Interest

Tak Hanya Nyawa, Pandemi Covid-19 Juga Bisa Bunuh Privasi

Dwiwa

Posted on March 30th 2020

Tracking alias melakukan pelacakan terhadap keberadaan seseorang menjadi salah satu cara non medis yang dianggap cukup efektif untuk menekan penyebaran virus Corona. Pemerintah di berbagai negara, seperti Tiongkok, Singapura hingga Israel telah melakukan pengawasan digital terhadap pergerakan masyarakatnya.

Di Amerika Serikat dan juga Eropa, perusahaan teknologi juga sudah mulai membagikan data anonimus untuk melacak penyebaran. Cara yang ditempuh oleh pemerintah dalam menyelamatkan nyawa dengan menggunakan teknologi ini didukung oleh aktivis privasi meski mereka juga khawatir terjadi penyalahgunaan.

Dikutip dari The Economic Times, Electronic Frontier Foundation membuat postingan online yang menyebut jika pemerintah saat ini membutuhkan kekuatan pengawasan baru untuk mencegah virus semakin menyebar.

Namun dibalik itu semua, akan ada banyak hal yang melanggar privasi, menghalangi kebebasan berbicara, dan menjadi beban bagi kelompok tertentu yang rentan. “Pemerintah harus menunjukkan bukti secara ilmiah jika langkah ini memang efektif, dibutuhkan dan proporsional,” tulis Electronic Frontier Foundation.

Penerapan dari cara ini memang berbeda-beda di setiap negara. Di Singapura, ada tim digital khusus yang mengawasi orang-orang dalam karantina. Di Hongkong, setiap orang yang baru datang dari luar negeri akan diberikan gelang pelacak. Agen keamanan Israel Shin Bet bahkan menggunakan data telekomunikasi untuk dapat melacak warga sipil.

Sementara di Tiongkok pengawasan menjadi lebih ketat karena setiap orang akan diberikan kode khusus berupa warna merah, kuning dan hijau di smartphone mereka. Kode ini menentukan apakah mereka bisa pergi atau tetap diam di rumah.

“Kami mengamati adanya tanda-tanda yang mengkhawatirkan jika rezim otoriter telah menggunakan Covid-19 untuk menekan kebebasan berpendapat, memperketat pengawasan, dan membatasi hak-hak dasar, jauh melampaui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh tim medis,” ujar Michael Abramowitz.

Beberapa aktivis menyebut ini bisa menjadi pengawasan “normalisasi”, merujuk pada serangan 11 September 2011 silam.  Dalam kejadian itu, atas nama keamanan nasional, pengawasan yang dilakukan menjadi jauh lebih ketat.

“Ada risiko cara ini akan menjadi sesuatu yang normal dan berlanjut meski pandemi sudah berakhir,” ujar kepala Inovasi Teknologi di Brooking Institution Center, Darrell West.

Meski begitu, beberapa pembela privasi digital merasa penggunaan beberapa data yang ada diperlukan untuk membantu mengendalikan pandemi.

“Masalah utama saat menerapkan pengawasan dalam keadaan darurat seperti ini adalah bahwa orang-orang perlu menyesuaikan diri,” Ujar Ryan Calo, peneliti dari Universitas Washington yang bekerja sama dengan Stanford’s Center for Internet and Society.

Ryan menyebut jika ini adalah hal yang sulit, mengingat saat menyadari sedang dilacak dan diawasi saja sudah berdampak pada perasaan seseorang tentang privasi dan keamanan pribadi. Perdebatan soal pelacakan lokasi smartphone pun masih menjadi isu utama yang sensitif terkait privasi.

Beberapa aplikasi juga telah dikembangkan untuk melakukan pelacakan pandemi Covid-19 dengan memanfaatkan teknologi.

Aplikasi karya peneliti dari Massachusetts Institute of Technology membuat pengguna bisa melacak lokasi dan dengan siapa pernah berpapasan, serta membagikannya ke pengguna lain dengan tetap menjaga privasi.

Peneliti dari Universitas Cornell mengembangkan aplikasi lain yang memungkinkan pengguna bisa berbagi lokasi dan status Covid-19 secara anonim untuk mendapatkan peringatan jika ada kasus lain di sekitar.

Perusahaan teknologi berbasis di New York, Unacast membuat “scorecard social distancing” yang memanfaatkan lokasi smartphone untuk memberikan rekomendasi agar orang-orang menjaga jarak aman.

“Ini dapat membantu mengetahui apakah social distancing benar-benar dipraktekkan atau tidak. Informasi yang diperoleh dapat dijadikan acuan untuk melakukan tindak lanjut,” tutur Ryan.

Namun, dia menyebutkan jika sumber data yang banyak bisa berpotensi “ketidakakuratan data” dan memberikan orang rasa aman yang salah.

Sekelompok peneliti dari universitas juga telah mengembangkan versi awal aplikasi yang didesain untuk membuat orang dapat berbagi terkait lokasi dan status infeksi menggunakan bluetooth tanpa mengorbankan privasi.

“Dengan aplikasi yang kami desain, ketika ada seseorang dengan Covid-19 dapat mengirimkan peringatan pada orang-orang di sekitar tanpa membuka identitasnya,” ujar co-founder aplikasi Covid-watch, Tina White.

Bersama dengan para peneliti lain, Tina mengemukanan gagasan tersebut sebagai alternatif untuk tindakan “otoriter” yang sudah diterapkan di beberapa bagian dunia. Lulusan Universitas Stanford ini menyebut jika aplikasi ini akan berguna jika banyak orang yang menggunakan.

Tina pun mengatakan jika aplikasi tersebut tersedia secara bebas. Dia menyarankan jika Android dan Apple dapat memanfaatkan hal ini sebagai opsi dalam pembaruan sistem agar bisa diadopsi secara luas.(*)

Related Articles
Current Issues
Plasma Darah Survivor Corona Diujicobakan Jadi Penyelamat Nyawa Pasien Covid-19

Interest
Google Update Maps-nya untuk Permudah Cari Layanan Kesehatan Online

Interest
Ternyata Ada Pulau-Pulau Terpencil yang Bebas Virus Corona