Current Issues

8 Hal yang Tidak Akan Sama Lagi Setelah Pandemi Covid-19 Berlalu

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 6th 2020

Pandemi coronavirus di seluruh dunia membuat umat manusia mau tidak mau harus membiasakan diri dengan 'kondisi normal' yang baru. Kondisi yang disebut ‘normal’ ini meliputi karantina wilayah, self-quarantine, physical distancing dan work from home.

Perubahan pola aktivitas manusia selama pandemi COVID-19 tentu saja akan mempengaruhi banyak kebiasaan pada masa mendatang. Apa saja? Berikut rangkumannya.

 

 

1. Kurangnya Aktivitas Bepergian

Petugas medis menyemprotkan disinfektan di gerbong kereta (foto:www.businessinsider.sg)

Karantina wilayah di berbagai belahan bumi dilakukan untuk mencegah penyebaran coronavirus. Langkah ini membuat banyak agen perjalanan menutup aktivitas bisnisnya untuk sementara. Ribuan pesawat, bus dan kereta dikandangkan. Rute perjalanan bus dan kereta juga dikurangi dan dibatasi waktunya. Tidak terhitung banyaknya rencana perjalanan yang dibatalkan.

Akan tetapi, pembatasan perjalanan mengungkap fakta baru. Bahwa keberadaan teknologi informasi ternyata dapat mengatasi jarak yang harus ditempuh dengan melakukan perjalanan. "Menurutku, penggunaan akses jalan, rel kereta api dan bus, tentu saja, akan berkurang setelah krisis ini berakhir," kata President of The Automobile Association, Edmund King kepada BBC.


2. Bekerja Remote dari Rumah

Ilustrasi seseorang yang melakukan remote-working (foto:www.tirto.id)

Sebagian orang cukup beruntung karena memiliki pekerjaan yang bisa di-remote dari rumah, Keberadaan aplikasi tele-conference membuat remote-working menjadi lebih efisien dan terpercaya.

Bekerja secara remote bukan hanya dapat melipat jarak, tetapi juga meningkatkan efisiensi waktu. Tanpa melakukan perjalanan kantor, seorang karyawan akan memiliki waktu ekstra untuk beristirahat atau berkumpul bersama keluarga.


3. Sangat Tergantung Jaringan Internet

Ilustrasi wilayah rural-urban dengan internet terbatas (foto:www.pewresearch.net)

Internet yang lancar adalah penyelamat bagi siapa pun yang terpaksa tinggal di rumah sepanjang hari. Akan tetapi, tidak semua orang beruntung memiliki aksesibilitas internet yang memadai.

Seperti penduduk di pinggiran kota, misalnya. Ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah besar. Baik bagi pemerintah maupun perusahaan penyedia layanan internet. Mengingat internet telah menjadi kebutuhan wajib di era digital.


4. Kualitas Udara Lebih Baik

Peta kualitas udara yang membaik setelah lockdown di sejumlah wilayah (foto:www.sciencealert.com)

Salah satu manfaat terbesar dari karantina wilayah adalah peningkatan kualitas udara secara drastis di berbagai wilayah perkotaan di dunia. Kondisi ini terjadi karena mobilitas masyarakat dunia yang berkurang. Bukan hanya transportasi umum, kendaraan pribadi pun banyak yang menganggur. Sehingga polusi di wilayah perkotaan berkurang.

Polusi udara selama ini memang selalu menjadi masalah besar bagi kota-kota berpenduduk padat. Pandemi coronavirus justru menunjukkan cara terbaik untuk mengurangi polusi adalah dengan meminimalisasi penggunaan kendaraan bermotor. Tugas berikutnya bagi semua orang adalah untuk mempertahankan kondisi ini hingga krisis berlalu nantinya.


5. Berkurangnya Penggunaan Uang Tunai

Ilustrasi uang kartal rupiah (foto:www.dream.co.id)

Uang tunai memang tidak lagi menjadi primadona bagi sebagian kalangan. Keadaan tersebut semakin didukung dengan potensi penyebaran coronavirus lewat transaksi uang kertas. Penggunaan uang elektronik pun digalakkan lagi masyarakat.

Meski efisien dan minim risiko penyebaran virus, pengalihan transaksi menjadi cashless tentu saja akan membawa kesulitan tersendiri bagi generasi tua. Juga untuk masyarakat yang tidak memiliki akses mumpuni kepada gawai elektronik.


6. Belanja di Warung dekat Rumah

Ilustrasi warung eceran (foto:www.themorningnews.org)

Toko-toko besar, khususnya supermarket, mengalami lonjakan jumlah pembeli yang tidak terduga pada masa awal pandemi Covid-19. Media sosial selama ini diramaikan dengan video atau foto tentang kondisi supermarket dan minimarket yang kehabisan stok barang karena ludes digasak panic-buyer

Di sisi lain, saat toko-toko besar kehabisan stok barang, banyak warung-warung kecil dan UMKM yang masih memiliki banyak stok untuk dijual. Hal ini mungkin perlu dilirik sebagai solusi terbaru dalam berbelanja selama masa pandemi.


7. Solidaritas Masyarakat

Warga Florida memberikan tepuk tangan kepada pekerja media yang berangkat kerja (foto:www.usatoday.com)

Masyarakat cenderung terpecah dalam fragmen-fragmen politik. Karena perbedaan pandangan dan junjungan politik. Tapi setelah pandemi Covid-19 melanda, kecenderungan ini perlahan digantikan dengan urgensi untuk saling tolong-menolong, mendukung, dan care satu sama lain.

Berbagai hal inspiratif yang dilakukan masyarakat dunia kerap tertangkap di media sosial. Mulai dari memberikan tepuk tangan bagi tenaga medis yang berangkat kerja, aksi sukarelawan, hingga penggalangan dana untuk membantu penyediaan APD. Meski kondisi pandemi mengharuskan semua orang mengisolasi diri di tempat tinggal masing-masing, pada kenyataannya, keadaan ini justru menyatukan banyak orang.


8. Intervensi Pemerintah

Bendera negara-negara di dunia (foto:www.thinkglobalhealth.org)

Selain negara-negara Eropa, Indonesia juga turut menggelontorkan banyak dana demi menyokong kembali perekonomian yang menurun karena dampak coronavirus. Dana tersebut terutama digunakan untuk membiayai pengadaan APD untuk tenaga medis.           

Dr. Doug Parr, kepala ilmuwan di Greenpeace, Inggris, menyatakan bahwa selama masa krisis, apa pun reaksi yang diambil pemerintah adalah pilihan politis, dan satu-satunya yang mencegah pemerintah dari mengambil sebuah langkah adalah keinginan pemerintah itu sendiri.

"Kita bisa melewati krisis ini. Kita dapat mendorong pemerintah untuk melindungi planet ini dan menempatkan ekonomi pada jalur yang lebih aman dan ramah lingkungan. Karena kita tahu bahwa sejatinya mereka memiliki kekuatan untuk melakukannya."


Artikel Terkait
Current Issues
Kehidupan Warga Tiongkok Pasca Lockdown Bergantung pada Label Hijau Ini

Current Issues
Menilik 5 Wabah Terparah Sepanjang Sejarah dan Bagaimana Mereka Diakhiri

Current Issues
Ilmuwan Manfaatkan AI untuk Deteksi Pasien Covid-19 yang Butuh Ventilator