Current Issues

Ilmuwan Manfaatkan AI untuk Deteksi Pasien Covid-19 yang Butuh Ventilator

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 5th 2020

 

Peneliti komputer dari Universitas Copenhagen, Denmark, baru-baru ini mulai memanfaatkan teknologi AI (artificial intelligence) untuk memperkiran manakah di antara pasien penderita Covid-19 yang paling membutuhkan ventilator untuk perawatan intensif.

Sistem baru yang dikembangkan ini dapat membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi gejala serius yang dialami oleh pasien. Bahkan lebih lanjut, pemanfaatan AI dapat membantu pihak rumah sakit dalam memperkirakan berapa banyak unit ventilator yang dibutuhkan di masa mendatang.

“Kami sudah memahami bahwa ada faktor-faktor tertentu yang meningkatkan risiko (Covid-19), seperti faktor umur, perokok, asma dan penyakit jantung, tapi ada faktor-faktor lainnya yang juga perlu diperhitungkan,” ujar Espen Solem, kepala bagian fisiologi Rumah Sakit Bispebjerg and Frederiksberg, Denmark.

Menurut Solem, ada banyak anak muda penderita Covid-19 yang membutuhkan ventilator, dan orangtua yang tidak. "Nah, di sinilah penggunaan komputer dapat memetakan pola dari gejala-gejala yang diderita pasien, sehingga kami bsia mengetahui penyebabnya,” ungkapnya.

Kesulitan tenaga medis dalam memprediksi kebutuhan ventilator berangkat dari fakta bahwa setiap pasien penderita COVID-19 memiliki gejala yang sangat beragam. Itu artinya, ada begitu banyak data yang perlu dianalisis untuk dapat menyimpulkan mana pasien yang berpotensi kritis di masa mendatang, dan penggunaan sistem komputer dapat mempercepat proses tersebut.

Sistem yang dikembangkan ilmuwan Denmark ini mulanya akan menganalisa hasil rontgen, hasil tes kesehatan, catatan rekam medis dan tahap pengobatan yang sudah dilakukan setiap orang pasien. Semua data tersebut akan di-input ke dalam superkomputer, yang kemudian akan menyimpulkan pasien mana yang akan membutuhkan ventilator di masa mendatang.

Para ilmuwan menargetkan sistem ini rampung dikerjakan dalam waktu dekat, sehingga dapat digunakan untuk mengatasi gelombang pertama pandemi Covid-19.

Jika sistem tersebut belum sempat diselesaikan hingga pandemi berakhir, mereka akan menyiapkan sistem tersebut untuk digunakan menghadapi gelombang pandemi Covid-19 berikutnya yang diperdiksi akan menghantam Denmark musim gugur mendatang. Sistem serupa juga telah dikembangkan di Tiongkok.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Kehidupan Warga Tiongkok Pasca Lockdown Bergantung pada Label Hijau Ini

Current Issues
Mengenal "Pasar Basah" yang Diduga Menjadi Titik Awal Persebaran Coronavirus

Current Issues
Software Denmark Ini Bisa Prediksi Tingkat Risiko Kematian Pasien Covid-19