Interest

On This Date : Selamat Ulang Tahun ke-74 Sri Sultan Hamengku Buwono X

Dwiwa

Posted on April 2nd 2020

Tanggal 2 April menjadi salah satu hari istimewa di Keraton Yogyakarta. Di hari ini, Sultan Sekaligus Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono HB X  genap berusia 74 tahun. Doa dan ucapan selamat dari para warganet pun membanjiri akun resmi milik Keraton Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X lahir di Yogyakarta pada 2 April 1946. Ketika lahir, putra pasangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dari KRA Widyaningrum ini memiliki nama Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito. Beliau merupakan anak pertama dari lima bersaudara.

Sebagian besar hidup HB X dihabiskan di Yogyakarta dan membuatnya tumbuh menjadi sosok yang dekat dengan kota dan rakyatnya. Menginjak usia dewasa, sang ayah HB IX, menunjuk HB X untuk menjadi Pangeran Lurah atau yang dituakan di antara semua pangeran di Keraton Yogyakarta.

Kemudian suami dari GKR Hemas ini diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi. Sebagai putra sulung, HB X kemudian ditunjuk untuk menjadi putra mahkota dengan gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram.

Tidak seperti sang ayah yang menempuh pendidikan tinggi di Belanda, HB X memilih untuk mengenyam bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada 1965. Karena terlalu sibuk membantu sang ayah yang kala itu menjabat wakil presiden, HB X baru lulus dari UGM pada 1982.

Selain sibuk membantu sang ayah, HB X juga aktif dalam beragam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sejumlah jabatan penting juga pernah diduduki, misalnya saja Ketua Umum Kadinda DIY, Kedua DPD Golkar DIY, Ketua KONI DIY, dan Presiden Komisaris PG Madukismo.

HB X bertemu dengan jodohnya GKR Hemas di sebuah warung bakmi di Rotowijayan Yogyakarta. Keduanya saling jatuh cinta dan akhirnya menikah pada 18 Mei 1973. Dari pernikahan tersebut, HB X dan GKR Hemas dikaruniai lima anak perempuan.

Pada Selasa Wage tanggal 7 Maret 1989 akhirnya HB X diangkat sebagai raja Ngayogyakarta setelah sang HB IX wafat pada 2 Oktober 1988. Pengangkatan HB X sebagai sultan ini menjadi sejarah baru di Yogyakarta karena pada generasi sebelumnya, setiap Sultan yang akan dilantik harus disetujui Belanda.

Sebagai Sultan Yogyakarta, HB X bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Namun setelah Sabdaraja pada tanggal 30 April 2015, gelar tersebut berubah menjadi Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram, Senopati Ing Ngalogo, Langgenging Bawono Langgeng, Langgenging Tata Panotogomo.

Meski sudah resmi menjabat sebagai Sultan di Keraton Yogyakarta, HB X tidak langsung diangkat menjadi Gubernur DIY. Hal itu dikarenakan, semenjak HB IX Wafat, Wakil Gubernur masa itu, Sri Paduka Paku Alam VIII ditunjuk sebagai Gubernur kedua Jogjakarta.

Alumni UGM ini baru resmi menjabat sebagai Gubernur DIY pada 3 Oktober 1998. Dalam periode pertama sebagai gubernur, HB X tidak ditemani oleh Wakil Gubernur. Baru pada periode 2003 hingga 2008 Sri Paduka Paku Alam IX mendampingi sebagai Wakil Gubernur.

Jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur tersebut selalu diperbarui setiap lima tahun tanpa perlu melakukan pemungutan suara. Keistimewaan ini pun semakin kuat setelah munculnya Undang Undang Keistimewaan (UUK) tahun 2012 dan Perdais Serta Dana Keistimewaan.

Related Articles
Interest
Jokowi Masih Enggan Lockdown, Sejumlah Wilayah Pilih Tutup Akses Mandiri

Interest
Ini Spot Kuliner yang Wajib Kamu Coba Saat ke Jogjakarta

Interest
#GejayanMemanggil Masuk Trending Topic, Apa sih itu?