Current Issues

Pria Berjenggot Pernah Jadi Kambing Hitam Saat Muncul Pandemi

Dwiwa

Posted on April 1st 2020

Terjadinya pandemi suatu penyakit memang terkadang membuat orang-orang berpikir overprotective. Bukan hanya saat ini ketika terjadi pandemi Covid-19. Sejak abad ke-20, ketika terjadi pandemi tuberkulosis (TBC) hal yang sama juga terjadi.

Saat itu --ketika terjadi pandemi TBC-- di Amerika Serikat tindakan overprotective dilakukan lewat banyak hal. Dikutip dari Vox, Frank M. Snowden menuliskan dalam buku berjudul Epidemics and Society bagaimana orang-orang New York mulai menuntut agar sekolah memeriksa apakah siswa mengalami demam setiap pagi. Kebiasan menjilat perangko di kantor pos saat itu juga harus dihindari.

Atas desakan publik, Perpustakaan Umum New York mengirim semua buku yang dikembalikan ke pusat kesehatan untuk disterilkan. Termasuk bank yang diminta untuk menyeterilkan koin mereka.

Salah satu buah dari overprotective itu adalah menyebabkan hilangnya kebiasaan orang Amerika Serikat menumbuhkan kumis atau jenggot. Sebab, para pembuat pembaruan di bidang kesehatan saat itu menuding kumis, jenggot, maupun jambang sebagai sarang penyakit.

 

Jenggot dianggap sarang kuman dan virus

Dokter di Dewan Kesehatan New York, William H. Park, melarang orang-orang berjenggot bekerja di tempat pengolahan susu. Dia bahkan mengumumkan bahwa terdapat ancaman yang nyata jika pekerja susu berjenggot.

Dalam pemikiran orang-orang waktu itu, jenggot --terutama ketika lembab-- menjadi sarang kuman. Dan orang yang memilikinya akan menjadi media yang baik untuk menularkan penyakit.

Pada perkembangannya, temuan William bahwa kumis/jenggot/jambang menjadi tempat bersarangnya virus ternyata tidak memiliki dasar faktual. Sebab Profesor dermatologi dan kedokteran Universitas Pennsylvania, Carrie Kovarik menunjukkan bukti yang berbeda.

Dia menyebut jika tidak ada perbedaan pada pria berjenggot dan tidak berjenggot dalam menularkan bakteri. Dalam penelitiannya terhadap fenomena tersebut, Carrie menemukan bahwa pria berjenggot mungkin memiliki lebih sedikit kuman dibanding yang dicukur. Hal tersebut bisa dikarenakan adanya “trauma mikro yang terjadi selama proses mencukur sehingga kulit membuat ruang terbuka bagi bakteri untuk berkumpul.

Meski cerita tersebut terjadi di era yang berbeda, namun hubungan antara jenggot dan penyakit terbukti sangat erat. Pada bulan Februari lalu, sebuah berita mengangkat infografis dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pada 2017 yang menunjukkan bahwa beberapa tipe rambut wajah mengganggu penggunaan masker medis.

CDC sama sekali tidak berkomentar tentang kebersihan dari jenggot, ataupun kemungkinan dapat menyebarkan Covid-19. Namun rupanya itu tidak menghalangi Daily Mail membuat berita, “Dapatkah rambut wajah meningkatkan risiko tertular virus Corona?”. Berita-berita tersebut membuat kita mengingat kisah lama: saat terjadi pandemi TBC, jenggot menjadi kambing hitam.

“Tentu saja gagasan anti-jenggot ini salah. Tetapi gagasan bahwa jenggot itu “kotor” dan penuh kuman merupakan pemikiran di abad ke-20 dan 21, terutama di awal abad ke-20,” ujar profesor sejarah di Universitas Negeri Wright dan menyebut dirinya sebagai sejarawan jenggot, Christopher Oldstone-Moore,

Ketika Dewan Kesehatan New York bekerja sama dengan Milk Commission of the Medical Society of the County of New York, melarang tukang susu berjenggot di tahun 1901, mereka membentuk narasi baru soal rambut wajah. Pada 1890, perawat mulai mencukur jenggot pasien untuk menurunkan risiko penularan penyakit, merujuk pada penelitian yang menunjukkan jika jenggot bisa secara tidak sengaja terdapat ludah yang berisi kuman TBC.

Pada 1902, surat kabar membuat berita berjudul “Mencukur Mikroba yang Terinfestasi di Jenggot” menimbulkan masalah dalam kebersihan terkait menghilangkan rambut wajah. Pernyataan ambigu seperti “dokter yang memiliki jenggot dilaporkan memiliki tingkat kematian lebih tinggi pada pasien dibanding yang tidak”.


Histeria Anti-Jenggot di Amerika Serikat

Berdasarkan berita itu, Amerika benar-benar mempercayai histeria anti-jenggot. Setelah melakukan survei tidak resmi di Manhattan, penulis berita mengklaim bahwa jika dibanding tahun-tahun sebelumnya di mana satu dari tiga orang di Broadway memiliki jenggot, dia hanya melihat 5 persen orang masih berjenggot. “Tidak akan lama lagi sebelum kita menjadi ras tanpa cambang seperti jaman Napoleon,” pungkasnya.

Ketakutan anti-jenggot tersebut juga masih terbawa hingga munculnya pandemi besar dalam sejarah Amerika: flu Spanyol pada 1918. Dua tahun sebelumnya, dokter mengkritisi “bakteri dan kuman berbahaya yang mungkin mengintai pada wajah bercambang” menjadi media untuk menyebarkan “demam berdarah, TBC, difteri, campak, batuk rejan”.

Sejalan dengan terjadinya pandemi flu menyerang Amerika pada 1918, jenggot mengalami penurunan popularitas. Menurut Museum Perawatan Kesehatan, menurunnya popularitas jenggot ini bukan semata-mata disebabkan faktor kebersihan. Tapi juga disebabkan beberapa faktor.

Di antaranya, pergeseran nilai maskulinitas yang dihubungkan dengan wajah bersih tanpa jenggot. Orang tak berjenggot dianggap lebih muda dan profesional. Selain itu, saat itu juga sudah hadir pisau cukur sekali pakai pertama dari Gillete. Hadirnya pisau cukur itu membuat orang-orang tidak lagi harus mencukur ke tukang cukur.

 

Dulu Jenggot dianggap sebagai filter penyakit

Yang menarik, sebelum ada teori kuman bersarang di jenggot, orang-orang berpikiran sebaliknya. Mereka menganggap jenggot adalah filter untuk memblokir penyakit.  Boston Medical and Surgical Journal pertama kali membuat hipotesis terkait hal itu pada 1843. Saat itu mereka mengumumkan pesan ke dokter agar memberitahu pasien mereka untuk menumbuhkan jenggot.

“Kami percaya itu adalah fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa negara dengan orang-orang memiliki rambut dan jenggot panjang, mereka lebih kuat dan sehat dan lebih sedikit sakit, khususnya untuk penyakit yang berhubungan dengan paru dibanding dengan mereka yang dicukur,” tulis jurnal tersebut.

Bahkan di tahun 1881, setahun sebelum ditemukannya bakteri TBC, The St. James Magazines bersikeras bahwa cara tercepat untuk menghalau penyakit adalah dengan menumbuhkan jenggot. Berdasar pada penelitian terhadap pekerja rel kereta di Perancis, majalah tersebut menulis jika 53 responden mencukur jenggot mereka, dalam beberapa tahun kemudian, 39 orang sakit.

Namun logika itu tidak bertahan lama. Skeptis baru terhadap rambut wajah menyebar dengan cepat hingga keluar dari dunia kedokteran. Di Perancis, restoran mempercayai jika pelayan yang dicukur lebih sedikit mengkontaminasi makanan yang mereka sajikan. Aturan yang muncul pada 1907 melarang para pelayan berkumis. Tapi aturan itu memicu mogok kerja dalam skala besar dari para pelayan di Paris.

Pelayan mengklaim jika undang-undang tersebut aneh dan mememalukan dalam negara republik yang demokraits. Bahkan dunia pendidikan juga turut merasakan kepanikan. April 1910, Fresno Morning Republican mengumumkan jika dewan kesehatan California meminta semua guru pria mencukur rambut wajahnya. Mereka percaya bahwa kumis dan jenggot adalah tempat bersembunyinya kuman dam menyebabkan penyakit menyebar.

 

Pandemi mengubah sebuah budaya

Kita cenderung melupakan betapa epidemi dapat mengubah adat dan kebudayaan kita. Seperti yang baru-baru ini ditulis WIRED, Covid-19 telah membuat kebiasaan dalam berjabat tangan harus ditinggalkan, sesuai dengan anjuran otoritas kesehatan.

Larangan ciuman yang dikeluarkan Raja Henry VI saat terjadi Wabah Hitam, misalnya, menjelaskan mengapa orang-orang Inggris lebih jarang mencium pipi saat saling sapa dibanding dengan orang-orang Eropa lainnya.

Mengingat CDC tidak menyerukan orang-orang untuk mencukur jenggot, gerakan sadar kesehatan dengan mencukur mungkin tidak akan muncul selama Cobid-19, kecuali tentu saja, penyanyi asal Kolombia, Maluma yang telah memulainya. Hanya kelompok tertentu saja yang mencukur jenggotnya saat ini.

Misalnya petugas terdepan dalam menangani Corona, dokter dan petugas medis lain yang harus membuat ruang bernafas saat menggunakan masker.  Tetapi kepanikan dari infografis yang dikeluarkan CDC menunjukkan jika jenggot masih belum sepenuhnya lepas dari reputasinya di era TB dan saat pandemi.

Related Articles
Current Issues
Harimau Kebun Binatang Bronx Positif Covid-19, Ternyata Begini Cara Ngetesnya...

Current Issues
Tanpa Prom, Sekolah di AS Punya Berbagai Cara Unik Rayakan Kelulusan

Current Issues
Direktur CDC: Semua Pakai Masker Selama 12 Minggu, Pandemi Bisa Dikendalikan