Current Issues

Pertama Kalinya dalam Sejarah Earth Hour Diperingati Secara Online

Ahmad Redho Nugraha

Posted on March 28th 2020

Setiap tahunnya, hari Sabtu terakhir di Bulan Maret akan diperingati sebagai Earth Hour International. Earth Hour adalah momentum tahunan yang berlangsung selama satu jam di seluruh dunia, mulai dari pukul 20.30 hingga 21.30. Pada rentang waktu satu jam tersebut, semua orang diimbau untuk mematikan lampu di rumah dan kantor masing-masing sebagai bentuk kampanye penyelamatan lingkungan.

Tahun ini, untuk pertama kalinya, Earth Hour akan digelar secara daring di seluruh dunia. Ini dilakukan karena untuk mencegah berkerumunnya orang yang tiap tahunnya merayakan momen ini. Seperti kita tahu, saat ini dunia tengah bersama-sama melawan penyebaran Coronavirus. Salah satu cara sederhana tapi sangat tepat adalah memutus rantai penyebaran dengan melakukan self quarantine.

Kalian bisa mengikuti perkembangan isu Earth Hour tahun ini lewat tagar #DanceForThePlanet dan #FlipTheSwitch challenge yang diinisiasi oleh WWF. Selain itu, sebuah petisi daring juga akan dibuka. World Economic Forum mengundang jutaan orang untuk menandatangani petisi bertajuk Voice for The Planet dan meminta pemerintahan di dunia untuk mengambil langkah strategis dalam menyelamatkan lingkungan.

Earth Hour tentu memiliki sejarah yang tidak singkat. Earth Hour awalnya diinisiasi oleh WWF (World Wildlife Foundation) sebagai langkah dalam mengatasi perubahan iklim global. Meski sering tertukar dengan ‘Hari Bumi’, Earth Hour tidak sama dengan Hari Bumi.

Praktik Earth Hour biasanya dilakukan secara beramai-ramai pada pukul 20.30 di setiap zona waktu masing-masing. Demi meningkatkan dampak sosialnya, Earth Hour biasanya dilakukan juga di tempat-tempat ikonik di setiap daerah di dunia, seperti landmark, pusat perbelanjaan dan bangunan-bangunan ikonik lainnya.

Dalam satu jam tersebut, orang-orang biasanya akan menghabiskan waktu dengan candle-light dinner atau pesta kecil-kecilan dengan penerangan lilin. Earth Hour juga sering melibatkan para pelaku bisnis, instansi pemerintahan, komunitas sosial dan politisi.

Earth Hour pertama kali dilakukan di Sydney, Australia, pada 2007. Event pertama Earth Hour ini melibatkan tak kurang dari 2,2 juta rumah dan bangunan kantor dalam mematikan lampunya selama satu jam.

Jumlah partisipannya meningkat menjadi 50 juta di tahun berikutnya, saat Earth Hour digelar secara internasional untuk pertama kalinya. Earth Hour 2008 diikuti 35 negara, dengan melibatkan landmark ikonik seperti Sydney Harbor Bridge, CN Tower Toronto, Golden Gate Bridge San Fransisco dan Colosseum Roma dalam aksinya. Di tahun 2009, partisipan aksi Earth Hour menjadi ratusan juta banyaknya.

WWF menginisiasi Earth Hour sebagai salah satu langkah kecil untuk menghentikan perusakan lingkungan alam di planet Bumi. Earth Hour juga menjadi sarana untuk menghubungkan kembali manusia dan alam.

“Ide (tentang Earth Hour) berawal dari rasa frustrasi”, ujar Andy Ridley, Direktur Eksekutif Earth Hour Global, WWF. Sekitar 2004, data awal tentang perubahan iklim yang parah mulai muncul, tapi WWF belum bisa menarik perhatian siapa pun untuk melirik isu tersebut.

Sejak saat itu WWF mulai mencari cara untuk memperkenalkan perubahan iklim kepada semua orang, dengan cara yang sederhana namun bertaraf global. "Intinya, kami ingin memulainya dengan cara yang tidak terpaku pada kebuntuan manusia dalam menghadapi perubahan iklim berkepanjangan. Kami ingin melakukan hal yang positif,” pungkasnya.

Dalam mengawali proyek tersebut, tim Andy dari WWF menjalin koordinasi dengan pihak periklanan global seperti Leo Burnett yang sudah bekerjasama dengan WWF sejak 2002. Minat awal mereka adalah mengeksplorasi pendekatan untuk memperkenalkan pengurangan konsumsi energi dengan cara yang paling menyentuh imajinasi pers.

Ide tersebut disambut baik, hingga tim WWF dapat mempresentasikan ide mereka tersebut lewat kampanye yang dilakukan surat kabar The Syndey Morning Herald dan Sun-Herald sejak sebulan sebelum Earth Hour pertama.

Gagasan tentang Earth Hour pun dalam waktu singkat mendapat dukungan dari banyak pihak, baik pelaku bisnis maupun masyarakat. Earth Hour pun dieksekusi secara bertahap, mulai dari skala nasional pada tahun 2008 menjadi skala global pada tahun 2009.

Pada tahun pertamanya, Earth Hour berlangsung sukses. Lampu Coca-cola di Kings Cross untuk pertama kalinya dimatikan sejak hadir pada 1973. Beberapa gedung memanfaatkan Earth Hour sebagai momentum untuk menyetel ulang sistem kelistrikan.

Di penjuru kota Sydney, berbagai kelompok masyarakat mengikuti kampanye Earth Hour. sebuah grup yoga melakukan praktik yoga saat Earth Hour dengan penerangan lilin. Bahkan ada yang menggelar pernikahan di tengah Earth Hour dengan penerangan lilin. Setidaknya 56 persen penduduk Sydney berpartisipasi dalam Earth Hour pertama tersebut.

Salah satu penyebab suksesnya Earth Hour adalah karena kampanye tersebut dapat diikuti semua orang, siapapun itu, dan tanpa melibatkan teknik yang sulit. Earth Hour juga membawa ide tentang harapan akan nasib bumi yang lebih baik di masa mendatang. Bukan keputus-asaan, sehingga setiap Earth Hour lebih terasa bagaikan pesta daripada bentuk protes.

Hal yang terbaik tentang Earth Hour adalah semua orang di seluruh dunia dapat menyatukan suara mereka dalam menghadapi isu perubahan iklim. Tentu saja secara naluriah, manusia senang tergabung dalam sesuatu yang besar dan berpengaruh, dan sesuatu yang satu ini adalah sesuatu yang membawa dampak positif bagi planet.

Earth Hour sudah menyatukan semua orang di seluurh dunia, termasuk 180 negara, dalam 13 tahun terakhir. Tahun lalu, landmark terkenal seperti Menara Eiffel Paris, Opera House Sydney dan Acropolis Athena secara simbolik berpartisipasi dalam Earth Hour.

Nah, gimana? Tertarik mengikuti Earth Hour tahun ini? (*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Pola Tidur Berubah Saat Puasa, Akankah Kita Jadi Rentan terhadap Coronavirus?

Current Issues
Vaksin Covid-19 dari Oxford Kemungkinan Hanya Berhasil 50 Persen, Kenapa ya?

Current Issues
Efektivitas Berkumur dengan Mouthwash Sedang Diteliti untuk Cegah Coronavirus