Current Issues

5 Tips Agar Mental Tetap Sehat Selama Karantina Corona dan Social Distancing

Delima Pangaribuan

Posted on March 17th 2020

 
Ilustrasi praktik social distancing. (En24 News)
 
 
Pemerintah baru saja menetapkan perpanjangan masa darurat bencana akibat coronavirus COVID-19 sampai tanggal 29 Mei 2020. Artinya kemungkinan besar waktu untuk karantina dan beraktivitas dari rumah bakal semakin lama juga.

 
Karantina dan social distancing memang bikin kita lebih aman dari penyebaran virus berbahaya ini. Tapi di sisi lain, terlalu lama di dalam rumah juga bisa menimbulkan efek yang kurang baik buat kesehatan mental kita. Sebagai makhluk sosial, tentu manusia butuh berinteraksi dengan orang lain dan keluar dari rumah untuk melakukan berbagai aktivitas.
 
Kondisi ini semakin menyulitkan buat teman-teman yang memang punya masalah kesehatan mental. Nah, seorang psikolog asal Washington DC bernama dr. Amber Thornton menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi gejala-gejala kesehatan mental yang memburuk selama masa social distancing akibat COVID-19.
 

Melalui akun Twitter pribadinya, psikolog klinis lulusan The Ohio State University itu menyebutkan ada lima cara yang bisa menjadi solusi untuk menjaga kesehatan mental kita dalam menghadapi wabah SARS-Cov-2 ini.
 
 
1. Tetap bersosialisasi dari jauh
(Yahoo!)
 
Pemerintah menyarankan kita untuk nggak keluar dan mengikuti kegiatan yang melibatkan banyak orang. Dengan kata lain nggak boleh nongkrong bareng orang banyak, sekolah, ikut seminar, apalagi mabar di warung kopi terdekat. Tapi, komunikasi tetap harus dijaga dengan orang-orang sekitar.
 
Beruntung kita hidup di era digital di mana komunikasi sudah lebih gampang sekarang. Kita bisa video call menggunakan WhatsApp, Skype atau FaceTime. Kata dr. Amber, ini juga jadi kesempatan buat kita menghubungi orang-orang yang jrang berkomunikasi sama kita. Misalnya om dan tante atau sepupu yang jauh.
 
 
2. Istirahat dari bermain media sosial
(And Mine)
 
Media sosial juga jadi pilihan hiburan kita selama ada dalam masa social distancing. Tapi nyadar nggak sih, kalau kita justru kadang merasa lebih cemas dengan bermedia sosial? Yap, menurut dr. Amber itu karena kita mengakses banyak informasi dari luar terkait Covid-19.
 
Update info soal penyebaran virus itu boleh. Tapi sadari batasan masing-masing, jangan dengan tahu banyak malah bikin kecemasan kita makin parah.
 
"Bagus kalau kita tetap mendapat informasi tapi jangan sampai tenggelam di dalamnya," pesan dr. Amber. Kalau merasa capek scrolling timeline, mungkin memang saatnya kita istirahat.
 
 
3. Buat rutinitas baru
(Rawpixel)
 
 
Ini saatnya kita mengkreasikan sesuatu yang asyik yang bisa dilakukan dalam rumah. Dokter Amber menyarankan kita untuk merencanakan apa-apa saja yang mau dilakukan sehari-hari selama mendekam dalam rumah. Buat anak sekolah, tentu yang utama harus dilakukan adalah belajar.
 
Beruntung juga provider seluler di negeri kita sudah memberi kemudahan akses ke aplikasi belajar buat anak-anak sekolah yang terpaksa libur. Selain belajar, barangkali kita juga bisa menyusun jadwal harian yang tetap bikin kita produktif. Misalnya rajin bebersih rumah atau belajar masak sama Mama. Rutinitas menurut dr. Amber bisa bikin hati kita lebih gembira dan mental lebih sehat.
 
 
4. Praktikkan monolog yang sehat
(Creative Clearings)
 
Monolog, self-talk, atau berbicara dengan diri sendiri kadang masih dianggap aneh. Padahal aktivitas ini bagus lho buat kesehatan mental. Kata dr. Amber, kita bisa jadi mengenali diri sendiri dan memahami pikiran-pikiran kita. Tentunya harus self-talk yang sehat, ya.
 
Self-talk yang sehat tuh gimana sih? Salah satunya dengan membicarakan hal-hal yang membuat diri kita sendiri senang dan nyaman.
 
"Ingatkan dirimu sendiri hal-hal yang baik yang masih berjalan dalam kehidupanmu, ingatkan dirimu bahwa yang terjadi sekarang nggak akan berlangsung selamanya, dan sebagainya," jelas dr. Amber.
 
 
5. Tetap jaga kebersihan dan kesehatan
 
(Dribbble)
 
 
Kebersihan itu bisa bikin jiwa kita lebih tenang. Dokter Amber bilang, dengan berdiam dalam rumah kadang bikin kita lupa sama kebersihan. Karena nggak keluar rumah, jadi merasa nggak perlu mand, nggak perlu bersihin kamar karena toh nggak kena debu kita dari luar.
 
Eits, jangan salah. Lingkungan dalam rumah yang kotor juga berpotensi bikin kondisi kesehatan kita memburuk. Kalau pun tubuh masih fit, emangnya betah tinggal di tempat yang kotor? Betah nggak mandi berhari-hari?
 
"Berikan perhatian lebih pada kesehatan tubuh kalian," pesan dr. Amber. (*)
Related Articles
Current Issues
Coronavirus Bikin Para Pekerja Industri Musik Perhatian pada Kesehatan Mentalnya

Current Issues
Musim Panas Datang, Akankah Virus SARS-Cov-2 Jadi Tak Berdaya?

Current Issues
Kepanikan Massal Akibat Corona Bisa Picu Gangguan Kecemasan