Interest

India Juga Siapkan Aplikasi Tracking  Pasien Covid-19

Dwiwa

Posted on March 26th 2020

Sebuah aplikasi khusus tengah disiapkan oleh India demi mencegah semakin meluasnya penyebaran coronavirus di wilayahnya. Di beri nama CoWin-20, aplikasi ini dapat digunakan untuk mendeteksi apakah pengguna pernah melakukan kontak dengan pasien positif corona atau tidak.

Aplikasi ini pun sudah masuk dalam tahap uji coba, baik di Android maupun iOS. News18 melaporkan, saat ini pengujian baru dilakukan kepada sekelompok orang tertentu. Dengan aplikasi ini, kalian akan bisa mendeteksi lokasi, dan memperingatkan jika berada di dekat pasien positif corona.

Aplikasi ini menggunakan data lokasi dan bluetooth untuk mendeteksi jika ada pasien Covid-19 di sekitar. Cara penentuannya dengan menggunakan database orang-orang yang sudah terinfeksi, serta riwayat perjalanannya.

Disebutkan juga jika aplikasi ini dapat memberitahu ketika pengguna tengah berada di wilayah dengan kasus Covid-19 yang tinggi. Untuk mendapatkan data tersebut, pengguna akan diminta untuk mengizinkan akses lokasi setiap waktu.

Meski ini mungkin dapat meningkatkan masalah privasi, aplikasi ini menjanjikan jika data akan terenkripsi dan terjamin keamanannya. Dijelaskan jika hanya kementerian kesehatan setempat dan juga pengguna sendiri yang tahu jika kalian positif terinfeksi.

Beberapa fitur menarik pun turut disematkan pada aplikasi ini. Misalnya saja, aplikasi akan bergantung pada Bluetooth untuk mengecek apakah kalian pernah berada di sekitar orang terinfeksi dengan jangkauan sejauh 1,8 meter.

Kemudian, ada juga notifikasi yang akan dikirimkan oleh Kementerian Kesehatan terhadap orang-orang yang berhubungan langsung dengan pasien Covid-19 untuk segera melakukan tes. Ada pula fitur semacam peta yang akan memperlihatkan riwayat perjalanan dan orang-orang yang pernah berhubungan.

Meski terlihat begitu menjanjikan, masih belum jelas seperti apa cara pemerintah India akan melakukan pelacakan dan menyesuaikannya dengan data lokasi di aplikasi. Saat ini pun, aplikasi ini baru tersedia versi beta.

Artinya, saat benar-benar diluncurkan bisa jadi ada beberapa fitur yang berbeda. Agar bisa memberikan hasil yang signifikan, jumlah orang yang harus menggunakan aplikasi ini pun harus banyak.

Penggunaan aplikasi untuk mendeteksi kasus Covid-19 juga sudah diterapkan di Tiongkok saat virus Corona mulai menyebar di wilayah tersebut. Pemerintah setempat mewajibkan penggunanya untuk mendownload sebuah aplikasi bernama Jian Kang Bao.

Aplikasi ini memungkinkan pemerintah untuk mengumpulkan data dari penduduknya terkait pandemi Covid-19. Mereka diminta untuk menjawab berbagai pertanyaan sebagai deteksi untuk status kesehatan yang akan diberikan. Pertanyaan ini pun harus dijawab setiap hari pada pukul 10.00.

Jawaban tersebut kemudian dikumpulkan ke sentral data dan diolah menjadi big data. Data ini kemudian diolah sehingga di ponsel akan muncul status kesehatan dengan warna merah, kuning, hijau ditampilkan. Selain status kesehatan, aplikasi ini juga menampilkan foto serta tanggal-hari-bulan-tahun-jam.  

Status kesehatan yang muncul di layar ponsel dan menentukan apakah seseorang boleh keluar rumah atau tidak saat Negeri Tirai Bambu itu melakukan kebijakan lockdown. Status merah dan kuning tidak akan diijinkan keluar sama sekali.

Sedangkan status hijau diperbolehkan keluar hanya untuk ke supermarket dan apotek saja. Ada petugas yang akan melakukan pengecekan status kesehatan di jalan dan setiap ujung gang sebelum penduduk diperbolehkan keluar.

Korea Selatan juga pernah menerapkan sistem tracking untuk mengatasi pandemi ini. Pelacakan kasus menggunakan teknologi surveilans, terutama CCTV. Juga pelacakan dengan kartu bank serta penggunaan telepon untuk menentukan siapa yang lebih dulu dilakukan tes.

Korea Selatan yang mayoritas menggunakan transaksi cashless, membuat pelacakan ini jadi lebih mudah. Riwayat perjalanan dapat terlihat dari lokasi transaksi penggunaan kartu kredit dan kartu debit.

Selain itu, lokasi dari ponsel juga lebih akurat karena jaringan telpon di sana sangat baik. Apalagi, orang-orang diwajibkan untuk mengisi data dan juga nomor identitas secara benar saat membeli sebuah ponsel.

Kemudian yang terakhir adalah CCTV yang dapat membuat pemerintah melacak siapa saja yang pernah melakukan kontak. Data-data yang diperoleh kemudian diolah untuk melihat bagaimana virus ini menyebar.

Hasil pelacakan yang telah diolah kemudian dibagikan kepada publik melalui situs nasional dan lokal milik pemerintah, aplikasi smartphone gratis yang menunjukkan lokasi infeksi, dan update pesann untuk kasus baru.

Cara ini cukup banyak menampilkan informasi pribadi tentang riwayat perjalanan seseorang, tetapi efektif untuk membuat penduduk menghindari wilayah dengan pusat infeksi. Meski ini juga berefek terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.(*)

Related Articles
Interest
Kerahkan Pocong hingga Robot Demi Pastikan Warga Berdiam di Rumah

Interest
Ternyata Ada Pulau-Pulau Terpencil yang Bebas Virus Corona

Current Issues
Banyak yang Sembuh Lalu Positif Lagi, Bisakah Kita Tertular Covid-19 Dua Kali?