Current Issues

On This Date: Hari Air Sedunia, Ilmuwan Manfaatkan Isotop untuk Jaga Curah Hujan

Delima Pangaribuan

Posted on March 22nd 2020

 

 
 
Tanggal 22 Maret ditandai sebagai peringatan Hari Air Sedunia atau World Water Day. Pada 2020 ini, perubahan iklim menjadi perhatian pegiat lingkungan. Mereka menilai air bisa membantu memperbaiki iklim. Salah satunya lewat pemanfaatan air secara lebih bijak dan efisien.
 
Dalam situs World Water Day, disebutkan bahwa air dan perubahan iklim nggak bisa dipisahkan. Perubahan iklim membuat konsumsi air semakin meningkat.

 
Di sisi lain, air juga berpengaruh terhadap perubahan iklim apabila digunakan dengan sembarangan dan tanpa perhitungan. Menggunakan air dengan lebih efisien dipercaya bisa mengurangi efek rumah kaca yang menjadi salah satu tanda perubahan iklim.
 
Keberadaan air sendiri amat penting untuk berbagai sektor kehidupan, utamanya untuk pertanian. Tanpa air, pertanian nggak mungkin jalan dan manusia nggak bisa makan, hewan-hewan juga akan kelaparan karena nggak ada makanan untuk mereka. 
 

Sayangnya, menurut International Atomic Energy Agency (IAEA), perubahan iklim membuat cuaca akhirnya nggak menentu dan hujan sering datang nggak terprediksi. Kadang hujan terus-terusan dan bisa membuat banjir, kadang kekeringan berkepanjangan dan membuat tanah nggak subur lagi.
 
"Dengan cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, air hujan semakin tidak bisa diprediksi, dan ini mempengaruhi kehidupan ratusan juta orang yang hidup di negara berkembang yang masih mengandalkan air hujan untuk produksi pangan," jelas Head of Soil and Water Management and Crop Nutrition Section IAEA Lee Heng.
 
Menurut data IAEA, sebanyak 70 persen air bersih digunakan untuk kepentingan pertanian ini. Sayangnya, persentasenya sekarang berkurang karena banyak air yang terbuang lewat evaporasi alias menguap karena cuaca yang terlalu panas atau nggak sengaja terbuang. 
 
Nah, IAEA mengajak ilmuwan untuk memanfaatkan teknik isotop dan nuklir guna mengefisiensikan penggunaan air dalam manajemen irigasi pertanian.
 
Dalam situsnya mereka menjelaskan kalau penghitungan isotop (oksigen-18 dan deuterium) bisa membantu menentukan asal pergerakan air dari tanah dan tanaman.
 
Jadi, ilmuwan dan petani bisa tahu berapa banyak air yang dibutuhkan, berapa banyak air yang menguap, dan apa yang harus dilakukan supaya air nggak menguap sebanyak itu.
 
Teknik ini diujicoba sama IAEA di beberapa negara Afrika yang memang rentan kekeringan. Dari penghitungan isotop itu, mereka menerapkan drip irrigation atau semacam pengairan mini untuk petak-petak tanah pertanian kecil.
 
(The Express Tribune)
(The Express Tribune)
 
Alih-alih mengelola tanah pertanian gede, mereka memberdayakan masyarakat sekitar untuk bikin semacam pertanian kecil di masing-masing tempat tinggalnya. Produksinya bisa dimaksimalkan, tapi air yang digunakan bisa lebih hemat.
 
IAEA sejak tahun 1960 juga telah mendirikan Global Network of Isotope in Precipitation (GNIP) yang tujuannya untuk menghitung isotop hidrogen dan oksigen yang mengendap di seluruh dunia.
 
Mereka mendorong ilmuwan dari berbagai negara untuk mempelajari tentang endapan isotop itu dan kondisi air di masing-masing daerahnya. Mulai dari sumber air, pergerakan air, sampai riwayat penggunaan air.
 
Hasil penelitian ini bisa jadi bekal juga untuk mempelajari tentang kondisi iklim yang memengaruhi kondisi air juga.
 
"Ini akan membantu kita untuk memahami rentang kemungkinan dari perubahan iklim yang menimbulkan dampak pada karakteristik air hujan, misalnya frekuensi, durasi hujan, dan intensitas hujan," jelas Lee Heng. (*)
 
 
Related Articles
Current Issues
Kenapa sih Rindu Itu Berat?

Current Issues
Lindungi Dokternya, Italia Gunakan 'Tommy' si Robot Perawat Pasien Covid-19

Current Issues
Dari Supermoon Sampai Hujan Meteor, Ini Fenomena Langit di Sepanjang April