Entertainment

Inilah 5 Tokoh Legenda Yang Menghasilkan Karya Masterpiece di Masa Karantina

Surya Dipa Nusantara

Posted on March 27th 2020

Amuk pandemi bernama korona belum juga mereda. Dunia lumpuh, dan orang-orang mengisolasi diri. Pertemuan yang mulanya terasa menyenangkan, hari ini berubah menjadi ancaman. Orang-orang membuat jarak —yang hari ini disebut pshycal distancing— demi meredam persebaran wabah ini.

Tapi ini bukan pertama kali dunia diserang wabah. Sebelum coroanvirus tiba, ada sederet pandemi lain yang membuat orang harus mengurung diri di kamarnya.

Seperti wabah Black Death yang hampir memusnahkan peradaban Eropa pada abad ke-14 silam, misalnya. Atau Flu Spanyol, yang menelan 50 ribu nyawa di awal 1900-an. Tapi di saat-saat gelap itu, sederet masterpiece seni rupa lahir. Apa saja? Berikut adalah 5 seniman yang melahirkan karya bernasnya di masa karantina.

 

1. Edward Munch – Spanish Flu

Pada 1918, Edward Munch terbaring tak berdaya selama hampir satu tahun. Ia tumbang dihajar pagebluk yang tengah mewabah di Eropa, virus flu Spanyol.

Di masa-masa menjadi pesakitan itu, pelukis yang namanya melejit karena lukisan berjudul Scream itu, melahirkan sebuah mahakarya. Karya itu ia namakan Spanish Flu.

Di lukisanya, Munch menggambarkan potret dirinya dengan flu maut yang tengah menjangkit dirinya. Gambar itu, dikerjakan oleh Munch untuk memperingati satu tahun perjuangannya melawan Flu Spanyol.

 

2. Thomas Nashe – Last Will And Testament

Seorang penulis naskah drama bernama Thomas Nashe, adalah salah satu seniman yang berhasil lolos dari wabah black death. Saat pandemi itu tengah mengamuk Eropa, penulis berkebangsaan Inggris itu mengungsi di sebuah desa terpencil demi menghindar dari virus mematikan itu.

Di masa-masa kesunyiaan itu, ia menulis sebuah karya adiluhung yang mengkisahkan perjalannya selama musim pandemi itu. Karya itu ia beri judul 'Perjanjian dan Keinginan Terakhir'. Setelah black death mereda, karya itu kemudian dijadikan manuskrip amuk pandemi yang merenggut jutaan nyawa orang Eropa.

 

3. Giovanni Boccacio – The Decameron

Boccacio memiliki pengamalan traumatik dengan pandemi. Meskipun ia lolos dari maut wabah black death, namun ayah dan ibunya tak terselamatkan.

Boccacio muda, harus mengungsi di sebuah vila selama masa karantina bersama penduduk desa lainnya. Saat melakoni kisah sedih itu, Boccacio menulis kisah-kisah unik para penghuni vila dan merekam segala ketakutan mereka menghadapi wabah.

Cerita itu ia pepatkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul The Decameron, yang terbit pada 1348.

 

4. William Shakespeare – King Lear

Selain sebagai penulis, Shakespeare juga dikenal sebagai orang yang aktif di teater. Ia kerap mementaskan karya-karyanya sendiri, dalam teater pribadinya. Namun, pada abad ke-17, wabah ‘pes’ merebak, dan teaternya, The King’s Men, harus gulung tikar.

Di masa-masa depresinya, Shakespeare menjauh dari kerumunan ke sebuah desa kecil. Di sana, ia menulis sebuah kisah tentang persebaran berita bohong, dan orang-orang yang mempolitisasi wabah dalam buku bertajuk King Lear.

Tak hanya itu, di saat ia mengkarantina dirinya, Shakespeare juga menulis buku lain sepanjang tahun. Antara lain adalah Macbeth, serta Anthony and Cleopatra yang melegenda itu.

 

5. Isaac Newton – Teori Gravitasi

Saat badai black death menghantam Eropa, Isaac Newton masih berumur 20 tahun. Saat itu, musim kuliah pertamanya di Cambridge harus tertunda karena situasi yang kain memburuk.

Newton pun memutuskan untuk pulang kerumah, dan menempuh perjalanan 60 mil, demi melanjutkan studi pribadi. Saat tiba dirumah, ia mengkarantina dirinya di sebuah lab sederhana. Di sana, ia menemukan rumus dasar kalkulus. Dan yang terpenting, ia menemukan teori gravitasi, saat ia melihat sebuah pohon apel yang terletak di depan kamarnya.

Related Articles
Entertainment
Tujuan Dua Lipa Rilis 'Future Nostalgia': Mengabaikan Dunia

Entertainment
John Legend & Coldplay Adakan Konser Live-Stream Gratis di Tengah Coronavirus

Entertainment
Ini 3 Drakor yang Ditonton Minhyun 'NU'EST' di Netflix Selama Social Distancing