Current Issues

Polisi Punya Peran Penting di Tengah Pandemi Covid-19, Kok Bisa?

Delima Pangaribuan

Posted on March 29th 2020

 
Tenaga kesehatan jadi garda terdepan di tengah pandemi saat ini. Merekalah yang secara langsung berhadapan dengan pasien, mengangani mereka mulai dari bergejala, perawatan, sampai sembuh atau ada yang meninggal. Makanya tenaga kesehatan jadi golongan yang paling rawan tertular.
 
Tapi menurut The Conversation, bukan cuma tenaga kesehatan aja yang berhadapan face to face langsung dengan virus. Ada juga jajaran polisi. Polisi dianggap berperan penting dan berisiko tinggi terpapar dalam situasi pandemi saat ini.
 
Di beberapa negara, seperti Australia, polisi bahkan ditambah demi bisa megamankan situasi selama pandemi Covid-19. Ada beberapa alasan yang menurut pakar membuat peran polisi jadi sangat penting.

 
Pertama, polisi adalah pihak yang memastikan bahwa semua warga menaati imbauan dan peraturan pemerintah. Jika sifatnya imbauan, maka polisi bertanggungjawab untuk ikut mendorong masyarakat melakukan imbauan itu.
 
Kalau sifatnya peraturan, pemerintah bisa memberi legitimasi ke polisi buat menindak masyarakat yang melanggar aturan itu. Contohnya soal dilarang berkerumun dan supaya diam di dalam rumah.
 
Makanya di Indonesia, beberapa hari terakhir kita melihat ada polisi yang keliling ke kampung-kampung pakai pengeras suara untuk mengimbau masyarakat tetap di rumah.

 
Polisi juga mendatangi tempat-tempat yang masih didatangi banyak orang, termasuk tempat ibadah. Polisi yang membubarkan acara-acara yang bikin orang berkerumun, nggak terkecuali acara pernikahan.
 
Kedua, polisi berperan menjaga dan memantau perbatasan. Dalam situasi pandemi Covid-19, banyak kota dan negara yang kemudian menerapkan kebijakan karantina wilayah atau lock down.
 
Selama itu, polisi harus siaga menjaga perbatasan supaya benar-benar nggak ada warga setempat yang keluar atau warga daerah yang yang masuk. Nggak boleh ada yang melintas kecuali untuk urusan yang benar-benar mendesak.
 
Mengontrol keluar-masuknya orang ini sangat penting untuk menekan angka kasus. Makin banyak orang yang keluar masuk, makin tinggi risiko orang-orang tertular dan angka kasus Covid-19 pun bisa bertambah nggak terkendali. Ini yang terjadi di sejumlah negara Eropa yang kasusnya sekarang membludak dengan jumlah kematian mengalahkan Tiongkok. Seperti Italia, Prancis, dan Belanda.
 
Ketiga, selama lock down, polisi mungkin juga masih harus berurusan sama kriminalitas. Kondisi lock down kerap bikin orang-orang jadi panik dan akhirnya melakukan pembelian besar-besaran buat stok di rumah masing-masing.
 
Nah, bisa saja di tengah situasi itu ada yang berniat jahat mencuri. Atau kalau situasi sudah makin nggak menentu, bisa saja terjadi kerusuhan dan orang-orang menjarah buat kepentingan pribadi mereka. Inilah yang harus diantisipasi sama polisi.
 
Ada PR baru juga buat para penegak hukum ini. Kejahatan di luar mungkin bakal berkurang karena orang-orang sudah 'Stay At Home'. Nggak ada razia karena tempat-tempat hiburan seperti bar atau klub lagi tutup. Tapi, potensi kejahatan bisa pindah ke dalam rumah, atau biasa dikenal dengan istilah domestic violence. Ini kejahatan yang terjadi yang dilakukan sama anggota keluarga sendiri buat menyakiti keluarga mereka. 
 
Kalau di Indonesia sendiri, isu ini masih jarang ditemukan di muka umum karena masyarakat masih beranggapan kalau urusan rumah yang urusan pribadi saja, nggak usah dibawa ke luar. Padahal kekerasan di dalam rumah juga termasuk kejahatan.
 
Dan orang nggak bisa keluar dari rumah begitu saja di tengah lock down, artinya para korban ini terjebak. Semoga polisi dan penegak hukum lain nggak tutup mata ya sama potensi kejahatan kayak gini. (*)
Related Articles
Current Issues
Meski Ada Vaksin Covid-19, Kehidupan Diperkirakan Baru Akan Normal Pada 2022

Current Issues
CDC: Kasus Covid-19 Sebagian Besar Disebarkan Orang-orang Tanpa Gejala

Current Issues
Normal Baru Nonton Bioskop, Begini Pengaturannya...