Current Issues

Seberapa Besar Pengaruh Musim Panas Terhadap Penyebaran Virus Corona?

Dwiwa

Posted on April 6th 2020

 

Musim Panas sebentar lagi tiba. Harapan agar SARS-Cov-2 (virus penyebab Covid-19) segera lenyap pun semakin besar. Apalagi, beberapa literatur menyebutkan jika virus yang telah menginfeksi lebih dari 1 juta orang di dunia ini sensitif terhadap panas.

Sebuah penelitian di Inggris terhadap virus Corona jenis lain, yang menyebabkan pilek di Inggris, menunjukkan adanya pola musiman. Puncak kasus terjadi di musim dingin dan menghilang di musim semi.

Menariknya, kejadian ini terjadi nyaris bersamaan dengan wabah flu.  Epidemi flu cenderung mereda seiring dengan berakhirnya musim dingin. Sementara di musim panas, hanya sedikit jumlah virus Corona yang ditransmisikan. Apakah mungkin hal ini juga berlaku pada virus Corona penyebab Covid-19?

Dikutip dari The Guardian, baru-baru ini para ilmuwan di University College London mempublikasikan hasil penelitian mereka terhadap virus Corona yang umum seperti HcoV-NL63, HcoV-OC43 dan HcoV-229.

Dari analisis sampel yang telah dikumpulkan bertahun-tahun, ditemukan jika infeksi coronavirus dalam jumlah banyak terjadi di bulan Februari. Penelitian lain juga memperlihatkan coronavirus bersifat musiman dalam iklim sedang. Meski begitu, mereka masih belum meyakini apakah penelitian yang mereka lakukan ini juga berlaku untuk Virus Corona jenis baru.

“Ini adalah virus jenis baru, kami tidak tahu apakah juga memiliki pola musiman juga berlaku di musim panas mengingat adanya kerentanan yang tinggi di masyarakat. Karena alasan ini, saran otoritas kesehatan menjadi sangat penting untuk kita lakukan,” ujar Rob Aldridge, penulis utama dalam penelitian tersebut.

Pendapat itu juga didukung oleh ilmuwan lain. Mereka memperingatkan jika ini adalah agen infeksi baru sehingga orang-orang masih belum memiliki kekebalan tubuh yang dibutuhkan. Akibatnya, virus dapat tetap menyebar meski sudah masuk awal musim panas.

Meski pun mereka meyakini jika musim tetap akan berperan dalam proses penyebaran virus ini, tetapi mungkin tidak akan terlalu besar. “Jika dibandingkan dengan melakukan social distancing, efek ini jauh lebih kecil. Ini mungkin memiliki efek tetapi tidak akan menggantikan isolasi diri,” ujar ahli virus Michael Skinner di Imperial College London.

Meskipun cuaca panas, cara paling efektif untuk menghindari tertular virus adalah melakukan pgysical distancing alias jaga jarak. “Ini bukan Perang Dunia, dan tidak ada keajaiban yang bisa membuat kita keluar dari situasi ini. Kita harus mengalahkan virusnya sendiri,” ujar Ben Neuman dari Universitas Reading.

Tidak hanya perilaku virus, penelitian lain menunjukkan jika musim semi juga membuat sistem kekebalan tubuh manusia mengalami perubahan. “Sistem kekebalan tubuh manusia menunjukkan ritme harian, tetapi masih belum banyak diketahui variasinya dalam setiap musim,” ujar ahli imunologi Natalie Riddel.

Bersama dengan beberapa peneliti di Surrey and Columbia Universities, Natalie tengah melakukan penelitian terhadap perubahan sistem kekebalan tubuh manusia pada musim dan waktu yang berbeda. Sampel biologi diambil dari relawan di musim dingin dan titik balik musim panas dan musim semi dan musim gugur. 

Temuan awal menunjukkan jika bagian dari sel darah putih yang berperan penting dalam kekebalan tubuh manusia mengalami peningkatan pada waktu tertentu dalam sehari. Hal ini menunjukkan jika sistem memberikan respon yang berbeda di waktu yang berbeda-beda. Contohnya, sel B yang menghasilkan antibodi mengalami peningkatan pada malam hari.

Namun, dampak dari perubahan musim terhadap ritme sel masih dalam penelitian. “Hasilnya akan sangat penting. Mengetahui kerentanan tubuh kita terhadap penyakit dan virus sepanjang tahun akan menginformasikan waktu vaksinasi yang tepat dan akan membantu kita memberantas infeksi,” ujar kepala penelitian Micaela Martinez dari Universitas Kolombia.

Jadi meskipun musim panas bisa saja memiliki efek terhadap penyebaran Covid-19, itu tidak lantas membuat kita lengah. Penerapan physical distancing, menggunakan masker setiap keluar rumah, dan rajin mencuci tangan dengan sabun masih dinilai memberikan efek yang lebih baik untuk mencegah penularan.

Artikel Terkait
Current Issues
Musim Panas Datang, Akankah Virus SARS-Cov-2 Jadi Tak Berdaya?

Current Issues
Bilik Disinfektan Sedang Populer, Amankah untuk Kesehatan?

Current Issues
Coronavirus Bisa Hidup dan Menular di Air, Jika...