Current Issues

Peneliti MIT Sebut Jarak 2 Meter Masih Belum Aman dari Penularan Coronavirus

Dwiwa

Posted on April 3rd 2020

 

Sejak virus Corona merebak ke berbagai dunia, kebijakan untuk melakukan physical distancing dijadikan sebagai salah satu upaya pencegahan non medis yang dianggap efektif.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pun menyarankan setidaknya harus selalu menjaga jarak 2 meter jika bertemu dengan orang lain.

Seorang peneliti dari Massachusetts Institute of  Technology (MIT), Lydia Bourouiba percaya jika ini tidak cukup. Dalam salah satu penelitian terbarunya, Lydia menyebut jika droplet (percikan cairan tubuh) bisa “terbang” hingga jarak 27 kaki atau sekitar 8 meter.

“Harus segera ada revisi terhadap pedoman yang saat ini diberikan oleh WHO dan CDC terkait perlunya peralatan pelindung, khususnya untuk para tenaga medis di garis depan,” tutur Lydia kepada USA Today.

Lydia sendiri selama bertahun-tahun telah menghabiskan waktunya untuk meneliti dinamika pernafasan seperti batuk dan bersis di Laboratorium Dinamika Cairan dalam Transmisi Penyakit.

Penelitian yang dilakukan oleh Lydia menyerukan adanya langkah-langkah yang lebih baik dalam melindungi tenaga medis dan sebisa mungkin menjaga jarak lebih jauh dari pasien terinfeksi yang sedang bersin atau batuk. Dia menyebut jika pedoman saat ini berdasar pada “droplet besar” sebagai metode penularan virus dan droplet tersebut hanya bisa menempuh jarak tertentu.

Dalam Journal of The American Medical Association yang diterbitkan minggu lalu, Lydia menyebutkan jika kecepatan pernafasan dapat mencapai 33 hingga 100 kaki per detik dan masker N95 yang selama ini digunakan tidak diuji untuk kemungkinan karakterisitik emisi pernafasan seperti ini.

Menurut Lydia, gagasan soal droplet yang menabrak bagian depan masker dan berhenti di sana dan kemudian kita aman tidak didasarkan pada bukti yang ditemukan dalam penelitiannya. Selain itu, juga tidak disertai bukti yang dimiliki terkait transmisi Covid-19.

Lydia berpendapat jika “awan gas” yang dapat membawa droplet dalam berbagai ukuran akan dikeluarkan ketika seseorang batuk, bersin, bahkan menghembuskan nafas. Awan ini hanya akan sedikit berkurang ketika orang menutup mulut dengan siku saat batuk dan bersin.

“Dalam sistem bagaimana menghembuskan nafas dikeluarkan, poin inti yang kami tunjukkan adalah bahwa ada awan gas yang membawa droplet dalam semua ukuran, bukan ‘besar’ lawan ‘kecil’ atau ‘droplet’ lawan ‘aerosol’,” jelasnya.

 

Lalu Seberapa Jauh virus Corona ini bisa “terbang” sebelum mereka tidak lagi menjadi ancaman?

 

Ahli penyakit infeksi di University of Washington School of Medicine, Profesor Paul Pottinger menyebut jika yang terpenting adalah seberapa jauh kuman ini bisa “terbang” sebelum akhirnya tidak lagi menjadi ancaman.

“Semakin kecil partikel kuman, semakin minim pula risiko menginfeksi seseorang yang menghirupnya atau kemungkinan mereka menempel di hidung dan mulut,” ujarnya.

Menurut Paul, aturan jaga jarak 2 meter yang selama ini disosialisasikan berdasar pemikiran bahwa ancaman terbesar dari coronavirus adalah droplet yang besar seperti liur, ingus, dan ludah. Ukuran droplet yang besar membuat efek gravitasi masih berpengaruh.

Adanya efek gravitasi ini biasanya membuat droplet-droplet besar yang lebih infeksius ini akan jatuh ke tanah dalam jarak 2 meter setelah keluar dari tubuh seseorang. Menanggapi hasil penelitian Lydia, Paul menyebut jika memang virus Corona bisa “terbang” sejauh 8 meter, akan ada lebih banyak orang yang sakit.

“Dibutuhkan partikel virus dalam jumlah tertentu, yang kami sebut ‘virion’ atau individu virus, untuk dapat benar-benar menempel di tubuh dan menyebabkan infeksi. Saat ini, kami tidak tahu jumlah persis angkat itu, namun mungkin lebih dari satu virus,” lanjutnya.

Dia pun masih tidak meyakini jika virus ini benar-benar bisa “terbang” secara efisien di udara dan dapat sangat berbahaya dalam jarak 8 meter.

Berkaitan dengan jarak aman saat berhadapan dengan orang lain, WHO menyebut jika semua itu didasarkan pada ringkasan ilmiah terbaru soal metode transmisi yang merekomendasikan droplet dan tindakan pencegahan untuk orang-orang yang merawat Covid-19.

WHO juga terus memonitor adanya bukti-bukti baru terkait dengan topik kritis ini dan akan segera memperbarui temuan ilmiah terkait Corona saat informasi sudah tersedia.

“Kami menyambut baik studi permodelan, yang sangat membantu dalam perencanaan. Tim WHO bekerja bersama beberapa grup modeling untuk menginformasikan pekerjaan kami,” kata WHO dalam sebuah pernyataan.

Lydia mengatakan jika dia ingin melihat rekomendasi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan terbaru, bukan kebijakan berdasakan ketersediaan, contohnya karena kurangnya alat pelindung diri (APD). “Sudah menjadi rahasia umum jika APD sangat kurang di seluruh negeri dan petugas medis berusaha sebisa mungkin mengatasinya,” tutur Lydia.

Dia pun menyebutkan jika prinsip pencegahan seharusnya mendorong negara untuk membuat kebijakan bahwa kita harus memiliki respirator berkualitas tinggi untuk digunakan oleh tenaga kesehatan.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Banyak yang Sembuh Lalu Positif Lagi, Bisakah Kita Tertular Covid-19 Dua Kali?

Current Issues
WHO Resmi Sebut Coronavirus Berasal dari Hewan, Bukan Kebocoran Laboratorium

Current Issues
Bosan Diam Di Rumah? Coba Ikuti 9 Tips Isolasi Diri Dari Astronot Ini