Current Issues

Internet Archive Bebaskan Masa Tunggu untuk Peminjaman 1,4 Juta Ebook Mereka

Ahmad Redho Nugraha

Posted on March 29th 2020

Tak ada alasan untuk hanya rebahan di rumah ketika harus menjalani self quarantine. Ya, sebab banyak perusahaan digital memberikan kebijakan untuk mendukung self quarantine masyarakat dunia. Termasuk yang lagi dilakukan oleh Internet Archive, perpustakaan daring yang menggratiskan akses berbayar ke beberapa ebook legalnya selama masa karantina diri berlangsung.

Selama hampir 10 tahun belakangan, Internet Archive dengan programnya yang bernama 'Open Library' menawarkan akses membaca hasil scan dari buku cetak yang mereka miliki kepada para pemilik akun di web-nya. Semua orang dapat membaca scan buku tersebut lewat browser internet atau mengunduhnya dalam bentuk e-reader.

Pemilik akun Internet Archive hanya dapat membaca beberapa jenis buku saja dalam satu waktu, dan mereka diharuskan "mengembalikan"-nya setelah satu periode "peminjaman". Jika buku yang ingin dibaca sedang dibaca oleh orang lain, maka pemilik akun yang ingin membacanya mau tak mau harus masuk ke daftar tunggu untuk buku tersebut, persis seperti metode peminjaman buku cetak di perpustakaan biasa.

Namun belakangan, Internet Archive membuat pengecualian: daftar tunggu tersebut dihilangkan hingga beberapa waktu ke depan. Perubahan peraturan ini dilakukan Internet Archive menytusul ditutupnya banyak perpustakaan di seluruh dunia karena imbauan karantina diri oleh pemerintah.

“Internet Archive akan menghilangkan fitur daftar tunggu untuk 1,4 juta koleksi buku pinjaman yang ada, lewat program ‘National Emergency Library’ demi melayani pembaca di seluruh dunia,” demikian yang disebutkan Internet Archive pada Tuesday Post.

“Penghilangan daftar tunggu ii akan berlangsung hingga 30 Juni 22020 mendatang, sesuai dengan batas status darurat yang ditentukan Amerika Serikat.”

Pengumuman di Tuesday Post tersebut menarik minat publik. Terbukti, 20.000 pengguna baru langsung membuat akun di Internet Archive pada Rabu, keesokan harinya. Hingga sekarang, Open Library sudah meminjamkan 15.000 hingga 20.000 buku per harinya.

Brewster Kahle, pendiri Internet Archive mengatakan bahwa langkah yang ia ambil adala bentuk bantuan kepada semua orang yang terpaksa harus belajar di rumah karena pandemi COVID-19.

Pertanyaan yang timbul setelahnya adalah, apakah yang dilakukan Internet Archive legal?

Masalah hak cipta pada hasil scan buku memang sudah lama menjadi bahan perdebatan. Pada 2005, Authors Guild dan Asosiasi Penerbit Amerika menuntut Google karena melakukan scan buku cetak secara masif.

Lalu pada 2015, sebuah pengadilan banding memutuskan bahwa aktivitas penyebaran scan buku secara daring adalah legal, mengacu kepada doktrin penggunaan hak cipta.

Pengadilan lainnya pada 2014 juga menyatakan hal serupa, selagi perpustakaan daring yang melakukan peminjaman buku dapat mengambil kembali hasil scan buku yang mereka pinjamkan kepada pembaca.

Kedua putusan tersebut berdasar pada fakta bahwa hasil scan buku digunakan untuk tujuan yang terbatas. Google membuat search index dan hanya menunjukkan tampilan beberapa halaman pada hasil pencariannya. Perpustakaan daring juga hanya menawarkan hasil scan buku yang tidak memiliki bentuk cetak fisiknya lagi.

Meski perdebatan tentang legalitas penyebaran hasil scan buku masih berlanjut sampai sekarang, Internet Archive telah melakukan aktivitas peminjaman buku tersebut selama satu dekade. Internet Archive pun sepertinya tidak tertarik untuk menanggapi tuntutan hak cipta dari berbagai pihak, seperti Authors Guild.

Authors Guild meski menyatakan ketidaksetujuan secara keras kepada Internet Archive, namun nampaknya tidak membawa perkara tersebut ke meja hijau. Selagi para pemiliki hak cipta tidak merasa dirugikan lewat aktivitas peminjaman buku yang dilakukan Internet Archive, Internet Archive akan terus menyediakan jasa peminjaman buku daring kepada sebanyak mungkin orang yang membutuhkan, terutama di masa pandemi seperti sekarang. Dan itu, memanglah alasan Kahle menginisiasi pembentukan Internet Archive.

“Inilah cita-cita sejati kami, membawakan perpustakaan ke hadiran semua orang lewat ujung jari mereka,” tutup Kahle.

Jadi, kamu termasuk tim pro atau kontra dengan sikap Internet Archive, Sob? Mau yang manapun, yang terpenting adalah kamu memanfaatkan waktu luangmu selama karantina diri dengan membaca sebanyak mungkin buku bermanfaat.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Pindah Lagi, Kini Titik Pusat Pandemi Covid-19 Berada di Brasil

Current Issues
Setelah Sempat Dibuka, Sekolah di Korsel Tutup Lagi Akibat Adanya Infeksi Baru

Current Issues
Peneliti AS: Droplet dari Orang Berbicara Berpotensi Sebarkan Coronavirus