Current Issues

Awas Hoaks! Pesan Palsu Pencegahan Coronavirus Catut UNICEF

Surya Dipa Nusantara

Posted on March 12th 2020

Semakin derasnya informasi tentang Coronavirus dari penjuru dunia, semakin kencang pula informasi palsu atau hoaks yang menyertainya. Hoaks yang sangat keterlaluan tentu yang mencatut lembaga kredibel seperti UNICEF.

Lantaran mencatut instansi yang kredibel --dan coronavirus termasuk penyakit baru-- banyak orang mempercayai pesan hoaks tersebut. Pesan hoaks yang mencatut UNICEF itu berbunyi seperti ini:

"Virus Corona berukuran besar di mana diameter selnya adalah 400-500 mikro dan untuk alasan ini masker mencegah masuknya sehingga tidak perlu menggunakan apoteker untuk berdagang moncong.

Virus tidak mengendap di udara tetapi ditanahkan, sehingga tidak ditularkan melalui udara.

Coronavirus ketika jatuh di permukaan logam, itu akan hidup 12 jam, jadi mencuci tangan dengan sabun dan air cukup baik.

Virus Corona ketika jatuh di atas kain tetap 9 jam, jadi mencuci pakaian atau terkena sinar matahari selama dua jam memenuhi tujuan untuk membunuhnya.

Virus ini hidup di tangan selama 10 menit, jadi memasukkan alat sterilisasi alkohol ke dalam saku memenuhi tujuan pencegahan.

Jika virus terpapar pada suhu 26-27 ° C, virus itu akan dimatikan, karena tidak hidup di daerah panas. Juga meminum air panas dan paparan sinar matahari akan membantu

Dan jauhi es krim dan makan dingin itu penting.

Berkumur dengan air hangat dan garam membunuh kuman amandel dan mencegahnya bocor ke paru-paru.

Ketaatan terhadap instruksi ini memenuhi tujuan mencegah virus.

UNICEF

Mohon sampaikan informasi yang baik untuk mencegah ketakutan yang tidak perlu".

Pesan ini bermula dari luar negeri. Awalnya dalam bahasa Inggris. Dalam versi bahasa Inggris bahkan mencatut nama Wakil Direktur Eksekutif Kemitraan UNICEF, Charlotte Petri Gornitzka.

Sampai di Indonesia, pesan ini menyebar ke media sosial dalam bahasa Indonesia. Kebanyakan dalam pesan yang beredar versi Indonesia tak ada nama Petri Gornitzka. Hingga kini pesan itu sendiri masih terus menyebar di media sosial. Tim cek fakta mainmain.id salah satunya menemukan pesan itu di Facebook.

Beruntung UNICEF merespon cepat hal ini. Mereka segera melabeli pesan itu dengan 'Hoax'. Wakil Direktur Eksekutif Kemitraan UNICEF, Charlotte Petri Gornitzka juga membuat sanggahan. Ia meminta para buzzer berhenti mengkaitkan namanya dalam pesan palsu tersebut.

“Mengeluarkan informasi yang keliru di masa krisis kesehatan seperti ini, dapat menyebabkan paranoia, ketakutan, dan stigmasisasi,” ujar Gornitzka. “Ini juga akan mendorong orang merasa panik, sehingga tidak berani melakukan check-up. Dan itu, membuat tubuh mereka semakin rentan terhadap virus,” imbuhnya.

Ia juga menghimbau masyarakat untuk tak menelan mentah-mentah informasi seputar Coronavirus. Baiknya, para warga melakukan double check terkait akurasi sebuah isu secara mandiri. Sebab, informasi hoaks di saat seperti ini memang merajalela dan sulit dibendung. 

Meskipun UNICEF adalah organisasi yang cukup kredibel, namun yang lebih berhak menghimbau masyarakat terkait isu kesehatan adalah World Health Organization (WHO).  Secara aktif, baik UNICEF maupun WHO telah berupaya menangkal informasi hoaks terkait Coronavirus dengan melakukan kampanye ke berbagai sosial media. Mulai dari Facebook, Instagram, LinkedIn, hingga TikTok.(*)

 
Related Articles
Current Issues
Awas! Hoaks Starbucks Larang Karyawannya Ucapkan Selamat Natal

Interest
Gak Punya Kuota Buat Buka Situs? Update Coronavirus Bisa Lewat Whatsapp

Interest
Awas Hoaks! Benarkah Ada Perayaan Pembukaan Lockdown di Arab Saudi?