Current Issues

Mengintip Perbedaan Lockdown di Tiongkok, Italia, dan Negara Lain

Dwiwa

Posted on March 23rd 2020

Lockdown menjadi salah satu upaya non medis yang dinilai paling efektif untuk meredam penyebaran Coronavirus atau Covid-19. Cara ini pun sudah diterapkan di berbagai negara agar tidak semakin banyak korban berjatuhan.

Meskipun sama-sama menerapkan lockdown, tapi ternyata hasil yang didapatkan dari masing-masing negara tersebut sangat berbeda. Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan perbedaan ini?

Tiongkok

Sebagai kota pertama yang terinfeksi Covid-19, Pemerintah Tiongkok bertindak cepat dengan melakukan lockdown di wilayah tersebut. Orang-orang tidak diperbolehkan keluar masuk kota sembarangan. Terutama di kota-kota di Provinsi Hubei.

Semua penduduknya diwajibkan tinggal di dalam rumah. Tidak ada yang boleh keluar kecuali diizinkan oleh para petugas yang berjaga di setiap ujung gang. Semua akses benar-benar sangat terbatas. Kendaraan umum dihentikan.

Untuk bisa keluar rumah pun persyaratannya tidak mudah. Dikutip dari blog pribadi mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan (disway.id), warga Tiongkok benar-benar tak bebas keluar rumah. Dahlan mendapatkan cerita dari temannya di sana, Pemerintah Tiongkok sebelumnya telah menyiapkan aplikasi bernama健康宝 baca: jian kang bao wajib untuk diunduh. Jika diartikan, aplikasi ini bermakna harta karun berbentuk sehat. Bisa juga sehat itu harta karun.


Aplikasi yang dimaksud Dahlan Iskan (disway.id)

Ketika aplikasi dibuka, warga diwajibkan untuk mengisi berbagai pertanyaan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan, ada form persetujuan jika memang benar data itu diisi oleh kalian sendiri dengan jujur. Jika sampai ditemukan kebohongan, kalian harus siap menerima konsekuensi hukum.

Total ada 16 pertanyaan yang harus dijawab. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak jauh beda dengan beragam situs cek mandiri yang beredar di Indonesia. Misalnya adakah panas/demam/batuk. Atau ke mana sajakah selama 14 hari terakhir.

Bahkan termasuk apakah pernah berangkat ke kantor dalam 14 hari terakhir serta di mana letak kantornya. Pertanyaan ini hanya sebagian yang harus diisi. Tidak hanya sekali, warga diwajibkan untuk selalu menjawabnya setiap jam 10.00. Tidak boleh terlewat.

Data yang diisi oleh para penduduk ini akan masuk ke dalam pusat data utama. Terkumpul menjadi satu sehingga menghasilkan big data. Setelah di proses, status dari pemegang ponsel dapat langsung terlihat.

Mulai dari foto, status kesehatan dengan warna hijau, kuning, merah, hingga tanggal-hari-bulan-tahun-jam akan  muncul di layar ponsel. Data itulah yang kemudian dijadikan acuan petugas berjaga untuk memberikan ijin.

Jika status di ponsel berwarna kuning, kalian tidak akan diperbolehkan keluar. Apalagi jika berwarna merah. Jangan berharap. Status kesehatan hijau pun boleh keluar hanya untuk keperluan mendesak. Misalnya harus ke supermarket atau apotek.

Seketat itulah kira-kira lockdown yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok. Berdasar big data dan sistem yang modern, mereka bisa lebih ketat memantau warganya. Tidak heran jika meskipun menjadi wilayah pertama yang terkena, kejadiannya tidak sampai sefatal italia.

Kini di saat beberapa negara lain, termasuk Indonesia, tengah pusing menghentikan penyebaran wabah, Tiongkok bahkan sudah mampu mengirimkan tenaga medis untuk membantu.

 

Italia dan Negara Lainnya

Sama-sama melakukan lockdown, terlihat jelas bagaimana perbedaan situasi antara Tiongkok dan negara lainnya. Italia misalnya. Proses lockdown yang dilakukan di wilayah ini tidak seketat di Tiongkok.

Dalam sebuah konferensi pers, wakil ketua Palang Merah Tiongkok, Sun Shuopeng, pun mendesak langkah yang lebih tegas untuk menekan penyebaran Covid-19. Dia mencontohkan di Milan yang menjadi salah satu kota paling terdampak, masih ada transportasi umum beroperasi. Orang-orang masih bisa berjalan-jalan di luar rumah dengan bebas tanpa masker. 

Kasus kematian di negara ini terus meningkat setiap harinya. Bahkan jumlah kematian totalnya melebihi Tiongkok yang pertama kali menemukan kasus ini. Dalam sehari, kematian yang terjadi mampu menembus angka 627. Rekor tertinggi dalam pandemi Covid-19.

Italia pun menerjunkan pasukan militer untuk membuat warganya menjadi lebih patuh. Denda 206 euro ( sekitar Rp 3,4 juta) juga sudah diberlakukan. Bahkan, akan ada hukuman kurungan penjara 3 bulan bagi yang melanggar aturan.

Euronews melaporkan jika di Belgia juga sudah melakukan lockdown untuk mencegah Coronavirus jenis baru ini menyebar. Orang hanya diizinkan keluar rumah jika harus bekerja, ke supermarket, mendatangi fasilitas kesehatan atau mengunjungi orang untuk hal sangat penting.

Negara ini juga memperbolehkan penduduknya keluar untuk melakukan olah raga. Perancis pun menerapkan kebijakan lockdown serupa. Kecuali untuk olah raga hanya boleh dilakukan seorang diri.

Semua jenis pertemuan juga dilarang. Termasuk menghadiri pemakaman dari rekan ataupun orang-orang yang disayangi. Warga pun diminta untuk menandatangani dokumen untuk bisa keluar rumah.

Jika nekat melanggar, akan ada denda yang dijatuhkan. Saat pertama diterapkan, warga hanya diberikan denda 35 euro (sekitar 580 ribu). Namun seiring berjalannya waktu, denda itu meningkat menjadi 135 euro (sekitar Rp 2,2 juta) hingga bisa sampai 375 euro (sekitar 6,2 juta).(*)

Related Articles
Current Issues
Mengenal Carrimycin, Sebuah Harapan dari Obat Buatan Tiongkok untuk Covid-19

Current Issues
Siswa di Wuhan, Kota Pertama Ditemukannya Covid-19, Kembali Sekolah

Interest
Pengorbanan Nyawa Tenaga Kesehatan Demi Selamatkan Pasien Coronavirus