Interest

On This Date: 5 April 1815, Gunung Tambora Meletus dan Bikin Kacau Kondisi Dunia

Ridho

Posted on April 5th 2020

Pada tanggal ini, 205 tahun yang lalu dunia dibuat gempar oleh sebuah fenomena alam. Terutama daerah Eropa yang saat itu memasuki musim semi. Cuaca tak wajar terjadi, ditandai hujan lebat disertai badai.

Lazimnya, hujan disertai badai sudah tidak ada lagi ketika memasuki musim semi yang kaya sinar matahari. Cuaca ekstrem yang sedang melanda bumi saat itu adalah akibat meletusnya sebuah gunung api yang letaknya di bagian dari Pulau Sumbawa, Gunung Tambora. Peristiwa itu terjadi 5 April 1815.

Para sejarawan menganggap peristiwa itu sebagai letusan gunung berapi dengan dampak langsung yang paling dahsyat. Sebab, hampir 100 ribu orang tewas setelahnya.

Menurut Gillen D’Arcy Wood, penulis buku Tambora: The Eruption That Changed the World, selama beberapa tahun berikutnya, korban meninggal semakin banyak akibat efek sekunder yang menyebar ke seluruh dunia.

"Apa yang terjadi setelah Gunung Tambora meletus adalah tiga tahun perubahan iklim. Dunia semakin dingin dan pola cuaca berubah. Terjadi kegagalan panen dan kelaparan, mulai dari Asia, Amerika Serikat, hingga Eropa," kata Wood, dilansir dari laman National Geographic.

Thomas Stamford Raffles yang kala itu memerintah Jawa sejak 1811, juga mencatat peristiwa letusan dahsyat tersebut dalam memoarnya.

Ia mencatat letusan pertama terdengar sampai Jawa pada tanggal 5 April. Setiap 15 menit terus terdengar sampai hari-hari berikutnya. Mulanya, suara ini dianggap suara meriam hingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Yogyakarta, yang mengira pos terdekat sedang diserang.

Suara gemuruh ini tidak hanya terdengar sampai ke Jawa, tetapi juga sampai di Ternate dan Maluku. Letusan ini terus terjadi dan kian membesar. Yang paling dahsyat terjadi pada tanggal 10 April.

Laporan yang dihimpun William & Nicholas Klingaman berjudul 'Tambora Erupts in 1815 and Changes World History'. Menyebut hampir seluruh isi perut gunung dimuntahkan, yakni magma, abu yang memancar, dan batuan cair yang menembak ke segala arah.

Erupsi besarnya berlangsung sekira satu jam, begitu banyak abu dan debu terlempar berada di uadara hingga menutupi pandangan terhadap gunung.

Dalam skala kekuatan erupsi gunung berapi, Volcanic Explosivity Index (VEI), letusan Tambora menempati VEI 7 atau tertinggi kedua dari puncak VEI 8.

Menurut Volcano Discovery, sekitar 50 sampai 150 kilometer kubik magma keluar dari perut bumi melalui Tambora yang menghasilkan kubah kolosal setinggi hampir 40 sampai 50 kilometer. Hal itu membawa abu dalam jumlah besar di angkasa.

Oleh karena dahsyatnya letusan ini, Gunung Tambora yang mulanya menjulang setinggi 4.300 mdpl menjadi terpangkas sampai tersisa setinggi 2.772 mdpl. Ledakan terdengar hingga 2.600 kilometer jauhnya, dan abunya jatuh setidaknya sejauh 1.300 kilometer.

Pada 10 April itu juga, tsunami menerjang berbagai pulau di Indonesia sebagai dampak dari letusan Tambora. Tercatat, di wilayah Sanggar, tsunami menerjang setinggi 4 meter.

Di Besuki, Jawa Timur, tsunami setinggi 2 meter terjadi sebelum tengah malam. U.S. Geological Survey mencatat korban tewas diperkirakan sebanyak 4.600 jiwa.

Bagi bumi, letusan Tambora berdampak terhadap perubahan iklim global. Lantaran sulfur dioksida yang turut lepas ke lapisan stratosfer. Musim semi tahun 1815 menjadi terganggu karena debu-debu dan kandungan yang dibawa tertiup angin bergeser ke langit Eropa, Amerika, dan lainnya.

Suhu global menurun sekitar 0,4 sampai 0,7 derajat celsius akibat kabut kering yang menyelimuti bumi. Pertanian yang seharusnya mendapat paparan sinar matahari di musim semi menjadi gagal panen di India. Dan timbul wabah kolera di Bengal pada 1816. 

Gagal panen karena suhu dingin dan hujan lebat melanda Inggris dan Irlandia. Kelaparan merata di utara dan barat daya Irlandia karena gagal panen gandum, oat, dan kentang.

Jerman pun dilanda krisis. Harga pangan meningkat akibat kelangkaan baham baku. Demonstrasi menjadi pemandangan umum di depan pasar dan toko roti, diikuti kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan yang menjadikan kelaparan terburuk di Eropa pada abad ke 19.

Alasan lain mengapa letusan Tambora begitu mengerikan adalah, gunung berapi itu termasuk dekat garis khatulistiwa. Ketika meletus gunung dapat menyebabkan perubahan cuaca secara global karena letusannya yang sangat kuat bisa melepaskan gas ke stratosfer.

Gas tersebut terperangkap karena tidak bisa dibawa oleh hujan. Lalu gas itu melintasi garis khatulistiwa dan menyebar hingga ke kutub, akhirnya mengurangi jumlah panas yang melewati stratosfer dari matahari.

Ini tidak hanya mempengaruhi cuaca, tapi juga ekosistem sekitar. Dengan letusan Tambora, membuat suhu menjadi lebih dingin.

Hingga saat ini, sejarawan setuju bahwa Tambora menyebabkan kematian paling cepat. Bahkan letusan Gunung Krakatau yang lebih populer dibanding Tambora, ternyata memiliki daya letusan lebih lemah dari Tambora. Wih ngeri ya? Begitulah salah satu sejarah dunia yang lahir dari peristiwa di Indonesia hari ini.(*)

Related Articles
Interest
Tak Hanya Nyawa, Pandemi Covid-19 Juga Bisa Bunuh Privasi

Interest
8 Museum Mobil Ini BIsa Kamu Kunjungi Secara Virtual Selama Pandemi

Interest
Coronavirus Lumpuhkan Industri Otomotif Dunia