Opinion

Gemuruh itu Bagaikan Musuh

Nizar Fahmi

Posted on August 7th 2018

Nggak ada yang nyangka, minggu pagi di tanggal 29 Juli lalu menjadi salah satu minggu pagi yang penuh akan kejutan. Bukan, bukan kejutan ulang tahun. Bukan juga kejutan kabar si doi mau minta putus karena harus fokus sekolah. Kejutan itu datang dari bumi tempat kita berpijak. Bergetar sungguh dahsyat seolah bangun dari tidurnya di pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan sekitarnya. Bumi memberikan alarm siaga saat itu, menjadi awal dari semua momen untuk mengingat betapa kecilnya kita di hadapan sang kuasa. 

Saya bersama seluruh keluarga dan para tetangga sontak terkejut, "Astagfirullah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, ada gempa!!" sembari berlarian keluar rumah menjauhi berbagai barang berat. Berkekuatan 6,4 skala ritcher, kami berhasil dibuatnya tak berkutik coy. Tangisan sampai teriakan terdengar hampir di setiap titik. Saya bingung harus berbuat apa, badan saya bergetar kaku. Gempa bumi yang biasanya terjadi tak sampai 5 detik, pagi itu tampil sedikit berbeda, 10 detik bahkan lebih, kami dibuatnya bergoyang cukup lama.

Guncangan terhenti, penghuni satu komplek memutuskan untuk kembali ke dalam rumah termasuk saya dan keluarga. Belum sempat meneguk air pelepas dahaga untuk menenangkan diri, "Duuuuuur" suara gemuruh kembali terdengar. Satu kali? Nggak, lebih dari lima kali saya rasakan dengan kekuatan yang cukup besar. Sebenarnya, ada apa dengan Lombok? 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa episenter gempa terletak di dua lokasi yaitu Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Utara. Imajinasi saya langsung liar membayangkan para pendaki yang ada di Gunung Rinjani serta masyarakat yang ada di sekitarnya. Kalau gunung ini nggak dicap sebagai gunung tertinggi nomer dua di Indonesia, mungkin saya bisa sedikit santai. Tapi harapan itu mendadak terbantahkan setelah informasi jumlah korban yang mencapai angka belasan tersampaikan di benak saya. "Lindungi kami Ya-Allah," dengan singkat saya bergumam. 

Saya melanjutkan aktifitas pagi itu dengan mengerjakan kewajiban saya sebagai seorang penyiar gengs. Rasa malas dan khawatir menyelimuti diri, tapi apa daya, sudah menjadi tanggung jawab profesi. Sembari menjalankan program siar, tangan saya terus bergerak di layar komputer mencari-cari informasi terbaru. Website resmi BMKG langsung menjadi halaman favorit kala itu.

Ternyata, ada satu headline yang menarik perhatian saya tentang alasan mengapa Lombok dilanda gempa dengan intensitas yang tak biasa. "Lombok Terletak di Antara 2 Pembangkit," begitu bunyinya. Man, this is crazy! Siapa yang kira kalau pulau sekecil Lombok dihimpit kawasan seismik aktif, gila! Di daerah selatan Lombok terdapat zona subduksi lempeng Indo-Australia. Zona ini nggak cuma nempel biasa aja coy, doi nunjam ke bawah pulau Lombok yang artinya kalau naik dikit doang, Lombok bakal getar hebat. Terus, bagian Utara Lombok terdapat struktur geologi sesar naik Flores. Siap! Lari kiri-atas-kanan-bawah bakal tetap kena, hehe. 

Selesai memahami informasinya, saya menekan tombol fider mixer yang artinya sudah harus siap on air di udara. Sepersekian detik setelah menarik nafas, tiba-tiba

GEMPA LAGI GENGS! GOYANGNYA KUAT!

Antara profesional atau sayang nyawa, saya mencoba cari jalan tengah. Berusaha berbicara tenang di depan microphone, saya izin dengan para pendengar untuk menyelamatkan diri keluar ruangan setelah memutarkan mereka lagu. Walaupun saya ragu saat itu ada yang mendengarkan atau tidak. Tapi percayalah, ruang siaran, kantor saya, bergetar hebat.

Singkat cerita, hingga tanggal 4 Agustus lalu, tercatat lebih dari 400 kali gempa susulan telah terjadi. Berbagai kerusakan dan kerugian materi dirasakan oleh masyarakat khususnya yang dekat dengan pusat getaran. Pihak Pempu, Pemprov, Pemda, sampai para relawan berbondong-bondong mengantarkan logistik yang dibutuhkan para korban. Daerah pengungsian sudah terlihat layaknya hotel yang kepenuhan pelanggan. Nggak sedikit juga dari mereka yang harus rela tidur langsung di bawah bintang tanpa beralaskan apapun demi melepas penat akibat gempa yang terjadi hampir setiap jam. Saya iba.

Hari pun berganti, satu minggu sudah berlalu. Keadaan sewaktu itu mulai kondusif sehingga aktifitas pun kembali berjalan normal. Kegiatan kami disibukkan dengan penyebaran informasi terkait desa yang masih membutuhkan bantuan. Ini dikarenakan 50% rumah warga rusak karena gempa 6,4 skala ritcher sebelumnya.

Malam datang, menunjukkan saatnya ibadah shalat Isha tiba. "Ke musala ah," tuju saya. Awalnya setelah shalat, saya punya banyak rencana yang kudu dikerjain. And then guess what? It happened again! Belum selesai melaksanakan shalat, lagi dan lagi 

BUMI LOMBOK BERGUNCANG! SUBHANALLAH, LEBIH BESAR! SEISI RUANGAN BERGEMURUH, SERASA SIAP RUNTUH! 

Kami berlarian keluar musala. Ada yang berteriak, ada yang saling berpelukkan karena ketakutan, ada yang jatuh pingsan, itu semua di tengah gelap yang mendadak gulita. Listrik padam. 

"Saya pasrah ya rabb. Jika memang ini adalah akhir dari dunia," sumpah, itu yang saya pikirkan. Mau kembali ke rumah, takut, yang bisa saya lakukan saat itu hanya melindungi kepala agar terlindung dari reruntuhan. Jangankan lari ke rumah, untuk berdiri tegak saja saat itu susah sekali. Saya akan mengingat kejadian ini dalam hidup saya seumur hidup, Minggu malam, 5 Agustus 2018. 

Setelah gempa berlalu, seluruh warga komplek yang keluar dari musala kembali lari ke rumah masing-masing. Dari jarak kejauhan saya berteriak memanggil nenek saya. "Lindungi dia ya allah, lindungi dia". Saya mendengar jawaban dari suara yang saya kenal, alhamdulillah beliau selamat.

Hal pertama yang saya lakukan saat sampai di rumah ialah, browsing cari info dari BMKG. 6,8 skala ritcher, lebih besar dari gempa sebelumnya. Syukurnya tidak berpotensi tsunami. Kemudian tanpa sengaja saya menekan tombol refresh pada layar hp, informasi BMKG berubah menjadi 7,0 skala ritcher dan BERPOTENSI TSUNAMI. "ALLAHU AKBAR!"

Saya panik coy, mau nangis, takut mati. Tapi saya berusaha tenang, membantu pengurus komplek untuk mengumpulkan warga agar kembali ke rumah masing-masing. Dari arah berlawanan, tetangga saya berteriak, "Semuanya lari, cari tempat mengungsi. Katanya air laut sudah naik," ucapnya. Mau lari kemana? Wong gempa susulannya masih ada. Naik ke tempat tinggi takut tertimpa runtuhan, diam di bawah takut hanyut. Aduuuuh serba salah. 

Akhirnya saya dan keluarga memutuskan mengungsi, mencari lapangan yang besar untuk berkumpul dengan orang banyak. Di tengah perjalanan di dalam mobil, gempa berguncang lagi. Berbagai kendaraan serta orang-orang di jalanan semua bergetar. Begitu pula kami yang ada di dalam mobil. "Istigfar yang banyak, berdoa. Ingat saja Allah, jangan ingat yang lain," himbau paman saya malam itu. Pelan tapi pasti, perjalanan kami lanjutkan hingga sampai di lokasi berkumpul. Sebelumnya, saya melihat banyak bangunan yang retak. Jalanan padat layaknya keadaan ibu kota Jakarta yang selalu macet, ini tumben di Lombok.

Di lokasi pengungsian, saya menangis. Bukan menangisi diri sendiri lho ya, tapi saya kasihan melihat adik-adik kecil yang merengek, bayi-bayi yang menangis, sampai orang-orang yang sibuk mengkhawatirkan keluarganya. Tanpa sengaja saya mendengar kabar bahwa di episenter gempa, kerusakan terjadi sampai 90%. Semua bangunan rata tanah, banyak mayat yang tertimpa bangunan. Berbagai kabar yang disebar di Instagram salah satu akun informasi hits di Lombok bilang bahwa mereka butuh tikar untuk tidur, makanan, dan semua hal yang bisa melindungi mereka dari dinginnya malam. Apalagi di sana hujan badai dan masih tanpa listrik, parah! Oh ya sekedar informasi, saya berdiam diri di Mataram ya. Lokasinya cukup jauh dari episenter gempa, tapi guncangannya tetap terasa hebat sekali. Bisa bayangkan bagaimana guncangan yang di rasa di lokasi episenternya?

Di antara kami semua, tidak ada yang berani tidur lelap teruma para pria. Malam itu benar-benar mencekam. Banyak orang menganggap (termasuk saya juga si, hehe) bahwa itu adalah akhir dari pulau Lombok. Di setiap sudut lapangan saya mendengar suara dzikir dari para pengungsi. Berdoa memohon ampun dan perlindungan sang maha kuasa. Setiap ada bunyi sirine yang lewat, kami mengganggap bahwa itu adalah bunyi sirine peringatan tsunami, padahal itu hanya suara bunyi sirine ambulans yang lalu lalang menjemput para korban.

Waktu terus berjalan dong coy, kami beberapa kali dibuat berteriak karena gempa susulan. Sampai akhirnya BMKG mengeluarkan rilis bahwa peringatan tsunami sudah dicabut, keadaan air laut kembali normal. Pun jika ada tsunami, ketinggian gelombang diperkirakan hanya akan mencapai 0,5 meter. Sontak saya pribadi merasa sebal dengan isu hoax yang bilang kalau air laut sudah naik memasuki wilayah kota. Dampaknya nggak main-main lho, saking paniknya warga karena tsunami jalanan jadi macet total. Kecelakaan terjadi di beberapa titik. Itulah mengapa kepada generasi milenial, Z, atau siapapun deh, jangan seenaknya menyebarkan isu-isu hoax! Kena UU ITE pasal 28 ayat 1 baru tahu rasa lu, makan tuh 6 tahun penjara!

Banyak orang yang bilang bahwa hal seperti ini pertama kali terjadi di pulau Lombok. Memang benar sih yang beruntun sampai ratusan kali seperti ini pertama kali terjadi. Tapi sebenarnya dibalik itu semua, sejak bulan Februari 2017 lalu, Lombok sudah mengalami hampir 10 kali gempa dengan kekuatan skala MMI II sampai IV.

Hingga tulisan ini dibuat, gempa susulan masih terus terjadi. Total gempa yang diperoleh data BMKG ialah kurang lebih 600 gempa sejak tanggal 29 Juli lalu. Data korban yang di dapatkan mencapai angka 115 orang yang berasal dari seluruh penjuru pulau dari awal gempa besar melanda.

Teruntuk kamu yang membaca tulisan ini, please, pray for us even for a little hope. Kami masih membutuhkan bantuan dalam bentuk apapun. Gemuruh malam itu benar-benar telah menghabiskan sebagian daerah di pulau Lombok. Gemuruh itu mendadak menjadi musuh. Gimana nggak, setiap mendengar suara gemuruh, semua orang mengaku trauma, termasuk saya. Suara motor ngebut, mobil lewat, bahkan terpaan angin sekalipun nggak jarang buat kita-kita siap untuk lari menyelamatkan diri. Tapi dibalik itu semua, kami berterimakasih kepada sang maha kuasa. Walau gemuruh itu menjadi musuh, namun sebenarnya gemuruh itu telah menyadarkan kami, betapa kecilnya kami di hadapanmu Ya-Rabbi. (nzr)

*Tulisan ini dibuat langsung oleh saya yang berada di lokasi kejadian saat sedang dalam keadaan siaga mengantisipasi gempa susulan

Related Articles
Opinion
Ini dia Tipe Penonton Waktu Nobar Piala Dunia

Opinion
Maaf, Sekadar Mengingatkan

Opinion
Ngarti Ora Son Kalau Nama-nama di Islandia Punya Aturan Ketat?