Portrait

Komang Sudiarta, Pendiri Komunitas Malu Dong yang Abdikan Diri Urusi Sampah

Dwiwa

Posted on March 26th 2020

Setelah begitu lama menghabiskan waktu sebagai pelayan di kapal pesiar, Komang Sudiarta akhirnya kembali ke Bali pada 2005. Bukan merasakan bahagia, kepulangannya ini justru disambut dengan pemandangan yang membuatnya miris. Tumpukan sampah plastik dan puntung rokok menggunung.

Betapa geramnya pria yang akrab disapa om Bemo ini saat melihat tanah kelahirannya begitu kotor. Hatinya merasa tercubit menyaksikan sampah menumpuk di pura dan memenuhi pantai, tempatnya menghabiskan waktu semasa kecil.

Dalam ingatannya, pantai di sekitar Kuta dan Sanur selalu terlihat indah dan bersih. Banyak pohon palem yang berjajar dengan hamparan pasir putih yang berkilau. Jika ada sampahpun, itu hanya ranting pohon dan juga daun kering yang berguguran. Bukan sampah plastik seperti saat ini.

Kegeraman Komang atas perubahan itu langsung diwujudkan dalam bentuk tindakan. Secara sukarela, Om Bemo mulai bergerak untuk membersihkan tumpukan sampah yang menggunung. Dengan tangannya sendiri, satu per satu sampah itu dia pungut.

Namun tak lama setelah memulai aksinya, Komang menyadari jika apa yang dia lakukan tidak akan banyak berpengaruh. Sampah ini akan tetap menggunung karena turis lokal dan mancanegara terus membuangnya setiap hari. Seperti sebuah siklus yang tidak pernah berhenti.

Hal ini tidak mengherankan mengingat jumlah wisatawan yang datang ke Bali mencapai jutaan orang setiap tahunnya. Harus lebih banyak penduduk Bali yang dilibatkan agar aksinya bisa menunjukkan hasil.

Tetapi melakukan pendekatan pada setiap individu juga tidak akan efektif. Menyampaikan pesan tentang menjaga kebersihan kepada seluruh penduduk Bali dan juga wisatawan yang tidak pernah habis adalah tugas berat. Satu-satunya jalan adalah dengan menggerakkan kampanye massal.

Gerakan yang dimulai Komang ini pun kini berperan sangat penting dalam kehidupan warga Bali. Banyak orang dari berbagai kalangan dan latar belakang berbeda turut bergabung dalam gerakan ini. Mulai dari anak sekolah, guru, klub motor dan juga bintang rock.

Tidak dipungkiri, ada rasa bangga saat melihat ide tersebut akhirnya menyebar dan merasuki generasi muda. “Orang-orang dan komunitas yang telah berpartisipasi memiliki tujuan yang sama dengan kami, yakni membersihkan Bali dan mengedukasi sebanyak mungkin orang,” ujanya seperti dikutip dari South China Morning Post (SCMP).

Namun sebelum berhasil seperti sekarang ini, ada perjuangan panjang yang harus dilalui Komang. Dari tahun 2005 hingga 2009, hanya teman-teman dekatnya sajalah yang terlibat. Tidak ada publikasi ataupun dukungan lainnya.

Semua biaya berasal dari kantong pribadinya. Penghasilan dari bekerja di sebuah agen tour digunakan untuk membeli kantong sampah dan peralatan lainnya. Perjuangannya itu mulai mendapat banyak perhatian setelah Komang mendirikan Komunitas Malu Dong pada 22 April 2009.

Berdirinya komunitas ini membuatnya semakin mudah untuk mengkampanyekan misinya membuat Bali lebih bersih. Nama Malu Dong sengaja digunakan sebagai ungkapan dan bentuk ekspresi ketika seseorang membuang sampah sembarangan.

Awal membentuk komunitas ini, ada banyak hal yang rela dikorbankan oleh Komang. Mobil hingga rumahnya rela dijual hanya untuk Malu Dong. Sebuah bentuk konsistensi dan dedikasi yang sesungguhnya.

Meski sebenarnya sudah terbentuk sejak 2009, tetapi komunitas ini baru benar-benar diresmikan dan diperkenalkan secara masif pada publik pada 23 April 2016. Sejak saat itu, jumlah anggotanya pun terus bertambah hingga mencapai lebih dari 10 ribu orang.

Membersihkan sampah-sampah di Pantai Mertasari, Sanur menjadi agenda rutin yang selalu dilakukan. Tidak lupa, bendera Malu Dong akan turut dikibarkan setiap kali komunitas ini beraksi.

Dukungan dari beragam kalangan pun semakin banyak berdatangan. Salah satu sosok pop-culture Bali, Rudolf Dethu sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Komang. Tindakan langsung memang lebih memberikan dampak daripada sekadar menggembar-gemborkan himbauan tanpa aksi.

Komunitas Malu Dong kini sudah menyebar luas dan memiliki banyak aktivitas tanpa selalu melibatkan Komang. Band Punk yang juga digawangi oleh kawan lamanya, Superman is Dead menjadi salah satu yang cukup giat mempromosikan komunitas Malu Dong.

Dalam setiap konser dan tour yang dilakukan, mereka selalu menampilkan banner Malu Dong. Tidak hanya itu saja, band yang juga dikenal dengan nama SID ini turut mengajak penggemarnya yang datang membersihkan sampah secara bersama-sama setelah konser.

Semakin meluasnya anggota komunitas Malu Dong membuat Komang kini jadi bisa lebih fokus untuk memberikan edukasi kepada generasi muda. Secara rutin, dia berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain untuk mengkampanyekan untuk selalu membuang sampah pada tempatnya.

Gerakan ini sempat tidak mendapat perhatian dari pemerintah Bali. Bahkan, menurut Komang, komunitas tersebut dianggap sebagai gangguan terhadap inisiatif yang telah dilakukan pemerintah daerah.

Menurut Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Bali, sekarang gerakan yang diinisiasi Komang sudah mulai diapresiasi. Komunitas Malu Dong menjadi bagian dari pelestari lingkungan. Termasuk membantu mengubah perilaku orang-orang yang berada di Bali.

Komang pun kini sering diajak bekerja sama dengan pemerintah. Memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih disiplin dalam membuang dan memilah sampah. Serta membantu mendorong masyarakat menjalankan hidup yang lebih bersih.

Namun klaim kerja sama dari pemerintah ini sedikit mengusik batin Komang. Pasalnya, dia banyak menjumpai jika petugas hanya datang untuk mendapatkan bukti foto. Bahkan tidak jarang yang pergi sebelum acara berakhir.

Perjuangan Komang pun sudah berjalan selama lebih dari 15 tahun untuk membuat Bali tetap bersih. Meski begitu, perjuangan Komang masih belum berakhir. Keinginannya untuk kembali melihat Bali seperti saat dia kecil masih terus menggebu.

Dia pun berharap jika semua orang menjadi lebih sadar dan bertannggung jawab dengan sampah yang mereka hasilkan. Jika semua itu dapat dilakukan, maka Bali akan bisa kembali menjadi pulau yang bersih dan sehat. Sama persis seperti kenangannya di masa kecil.(*)

Related Articles
Lifestyle
Wisata Bali Bakal Dibuka untuk Turis Domestik Akhir Juli, Asing September

Portrait
Melati Wijsen, Aktivis Lingkungan Asal Bali yang Jadi Pembicara ‘Time 100 Talks’

Esports
Playoff MPL ID Season 8 akan Bergulir di Pulau Dewata