Current Issues

Apa itu Abusive Relationship dan Gaslighting?

Mengenal istilah dari utas @jerujiemas

Delya Oktovie Apsari

Posted on March 22nd 2020

Mengenal istilah dari utas @jerujiemas (Ilustrasi: Reach Out Recovery)

 

Sebuah utas yang ditulis oleh @jerujiemas di Twitter ramai dibicarakan. Pasalnya, utas tersebut menggambarkan secara eksplisit derita R selama berpacaran dengan NC.

NC sendiri dikenal sebagai YouTuber dengan track record yang positif. Sehingga ketika isu ini mencuat, banyak warganet yang terheran-heran.

Dari utas yang dibagikan @jerujiemas, serta cerita yang diunggah R melalui akun tanpa identitas dengan username @r_penyintas, kita jadi kenal istilah abusive relationship dan gaslighting.

 

Nah, sebenarnya, apa itu abusive relationship (kekerasan dalam hubungan) dan gaslighting?

Kekerasan emosional memang sulit dikenali, berbeda dengan kekerasan fisik yang kasat mata. Bahkan, tak jarang teman maupun keluarga korban tidak sadar kalau si pelaku merupakan sosok yang toxic.

Menurut terapis khusus penyembuhan dari kekerasan, Sharie Stines, susahnya mengidentifikasi kekerasan emosional karena si pelaku biasanya menunjukkan diri mereka sebagai sosok yang penuh cinta dan perhatian. Tetapi, sisi mereka ini hanyalah proses 'grooming' untuk memenangkan hati korban.

Periode ini tidak bertahan lama. Setelah mendapatkan hati korban, biasanya pelaku akan memulai taktik kekerasan emosional mereka dengan cara menghina, mengkritik, gaslighting, mempermalukan, dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk mendapat power dan kontrol dalam sebuah hubungan.

Permasalahannya adalah, perilaku-perilaku ini biasanya terjadi 'di balik pintu tertutup', alias tidak dilakukan di depan orang-orang yang dikenal korban. Sehingga kepercayaan diri dan self-worth korban semakin menurun.

"Semakin lama, korban sudah terlalu 'dikontrol pikirannya', sampai mereka hanya menjadi 'cangkang' dari diri asli mereka, dan menghabiskan banyak waktu mencari cara untuk mencintai pelaku dengan lebih baik -- dan hal itu tidak pernah berhasil dilakukan," kata Stines, seperti dikutip HuffPost.

Kalau sudah begini, korban mungkin kesulitan untuk mengidentifikasi dirinya sebagai korban. Maka dari itu, teman, keluarga maupun orang terdekat korban bisa memahami tanda-tanda abusive relationship melalui ini:

 

1. Pelaku merendahkan korban, membagikan cerita menyakitkan atau memalukan tentang korban di muka umum

Biasanya, partner dari teman maupun keluarga kalian berbicara hal kasar atau kritik berlebih dan menyebutnya sebagai 'candaan', lalu menuduh korban 'terlalu sensitif' kalau korban protes. Banyak juga teman atau keluarga yang tidak sadar bila ini adalah tanda-tanda abusive relationship, ikut tertawa dengan si pelaku dan merasa itu bukan masalah besar. 

2. Temanmu yang dulu percaya diri, sekarang jadi insecure

Temanmu yang dulunya baik-baik saja, bahkan percaya diri, bisa jadi insecure gara-gara abusive relationship.

Biasanya, ucapan-ucapan yang terlontar seperti 'Aku bodoh banget', 'Aku nggak bisa melakukan apapun dengan benar', atau 'Aku nggak tahu apa yang salah denganku akhir-akhir ini, aku pelupa banget'.

Menurut psikoterapis Beverly Engel, penulis buku 'The Emotionally Abusive Relationship', kata-kata seperti ini bisa mengindikasi kalau mereka mengalami kekerasan emosional oleh partner yang "terlalu kritis pada mereka", "menyalahkan mereka terus-menerus", atau "punya ekspektasi tidak masuk akal".

Selain itu, korban bisa jadi kesulitan memutuskan hal-hal remeh, seperti mau makan apa di restoran atau memilih pakaian. Karena mereka sangat meragukan diri mereka sendiri.

3. Mereka menyalahkan diri mereka sendiri untuk segala hal dan langsung meminta maaf

"Temanmu jadi terlalu baik dan seringkali meminta maaf padamu, kalau-kalau dia melakukan sesuatu yang salah dan membuatmu kesal [...] orang ini telah dikondisikan untuk menerima kesalahan dan disalahkan untuk hal-hal kecil," jelas Stines.

4. Temanmu tidak ingin membicarakan hubungan mereka

"Ini mungkin terjadi karena mereka malu dan percaya kalau mereka tidak membicarakan soal itu (kekerasan emosional), tidak akan ada orang lain yang tahu dan (mereka jadi meyakini) bahwa itu tidak pernah terjadi," ujar Stines.

5. Pelaku super posesif dan mood temanmu langsung berubah ketika mereka menerima telepon atau chat dari pasangan mereka

7. Pasangan mereka punya akses ke akun pribadi temanmu, seperti e-mail, media sosial dan online banking

8. Ketika kamu mengutarakan kekhawatiranmu, temanmu langsung menyangkal

 

Istilah kedua adalah gaslighting. Dilansir dari Psychology Today, gaslighting adalah bentuk manipulasi dan kontrol psikologis yang berbahaya. Para korban gaslighting sering secara sengaja dan sistematis diberi informasi palsu yang membuat korban mempertanyakan apakah yang mereka ketahui benar. Seringkali informasi palsu ini menyangkut diri korban sendiri. FYI, istilah ini diambil dari drama pada tahun 1938 berjudul 'Gas Light' yang dibintangi Ingrid Bergman.

Korban gaslighting akhirnya sering meragukan ingatan mereka sendiri, persepsi bahkan kewarasan mereka. Lama-lama, manipulasi yang dilakukan oleh gaslighter (pelaku gaslighting) bisa membuat korban semakin sulit melihat kebenaran. 

 

Bagaimana cara mengenali gaslighting?
Biasanya, gaslighter akan berbohong tentang hal-hal simple, seperti "Enggak, aku kan bilang ke kamu kunjungannya dijadwalkan Sabtu, bukan Minggu". Ketika korban mencoba mengoreksi, gaslighter akan menuduh korban berbohong dan justru menceritakan kisah dusta. Biasanya, ia juga bakal bertanya, "Kenapa kamu menjadwalkan kunjungannya Sabtu, padahal kamu tahu kalau aku selalu capek hari itu?". Padahal, tidak ada yang menjadwalkan kunjungan di hari Sabtu.

Korban biasanya akan kebingungan dan meragukan dirinya sendiri. Gaslighter meyakinkan korban kalau apa yang ia ingat, pikirkan dan rasakan itu salah. Ketika hubungan berlanjut, biasanya gaslighter akan menambahkan kebohongan atau statement negatif tentang hal-hal sensitif. Misalnya, "Sahabatmu nggak bakal mau jalan-jalan sama kamu, mereka jelas-jelas lebih milih pergi sama temen barunya. Kamu seharusnya jadi jauh lebih baik sekarang kalau kamu nggak pernah berteman sama dia."

Biasanya, jika korban tidak setuju dengan statement semacam itu, gaslighter akan bereaksi buruk dan memposisikan mereka sebagai korban.

 

Nah, apa yang bisa kita lakukan jika orang terdekat kita mengalami abusive relationship dan gaslighting?

Pertama-tama, tanya apakah mereka baik-baik saja. Jika temanmu menyangkal bahwa ada yang salah dalam hidup mereka, jangan ngotot bertanya. Kamu bisa berkata, "Aku ingin kamu tahu kalau kamu butuh ngobrol, aku di sini. Aku peduli sama kamu." Lalu tinggalkan dulu topik ini.

Kedua, jika mereka bercerita, jangan menyalahkan maupun judge mereka. Jika kamu tidak bisa menjadi safe space bagi mereka, biasanya korban akan menjauh.

"Walaupun kita mungkin merasa frustrasi, marah, kecewa, bahkan bingung bagaimana bisa orang terdekat kita terjerumus abusive relationship, penting untuk tidak menilai dan menghina mereka," kata psikolog klinis, B. Nilaja Green.

Ketiga, jangan langsung memberi nasihat. Dengarkan saja dulu mereka. "Jangan langsung mendorong mereka dengan saran yang tidak diinginkan, apalagi saran untuk mengakhiri hubungan," kata Engel. "Mereka butuh dukunganmu, bukan tekanan darimu. Kamu ingin mereka merasa aman untuk cerita lagi padamu, bukannya malah merasa bersalah atau merasa buruk tentang diri mereka sendiri karena mereka tidak mengikuti saranmu."

Keempat, dukung mereka untuk mengambil keputusan sendiri. Kemudian, ingat-ingat lagi apakah kamu pernah melihat sendiri perilaku abusif yang dilakukan oleh pelaku pada korban.

Terakhir, pahami bahwa mengakhiri hubungan butuh waktu, jadi kita harus tetap bersabar dan setia mendampingi korban. (*)

Related Articles
Current Issues
Kepanikan Massal Akibat Corona Bisa Picu Gangguan Kecemasan

Interest
Pentingnya Makan Bareng Teman untuk Kesehatan Mental

Current Issues
Menilik Cara Steve Jobs, Brad Pitt hingga Mark Ruffalo Melawan Gangguan Mental