Current Issues

Kisah di Balik Gaun Hitam Legendaris Audrey Hepburn

Delya Oktovie Apsari

Posted on April 2nd 2020

 

Meski belum pernah menonton Breakfast at Tiffany's, pasti kamu pernah melihat potret perempuan dengan rambut yang ditata ke atas, berkalung mutiara dan bergaun hitam sesuai lekuk tubuhnya. Bisa dipastikan, kalau kamu melihat potret perempuan serupa itu, dia adalah Audrey Hepburn.

Melansir CNN, kepopuleran gaun hitam Audrey Hepburn bermula pada tahun 1961, ketika Hepburn memerankan Holly Golightly dalam film Breakfast at Tiffany's. Film ini diangkat dari novel karangan Truman Capote dan disutradarai oleh Blake Edwards.

Gaun tersebut dikenakan Hepburn saat opening scene. Hepburn keluar dari sebuah taksi dan berhenti di depan toko perhiasan, Tiffany's, yang terletak di Fifth Avenue, New York.

 

(CNN/Paramount)

 

Hepburn mengenakan gaun satin hitam halus, yang dipasangkan dengan sarung tangan satin panjang, kacamata hitam, untaian mutiara di lehernya serta hiasan diamante di rambutnya.

Hepburn menghirup kopi dan menggigit kue, sambil menatap jendela Tiffany's. Gara-gara satu adegan itu, Hepburn mempopulerkan pakaian paling ikonik: little black dress.

 

Dirancang oleh Hubert de Givenchy

Hubert de Givenchy dan Audrey Hepburn. (Getty Images)

 

Gaun legendaris itu dirancang oleh Hubert de Givenchy, desainer asal Prancis yang merupakan founder brand Givenchy. Rupanya, seluruh kostum yang dikenakan Hepburn sepanjang film, semuanya dirancang oleh Givency serta costume designer Edith Head.

Givenchy merancang gaun yang menunjukkan sophistication sekaligus glamor. Gaun tersebut dibuat tanpa lengan dan memiliki neckline bateau yang sederhana namun modis. Di bagian belakang cut out yang diciptakan menampilkan bahu Hepburn, membuat sang aktris tampak memikat.

 

(CNN)

 

Tidak heran, sejak saat itu, little black dress kerap jadi pilihan party dress bagi perempuan dari generasi ke generasi.

 

Diperkenalkan oleh Coco Chanel

 

Meski begitu, Givenchy bukan penemu little black dress. Penemuan dress ini diatribusikan pada desainer-desainer pada tahun 1920-an. Yang paling dikenal adalah Coco Chanel.

Kala itu, Chanel menampilkan gambar gaun hitam selutut dalam crepe de Chine dan dipublikasikan di Vogue Amerika. Majalah tersebut pun menyebutnya sebagai 'Chanel's Ford' -- membandingkan gaun Chanel dengan autombile Model T milik Henry Ford. Mobil ini dulu dianggap sebagai mobil yang 'memerdekakan' warga Amerika kelas menengah karena pemeliharannya mudah dan harganya terjangkau.

Sejak saat itu, little black dress -- yang tadinya hanya dipakai perempuan kelas pekerja sebagai serama -- ke dunia mode. Ia menciptakan siluet lurus yang chic, tidak sempit tetapi juga tidak menyembunyikan lekuk tubuh. Gaya ini ditiru dan diadopsi secara luas selama Great Depression dan Perang Dunia II.

Tren ini dilanjutkan oleh Christian Dior, yang pada akhir tahun 1940an, membuat versi hyper-feminine yang hits di Hollywood. Apalagi, saat itu, genre film noir kerap mendorong citra femme fatale.

 

Namun, penampilan apik Hepburn serta interpretasi Givenchy, membuat gaun Breakfast at Tiffany's 'paling dikenal dari semua little black dress' menurut sejarawan mode, Valerie Steele dalam bukunya The Berg Companion to Fashion. (*)

Related Articles
Current Issues
On This Date: 2 Maret 1995, Yahoo! Resmi Jadi Perusahaan

Current Issues
Selain Virus Corona, ini 5 Virus Mematikan yang Pernah Bikin Dunia Gempar

Current Issues
Thanatos, Dinosaurus Baru Anggota Keluarga T-Rex Ditemukan Ilmuwan Kanada