarga ke keturunan mereka. Kalau sudah ada satu yang sakit di keluarga, diharapkan anak-cucu kemudian bakal lebih kebal dari penyakit itu.
 
Kalau kelelawar sedikit berbeda lagi. Mereka juga tetap merawat anggota kawanan yang sakit, keluarga atau bukan. Hanya saja, kelelawar tetap mengutamakan jaga jarak. Mereka merawat teman yang sakit dengan menyediakan makanan, jadi yang sakit nggak usah cari makan sendiri ke luar. Setiap ngasih makanan, yang sehat akan berusaha untuk nggak kontak dengan yang sakit.
 
Lewat penelitian ini, Hawley dan Buck mau menunjukkan kalau physical distancing itu memang mekanisme alami yang dilakukan makhluk hidup. Bukan cuma manusia. Memang menjalankan physical distancing merepotkan dan sering bikin bosan. Tapi di tengah situasi seperti ini, diharapkan kita bisa mentoleransi ketidaknyamanan itu demi mencegah persebaran. Hewan aja physical distancing, masa kita enggak? (*)
Related Articles
Current Issues
Kematian Akibat Covid-19 Tembus Sejuta, Apa yang Harus Dilakukan?

Current Issues
FYI, Batuk Dapat Menyebarkan Covid-19 Lebih Dari 1,8 Meter Loh

Interest
Dukung Physical Distancing, Seventeen dan NU'EST Kreasikan Logo Baru