Interest

Imigran Afrika Gotong Royong Kumpulkan Makanan Sehat untuk Warga Italia

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 2nd 2020

 

Satu dekade lalu, sekelompok migran Afrika di Rosarno, Italia, menggelar unjuk rasa besar-besaran. Mereka memprotes eksploitasi pemilik perkebunan terhadap mereka. Aksi itu juga dipicu kondisi salah satu rekannya yang terluka akibat tindakan rasisme.

Aksi bernama ‘revolusi Rosarno’ itu akhirnya berujung pada kepedulian pemeritah dan perbaikan nasib mereka. Sebagian besar dari peserta unjuk rasa tersebut kini bergotong-royong bekerja di perkebunan yang mereka kelola sendiri. Mereka mendirikan Koperasi Barikama pada 2011. 

Seolah lupa dengan penindasan yang mereka terima di tanah rantau mereka 10 tahun lalu, kini para anggota Barikama turut serta membantu Italia dalam memerangi pandemi COVID-19.

Setiap hari, selama warga Italia mengurung diri di rumah karena terpaksa mengarantina diri, para pekerja di Koperas Barikama akan turun ke ladang dan gudang, mempersiapkan paket sayuran dan produk pertanian lainnya untuk diantarkan kepada warga setempat yang membutuhkan.

“Permintaan akan produk kami meningkat drastis karena semua orang tidak bisa keluar rumah. Kami bekerja dua kali lebih keras dari biasanya,” ujar Modibo, pekerja berusia 32 tahun asal Mali yang juga merupakan co-founder dari Koperasi Barikama di Casale di Martignano, 22 mil dari Roma.

“Sepanjang hari, yang kami kerjakan hanya bertani dan mengantarkan paket. Pesanan baru datang terus setiap hari dan kami tidak boleh berhenti bekerja karena orang-orang membutuhkan kami. Walau melelahkan, rasanya senang sekali bisa bermanfaat untuk orang lain di tengah kondisi yang suram seperti sekarang,” timpalnya.

Bagi Modibo dan rekan-rekannya, kooperasi yang mereka dirikan tersebut memiliki sisi filosofis yang mendalam. ‘Barikama’ berarti ‘kekuatan’ atau ‘daya tahan’ dalam Bahasa Mali, dialek Bamara. Kooperasi Barikama memiliki gudang di Pigneto, salah satu wilayah pekerja kasar yang yang bersejarah di Roma.

“Hidup kami berubah”, ujar Modibo, “jika kau tidak kaya, kau tidak bisa berobat dan menyembuhkan dirimu dari penyakit. Jika orang yang kau sayangi jatuh sakit, kau tidak bisa berbuat apa-apa, dan itu sangat menyengsarakan.”

Pagi-pagi sekali sejak pukul tujuh, anggota Barikama yang masih muda akan berkumpul di gudang untuk membongkar muat truk pengangkut dan membagi tugas-tugas mereka, mulai dari pekerjaan di ladang, pengantaran paket makanan hingga membawa makanan ke pasar setempat.

Salah satu pasar yang menjadi pelanggan produk mereka adalah Pasar Trieste di Via Chiana. Pasar yang baisanya ramai dipenuhi pengunjung tersebut kini dikarantina wilayah, sehingga hanya 24 orang yang diizinkan berada di pasar tersebut pada saat bersamaan.

Anggota Barikama memiliki latar belakang kisah yang beragam sebelum mereka menjadi imigran di Afrika. Tony, misalnya. Laki-laki yang bertugas mengantarkan produk pertanian segar ke pasar ini tiba di Italia empat tahun lalu dari Nigeria, dan langsung bekerja sebagai butuh di perkebunan tomat Foggia, bersamaan dengan ratusan pekerja imigran lainnya.

“Di Foggia, kami diupah €4 untuk setiap kotak yang berhasil kami isi 350 kilogram tomat. Bekerja disana terasa seperti balapan,” ujarnya.

Lain pula dengan Cheikh. Dia dulunya adalah pemain sepakbola di Senegal yang berkuliah di Jurusan Biologi. Ia tiba di Italia pada 2007 dan bekerja di kebun untuk bertahan hidup. “Aku lumayan cermat dengan lokasi sekitarku,” kisahnya.

“Di Rosarno, ada sekitar 200 hingga 300 buruh yang bekerja tanpa kontrak selama lebih dari sebulan. Rasanya sangat aneh jika tidak ada orang yang mengetahui soal ini. Bagaimana bisa  mereka (pemilik lahan) menghindari membayar pajak dengan uang yang mereka hasilkan sebanyak itu?”

Ide pembentukan kooperasi muncu setelah teman Cheikh yang bekerja di yayasan sosial menjenguknya setelah aksi Rosarno pada 2010. Semua pekerja berdarah Afrika tahu caranya bercocok tanam. Maka dia pun menyarankan agar semua pekerja tersebut membentuk organisasi bersama dan mulai memproduksi bahan pangan mereka sendiri.

“Mulanya, kami memproduksi sendiri yogurt kami dan hanya mampu menjualnya seharga €5 atau €10,” ujar Cheikh. Koperasi tersebut baru benar-benar terbentuk pada tahun 2014 saat mereka sudah memiliki ‘kantor’ meeka sendiri, berupa lahan perkebunan di Martigano.

Mereka membuat kesepakatan dengan pemilik lahan tersebut agar mereka diizinkan melakukan aktivitas peternakan, menyewa mesin pertanian dan menggarap lahan yang ditelantarkan. Enam tahun setelahnya, Barikama aktif mengolah lahan seluas enam hektar dan memproduksi 200 liter yogurt setiap pekan.

Menurut Cheikh, tujuan dari dibentuknya Koperasi Barikama adalah untuk menciptakan kemandirian para pekerja, memperluas jaringan distribusi produk dan meningkatkan penjualan agar para pekerja selalu mendapatkan upah yang stabil. Tahun 2019 lalu dilalui dengan gemilang, dengan rata-rata pendapatan bersih mereka sebesar €500 per bulan dan €700 di bulan-bulan terakhir 2019.

Sekarang, mereka menambahkan tujuan ekstra dalam usahanya, yaitu menyuplai makanan sehat bagi para konsumen mereka di masa-masa yang penuh trauma dan ketakutan karena COVID-19.

“Menolong masyarakat di masa-masa yang sulit ini adalah pekerjaan yang menyenangkan,” ujar Cheikh, sebelum ia kembali bekerja.

Related Articles
Current Issues
Vatikan dan Italia Buka Kembali Gereja untuk Pelaksanaan Misa

Tech
Ghana Manfaatkan Teknologi Drone untuk Antar Hasil Tes Covid-19

Current Issues
Prancis Subsidi Warga untuk Biasakan Penggunaan Sepeda Pasca Lockdown