Current Issues

Warga Norwegia Bangun Hotel untuk Spesies Burung yang Terancam Punah

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 7th 2020

Setiap tahunnya, kunjungan turis ke Norwegia dan negara-negara arktik lainnya terus ramai. Menyambut datangnya tahun ini pun, pegiat pariwisata di utara Norwegia sibuk membangun hotel demi mengantisipasi kunjungan 2,3 juta turis yang umumnya datang untuk melihat pemandangan aurora Borealis dan gletser yang hampir punah.

Namun selain manusia, kota-kota paling Utara di Norwegia juga belakangan ramai dikunjungi "turis" dari kalangan burung. Mereka adalah spesies camar Kittiwakes berkaki hitam yang populasinya di alam bebas saat ini berstatus "rawan".

Burung Kittiwakes biasanya bersarang di tebing tepi pantai dan jarang terbang di atas daratan. Namun perubahan iklim yang melanda bumi bagian utara beberapa waktu belakangan turut mempengaruhi ekosistem tempat tinggalnya. Di antaranya mulai meningkatnya suhu laut dan meningkatnya intensitas terjadinya badai. Kondisi-kondisi itu membuat Kittiwakes makin sulit menetaskan telurnya.

Burung-burung langka ini pun kini mencari suaka di tempat-tempat yang lebih aman. Mereka banyak bermigrasi ke Kota Tromsø dan kota-kota lain di sepanjang pantai utara Norwegia. Kittiwakes kerap membangun sarang di sekitar pusat perbelanjaan dan perkantoran, serta mengganggu penduduk sekitar dengan suara mereka yang berisik.

Tone Kristin Reiersten, ekolog pengamat burung laut dari Institut Penelitian Alam Norwegia di Tromsø mengatakan bahwa invasi burung Kittiwakes ke pemukiman warga adalah bentuk adaptasi terhadap perubahan lingkungan tempat tinggalnya. “Sarang-sarang Kittiwake di tebing-tebing laut, kini kosong,” ujarnya. Jumlah populasi burung Kittiwakes kaki hitam merosot hingga tiga perempat dari total jumlahnya di tahun 1980.

Spesies burung laut di seluruh dunia saat ini memang tengah menghadapi krisis. Sebanyak 70 persen populasi burung laut telah hilang dari alam dalam 70 tahun terakhir. Penyebab terbesarnya adalah overfishing. Selain itu burung juga banyak kehilangan habitat dan terganggu aktivitas manusia lain yang mempengaruhi lingkungan.

Wilayah Kutub Utara adalah daerah yang paling terdampak, dan burung Kittiwake kaki hitam adalah spesies yang paling rentan di antara semua burung laut. Spesies Kittiwake kaki hitam kini berstatus ‘rawan’ (vulnerable) dalam daftar merah IUCN. Dalam kondisinya seperti ini, para ilmuwan memprediksi spesies ini dapat punah di Norwegia dalam 40 tahun mendatang jika tidak diambil langkah penyelamatan.

Dengan kondisi seperti saat ini, tempat paling aman bagi burung Kittiwake kaki hitam untuk berkembang biak saat ini sebenarnya bangunan-bangunan di sekitar pemukiman manusia. Tapi, hal tersebut berseberangan dengan sifat alami burung ini yang "pemalu" dan tidak suka berinteraksi dengan manusia.

Migrasi burung Kittiwake kaki hitam ke pemukiman warga sendiri sebenarnya berawal sejak enam tahun lalu. Diawali dengan 10 pasang burung yang membangun sarang di gedung-gedung kota. Kini, ratusan burung kittiwake bersarang di pusat kota Tromsø.

Pembangunan hotel yang gencar untuk turis di sekitar Tromsø ternyata menginspirasi Reiertsen dan timnya untuk membangun "hotel" juga khusus untuk burung-burung eksotis ini. Itu ia lakukan demi mencegah konflik horizontal antara manusia dengan burung Kittiwake kaki hitam.

Mengingat burung ini mengeluarkan suara yang sangat berisik, terutama sepanjang musim kawin di saat Tromsø disinari matahari selama 24 jam. Untuk mencegah burung ini bersarang, banyak orang yang sengaja memasang jaring atau kawat berduri di sepanjang bangunan yang dapat melukai, bahkan membunuh burung Kittiwake. Sebagian orang bahkan mengancurkan sarang dan telur burung ini.

Hal ini yang menginisiasi Reiertsen dan rekan-rekan penelitinya membuat "hotel" untuk Kittiwake. "Hotel" yang pertama dibangun memanfaatkan gedung kosong di dekat dermaga salah satu pelabuhan di Kota Tromsø.

Gedung tersebut memang tidak tampak terlalu bagus dari luar, tapi terdapat banyak kisi-kisi dan bahan-bahan yang dibutuhkan burung Kittiwake untuk membangun sarang di dalamnya. Reiertsen dan rekannya juga memasang pelantang suara yang memutar panggilan kawin burung Kittiwake. Tujuannya untuk memancing burung-burung ini agar bersarang di hotel tersebut.

Butuh waktu untuk mempopulerkan solusi yang tidak biasa ini kepada warga kota. Tahun lalu saat hotel ini pertama dibuka, burung-burung Kittiwake tidak membangun sarang di hotel ini, tapi justru terbang ke kota dan membuat kekacauan di banyak tempat.

“Musim panas tahun lalu, ada ratusan dari mereka yang bertelur di sepanjang bangunan dermaga kami,” tukas Mats Forsberg, pemandu wisata perahu di wilayah Tromsø.

Forsberg sendiri tidak menggubrik keberadaan burung ini, tapi ia paham mengapa banyak orang yang merasa terganggu. “Mereka berak di segala tempat," katanya.

Kejadian tersebut memberi pelajaran lain kepada para ilmuwan. Tahun ini, terutama karena larangan bepergian selama pandemi Covid-19, para ilmuwan optimis kawanan burung Kittiwake akan membangun sarangnya dengan lancar di "hotel" yang mereka buat. Hotel burung yang baru juga telah dibuka di Berlevåg.

“Kami berharap bisa menemukan solusi agar Kittiwake dan manusia dapat hidup berdampingan dengan harmonis, sehingga kita bisa terus memiliki spesies ini di lautan,” ujar Reiertsen. Berikutnya, ia dan timnya berencana akan melibatkan pembangunan hotel burung ini ke dalam rencana pembangunan kota-kota di sepanjang pantai utara Norwegia yang berkembang dengan pesat.(*)

Related Articles
Current Issues
Ilmuwan Oxford Klaim Vaksin Covid-19 Akan Siap September Mendatang

Current Issues
83 Persen Penyintas Covid-19 Lebih Kebal dari Infeksi, tapi Masih Tularkan Virus

Current Issues
Sirkulasi Udara di Pesawat Lebih Aman dari Coronavirus Dibanding di Restoran