Current Issues

Alat Rapid-test Murah dan Bisa Dilakukan di Rumah Ciptaan Orang Indonesia

Dwiwa

Posted on April 2nd 2020

Alat rapid-test masih banyak diandalkan oleh berbagai negara untuk melakukan screening awal terhadap pasien yang kemungkinan terjangkit virus Corona. Meski keakuratannya masih di bawah Polymerase Chain Reaction (PCR), alat ini tetap dinilai mampu untuk melakukan penyaringan secara cepat dalam jumlah besar.

Alat rapid-test untuk virus Corona sendiri sudah semakin banyak bermunculan di Indonesia. Perusahaan-perusahaan penyedia alat kesehatan berlomba-lomba untuk menciptakan alat tersebut. Salah satunya adalah co-founder Sensing Self, perusahaan alat kesehatan yang berbasis di Singapura, Santo Purnomo.

Melalui perusahaannya, pengusaha asal Indonesia ini berhasil mengembangkan alat rapid-test mandiri yang bisa dilakukan di rumah. Alat ini bahkan sudah mendapatkan lisensi resmi dari tiga pasar di dunia, yakni Food and Drug Adninistration (FDA) di Amerika Serikat, National Institute of Virology and Indian Council of Medical Research di India, dan sertifikat CE di Eropa.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui hasil dari alat ini pun terbilang cepat. Dengan menggunakan analisis enzym, hanya dibutuhkan waktu 10 menit hingga hasilnya keluar. Ini tentu lebih cepat dibanding tes swab yang butuh waktu hingga 1 jam.

Harga yang dibanderol untuk satu alat ini pun lebih murah, yakni hanya Rp 160 ribu untuk satu unit. Menurut Santo, harga alat ini dibanderol cukup murah karena dijadikan bagian dari misi sosial untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Alat rapid-test yang sudah diproduksi sejak bulan Februari ini sudah tersedia setidaknya di 14 negara. Beberapa di antaranya adalah Amerika Utara, Uni Emirat Arab, Belanda, India, Jepang, Libanon, Tiongkok, Korea Utara, Swiss, Republik Ceko, Inggris, Jerman, Spanyol dan Italia.

Sayangnya, meski alat buatan orang Indonesia ini sudah digunakan di berbagai negara, pemerintah Indonesia masih belum memberikan persetujuan untuk memboyongnya ke tanah air. Menurut Santo, dia sudah pernah menawarkan produk ini ke pemerintah. Namun hingga empat minggu, masih belum ada jawaban.

“Perang melawan Covid-19 adalah perang melawan waktu. Kita harus mengurangi rasio pertumbuhan pandemi ini dengan membawa alat tes ini secepatnya. Kami berharap agar pemerintah Indonesia bisa mengijinkan inisiatif kami untuk membawa alat tes mandiri ini ke Indonesia,” ujar Santo.

Dia menambahkan, jika semua orang dapat mengakses alat tes mandiri ini, risiko infeksi akan dapat diturunkan. Sebab pasien tidak harus ke rumah sakit untuk melakukan tes. Dalam waktu bersamaan, beban petugas medis yang kini sudah sangat berat bisa dikurangi.

Beberapa lembaga penelitian ternama seperti Chan Zuckernberg Biohub, University of California San Fransisco, dan Mayo Clinic juga telah menggunakan alat ini.

“Kami selalu menjaga kualitas dari setiap unit, termasuk akurasinya. Karena kami mengerti jika ini adalah alat medis yang sangat berhubungan dengan kesehatan seseorang. Deteksi dini Covid-19 dapat membuat perbedaan hidup dan mati,” ujarnya.

Selain alat rapid-test mandiri, Santo dan timnya juga sedang mengembangkan alat tes baru untuk mendeteksi Covid-19 sesegera mungkin setelah terinfeksi. Alat tes asam nukleat ini disebut memiliki akurasi mencapai 99 persen di hari pertama terinfeksi.(*)

Related Articles
Interest
Kerahkan Pocong hingga Robot Demi Pastikan Warga Berdiam di Rumah

Current Issues
Kangen Piknik? Berikut Daftar Lengkap Negara yang Siap Kalian Kunjungi

Current Issues
Plasma Darah Survivor Corona Diujicobakan Jadi Penyelamat Nyawa Pasien Covid-19