Current Issues

Mengenal Obat-obatan yang Diklaim Mampu Lawan Coronavirus

Dwiwa

Posted on March 22nd 2020

Semakin merebaknya kasus Coronavirus atau Covid-19 di berbagai belahan dunia membuat para ilmuwan dan pakar kesehatan bergerak cepat mencari solusi. Segala cara dan daya dikerahkan agar obat maupun vaksin untuk penyakit baru dari jenis virus Corona ini segera bisa dilumpuhkan.

Negara yang sudah lebih dahulu terpapar Covid-19 pun tengah mencoba berbagai jenis obat yang telah ada untuk menyembuhkan penyakit ini. Beberapa di antaranya yang diklaim menunjukkan hasil cukup positif adalah klorokuin dan avigan.

Ketika digunakan untuk mengobati orang-orang yang positif terinfeksi Cornavirus, obat-obatan ini dapat membantu mempercepat kesembuhan. Meski menunjukkan hasil positif, pada mulanya ketiga obat ini punya ternyata punya fungsi lain lho.

1. Klorokuin (Chloroquine)

Disebut sebagai salah satu jenis obat yang efektif melawan virus Covid-19, ternyata awalnya klorokuin diciptakan untuk mengobati malaria. Memiliki nama lengkap klorokuin fosfat, obat ini juga digunakan untuk menangani kasus autoimun dan infeksi parasit amuba.

Obat kimia ini diketahui memiliki struktur yang mirip dengan ekstrak kulit batang kina yang banyak ditemukan di daerah Indonesia Timur. Obat ini mulai diperbolehkan untuk digunakan mengobati malaria oleh badan pengawas obat dan makanan Amerika (FDA) sejak 1949.

Dalam perkembangannya, obat ini memang pernah terbukti berhasil melawan virus corona yang menyebabkan wabah SARS beberapa waktu lalu. Namun, pembuktian ini masih sebatas dalam percobaan pada sel primata di laboratorium.

Klorokuin ini mampu mengganggu kemampuan virus dalam memperbanyak diri dengan dua cara. Pertama, obat ini akan masuk ke dalam bagian membran sel yang disebut dengan endosom.

Endosom ini bersifat asam, namun dengan kehadiran klorokuin, pH daerah ini akan meningkat sehingga menjadi basa. Proses ini akan memblokir virus dalam memperbanyak diri yang memang membutuhkan lokasi asam.

Selain itu obat ini juga terbukti dapat mencegah virus SARS-CoV untuk memasuki reseptor angiotensin-converting enzyme 2 atau ACE2 pada sel primata. Beberapa negara pun telah mencoba menggunakan obat ini untuk pasien Covid-19.

Hasilnya memang cukup menggembirakan. Di Tiongkok, pasien Covid-19 yang mengalami penumonia memiliki waktu tinggal di rumah sakit lebih pendek saat diobati dengan klorokuin. Prancis dan Australia juga sudah melakukan uji coba dengan hasil cukup positif.

Untuk mengetahui efektivitasnya, peneliti di Universitas Minnesota tengah melakukan tes kepada 1500 orang. Hasil tes ini mungkin dapat diketahui dalam beberapa minggu.

Selain Universitas Minnesota, Oxford juga berencana menggunakannya sebagai pencegahan pada 10 ribu tenaga medis yang rawan tertular.

Di Norwegia, doktor akan mulai menggunakannya untuk pasien yang dirawat di rumah sakit. Sementara di Thailand, klinisi tengah menyiapkan tes dengan menggunakan berbagai kombinasi antiviral, termasuk klorokuin.

FDA sendiri sampai saat ini belum mengeluarkan pernyataan terkait obat ataupun terapi yang efektif digunakan untuk Covid-19. Dalam laporan yang dibuat AFP, Kepala Perawatan Klinis pada Program Darurat WHO, Janet Diaz masih meragukan efektivitas dari obat ini. Apalagi obat ini tergolong obat keras yang memiliki efek samping cukup berat.

Beberapa di antaranya adalah mual, kram perut, gangguan penglihatan hingga gangguan jantung. Penggunaannya pun harus disertai dengan resep dokter. Artinya, mengonsumsi secara sembarangan justru bisa merugikan.

2. Avigan

Selain klorokuin, obat lain yang juga disebut menjanjikan pengobatan Coronavirus adalah Avigan. Obat yang juga dikenal dengan favipiravir ini awalnya digunakan untuk memberikan terapi kepada pasien yang terkena virus influenza di Jepang.

Obat yang dikembangkan oleh Fujifilm Toyama Chemical ini diberikan kepada sebagian  pasien di Jepang yang positif terkangkit Covid-19. Penggunaan obat tersebut membuat fungsi paru-paru pasien mengalami peningkatan dari 62 persen menjadi sekitar 91 persen. Proses pemulihan juga jadi lebih cepat.

Obat ini sudah mulai diberikan sejak bulan Februari lalu pada pasien dengan kondisi ringan-sedang dan cukup efektif. Namun, pihak Kementerian Kesehatan Jepang menyebut jika kondisi pasien lebih parah, obat ini tidak efektif.

Selain di Jepang, obat ini juga sudah dilakukan uji coba di Tiongkok, khususnya Shenzen dan Wuhan. Di dua kota ini, waktu pasien dinyatakan negatif dapat terpotong menjadi empat hari dibanding dengan orang tanpa Avigan yang mencapai 11 hari.

Obat ini memang sengaja dirancang untuk melawan virus dengan material genetik RNA seperti Covid-19. Menurut jurnal Proceedings of the Japan Academy, Ser. B, Physical and Biological Science, obat ini bekerja dengan melumpuhkan enzim RNA polimerase yang digunakan virus untuk memperbanyak diri.

Nah, itu dia dua jenis obat yang saat ini tengah menjadi perbincangan hangat. Presiden Joko Widodo sendiri telah mengumumkan memesan kedua obat itu dalam jumlah besar pada 20 Maret lalu. Menurut Jokowi, ini merupakan salah satu upaya konkrit yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi wabah Coronavirus.(*)

Related Articles
Current Issues
Plasma Darah Survivor Corona Diujicobakan Jadi Penyelamat Nyawa Pasien Covid-19

Current Issues
Perlukah Paket Belanja Online Didisinfeksi? Ini yang Harus Kalian Ketahui

Current Issues
Vaksin Covid-19 Buatan Tiongkok Baru Siap untuk Publik Tahun Depan