Current Issues

Novel Berjudul Corona Jadi Primadona Para Penulis Di Masa Karantina

Surya Dipa Nusantara

Posted on March 27th 2020

Pandemi Covid-19 ini memang menyebalkan. Selain kita enggak bisa kongkow bareng teman-teman lagi, ketakutan terinfeksi pun juga terus membayangi kita. Kita tak punya pilihan lain selain melakukan self-quarantine.

Nah, tapi ada sedikit hikmah yang bisa kita ambil di masa-masa isolasi diri. Salah satunya adalah menyalurkan energi kita untuk membuat karya. Salah satunya adalah menulis buku.

Seorang agen sastra, Juliet Mushens, dari agensi Caskie Mushens, mengatakan bahwa di tengah musim pandemi, kiriman naskah yang mampir ke kantornya menjadi bertumpuk. Jika dalam satu bulan ia biasanya hanya menerima 10 hingga 15 naskah saja, bulan ini dia menerima dua kali lipat. Ada 27 judul buku yang siap ditawarkan kepadanya.

“Aku tentu mendukung ini. Aku senang sekali. Kita semua tahu, di masa social distancing seperti ini, menulis buku dan melakukan kegiatan produktif lainnya adalah ide bagus. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan di hal-hal yang tidak bermanfaat. Menulislah. Catatlah sejarah!” tutur Juliet dilansir dari The Guardian.

Situasi serupa juga dialami oleh penerbit independen dari Irlandia, Tramp Press. Lisa Coen, editor dari Tramp Press mengatakan sampai ia kewalahan menyeleksi naskah, karena saking membeludaknya kiriman.

Biasanya, ia hanya menerima lima hingga enam naskah saja per hari. Tapi sejak diberlakukan lockdown di negaranya, ia rata-rata mendapat kiriman 16 naskah dalam satu hari.

“Aku bertaruh situasi seperti ini akan bertahan hingga masa lockdown selesai. Lonjakan produktifitas ini merupakan angin segar. Karena semakin banyak buku diterbitkan, maka akan semakin kaya pula khazanah ilmu pengetahuan kita. Ini betul-betul membuat dunia terasa menjadi lebih baik,” tandasnya.

Dari sekian banyak lonjakan naskah yang siap dicetak, tema terkait wabah Coronavirus dan kisah-kisah di sekitarnya tampak mendominasi. Para penulis berlomba-lomba merekam gejolak zaman di karya mereka.

Namun editor penerbit raksasa HarperCollins, Phoebe Morgan, memberikan nasehat kepada penulis, agar hendakna memilih tema lain selain corona. “Saya tahu, ini adalah opini pribadi saya. Tapi saya tidak menyarankan untuk menulis pademi ini di novel kontemporer. Karena, saya berpikir tidak akan ada orang yang ingin mengingat tragedi ini di masa depan, saat mereka berupaya mencari penghiburan (dengan membaca). Fiksi adalah fiksi,” cuit Phoebe.

Namun, karena masa lockdown ada efek samping yang cukup menguntungkan para penulis. Di tengah badai krisis, editor dan agen, memiliki waktu lebih banyak untuk membaca karya mereka dengan teliti. Hal itu, memperbesar peluang mereka untuk diterbitkan karyanya.

“Kami selalu senang melihat apa yang sedang dikerjakan orang. Merekam dari satu peristiwa, satu waktu, dan memampatkanya dalam satu karya adalah sebuah keindahan. Saya rasa, penulis memiliki banyak waktu dan ruang bereksperimen yang lebih santai di masa krisis ini,” tutup Lisa Coen.(*)

Related Articles
Current Issues
Pria Berjenggot Pernah Jadi Kambing Hitam Saat Muncul Pandemi

Current Issues
Ilmuwan: Pandemi Baru Bisa Muncul, kecuali Manusia Ubah Perlakuan ke Satwa Liar

Interest
4 Video Tutorial Potong Rambut Sendiri, Cowok-Cewek Semua Bisa