Interest

Hadapi Pandemi COVID-19, Warga Pakistan Galang Dana Lewat Zakat

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 2nd 2020

Pemandangan tidak biasa tampak di sekitar pasar-pasar yang ada di Karachi, Pakistan. Sejak dua pekan belakangan, orang-orang Pakistan yang baru keluar dari pasar tampak membagi-bagikan makanan, uang atau menawarkan bantuan lainnya bagi orang-orang tunawisma yang berada di jalanan.

Di samping memberikan bantuan kepada mereka, warga Pakistan meminta para tunawisma tersebut untuk berdoa agar pandemi COVID-19 segera berakhir.

Seperti negara-negara lainnya, Pakistan memberlakukan langkah-langkah penyebaran virus korona dengan menutup sekolah, melarang kegiatan di luar rumah dan menghentikan sementara aktivitas bisnis yang tidak berhubungan dengan produksi makanan dan obat-obatan.

Hal yang berbeda antara Pakistan dan negara lain adalah, kebijakan tersebut berefek jauh lebih parah. Imran Khan, Perdana Menteri Pakistan baru-baru ini menyatakan bahwa sekitar 25% warga Pakistan tidak mampu memenuhi kebutuhan makan dua kali dalam sehari.

Pemberlakuan karantina wilayah memotong pendapatan dari para pekerja kelas menengah ke bawah yang selama ini mencari nafkah dari jalanan Pakistan. Khan menyebut bahwa karantina wilayah mungkin bisa menyelamatkan warga Pakistan dari wabah, tapi justru bisa membunuh mereka karena kelaparan.

Meski demikian, Pakistan memiliki harapan mereka sendiri dalam menghadapi kondisi ini. Melalui cara berzakat, mereka menggalang dana bantuan untuk menolong warga Pakistan lainnya yang kurang mampu atau yang kehilangan mata pencaharian selama pandemi COVID-19.

Zakat dalam Bahasa Arab berarti ‘sesuatu yang menyucikan’, dan termasuk salah satu dari lima rukun Islam. Zakat adalah kewajiban setiap muslim yang mampu secara finansial untuk mengeluarkan sebanyak 2,5% dari total pendapatan tahunan mereka untuk diberikan kepada pihak yang membutuhkan.

 

Di antara 47 negara muslim di dunia, pengumpulan zakat umumnya bersifat sukarela tanpa paksaan dari pihak manapun, akan tetapi Pakistan termasuk satu di antara enam negara yang pengelolaan dan pengumpulan dana zakat masyarakatnya dilakukan langsung oleh pemerintah.

Semasa pandemi COVID-19, banyak masyarakat Pakistan yang mendonasikan lebih banyak harta mereka melampaui besaran zakat wajib, dan sejauh ini, semua donasi tersebut terdistribusi dengan lancar.

Sebagian besar hasil donasi yang terkumpul disalurkan dalam bentuk raashan (besaran)  atau paket bulanan, berupa kumpulan bahan-bahan kebutuhan dasar rumah tangga, seperti tepung, gula, minyak, teh beserta sabun anti bakteri. Raashan yang biasanya dibagi-bagikan kepada kaum fakir dan miskin selama Bulan Ramadan tersebut kini disalurkan setiap hari.

Faishal Bukhari adalah salah satu orang yang mengantarkan paket raashan kepada orang-orang yang membutuhkannya. “Ada banyak donasi yang masuk pekan ini,” ujarnya. “Setiap hari, aku mengantarkan setidaknya 20 – 25 paket, bakan kadang lebih.”

Kelompok-kelompok sukarelawan lain pun bermunculan dengan cepat dalam menggalang aksi serupa. “Dalam beberapa hari saja, kami menemukan banyak kelompok sukarelawan yang muncul dan membantu para pekerja kelas menengah ke bawah, khususnya dengan paket raashan,” kata Ahmad Sajjad, pengajar di Institut Bisnis dan Administrasi Karachi.

“Keadaan ini mengingatkanku pada gempa Pakistan 2005 lalu, dimana masyarakat Pakistan bersatu-padu menolong satu sama lain. Sekarang, semasa karantina wilayah, masyarakat memanfaatkan media sosial untuk menggalang dana dan menyalurkan bantuan,” lanjutnya. 

Sabiha Akhlaq, pekerja di Yayasan SSARA, organisasi amal internasional, menyatakan jika mereka kebanjiran donasi selama masa karantina wilayah di Pakistan. “Kami mengantarkan 200 paket makanan siap saji dan paker raashan setiap harinya. Tanggal 25 Maret lalu, kami juga mengantarkan 125 paket raashan bagi komunitas transgender,” tutur Akhlaq.

“Mereka adalah bagian masyarakat yang paling rentan dalam kondisi seperti ini. Menyedihkan sekali melihat keterkejutan mereka ketika mereka menerima bantuan. Mereka juga bagian dari masyarakat yang terdampak selama pandemi.”

Di seluruh Pakistan, informasi tentang donasi terbuka tersebar lewat Whatsapp dan berbagai media sosial. Kaum perempuan mengambil peran penting dengan menjadikan rumah mereka sebagai titik kumpul bagi bahan-bahan rasshan, seperti tepung dan minyak.

Beberapa dari mereka juga menggunakan nomor ponsel pribadi mereka untuk kepentingan donasi, seesuatu yang jarang sekali terjadi sebelum masa pandemi.

Survei terbaru dari pemerintah Pakistan mencatat bahwa bank di seluruh Pakistan telah menerima sebesar 7.377.678.000 rupeei dana zakat dari masyarakat sepanjang 2018-2019. Namun karena warga Pakistan biasa memberikan zakat secara langsung kepada yang membutuhkan, sangat mungkin, jumlah zakat yang dikeluarkan masyarakat Pakistan sejatinya jauh lebih besar lagi.

Warga Pakistan melihat zakat sebagai kekuatan semesta, dan di tengah pandemi, kekuatan inilah yang diandalkan Pakistan dalam mengakhiri krisis.

 

Related Articles
Interest
Bagaimana Covid-19 Dapat Berujung Menjadi Stroke?

Interest
Restoran Ini Hanya Layani Satu Pelanggan Setiap Harinya Selama Pandemi

Interest
Imigran Afrika Gotong Royong Kumpulkan Makanan Sehat untuk Warga Italia