Interest

Awal Mula Kisah Pahit Para Buruh di Balik Manisnya Es Krim Aice

Surya Dipa Nusantara

Posted on March 11th 2020

Salah satu ilustrasi bentuk protes yang ramai dibagikan di Twitter dengan tagar #BoikotAice. (Twitter)

 

Gelombang demonstrasi pekerja pabrik es krim Aice masih deras dan konsisten sejak November lalu. Perusahan yang menjadi sponsor Asian Games pada 2018 lalu itu, dicecar oleh para buruh dengan berbagai tuntutan. Tampaknya, di balik setiap jilatan manis yang sampai di lidah, ada nasib pahit yang harus dipanggul para buruh dengan upah di bawah rata-rata.

Ada sederet aturan yang diterapkan oleh PT. AFI—perseroan tempat es krim Aice di produksi—yang bikin dahi mengerut. Antara lain adalah, para pegawai hanya diberi jatah libur satu hari dalam satu minggu. Artinya, dalam satu bulan, libur dua hari hanya akan didapat para pegawai jika mereka beruntung.

Selain itu, upah yang diterima para pekerja juga tidak sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). Lokasi pabrik yang berada di Bekasi, seharusnya PT. Alpen Food Industry (AFI) memberikan upah minimal 3,3 juta. Tapi, para pegawai hanya menerima 2,7 juta rupiah, dan kerap kali jam kerja lembur mereka cuman dibayar seadanya. Menurut perjanjian, mulanya para pegawai akan diupah 20 ribu rupiah per jam. Namun, saat gajian, mereka hanya menerima separuhnya. 10 ribu rupiah per jam.

Aturan yang dirasa konyol lainnya adalah, para pegawai juga tak ditanggung biaya pengobatannya jika terjadi kecelakaan kerja. Dilansir dari Tirto, Gugun (24), saat jari tangannya putus karena kecelakaan kerja, ia harus merawat dan mengobati dirinya sendiri. Perusahaan angkat tangan, dan Gugun tak diberi banyak waktu libur.

 

Gugun (24), karyawan Aice yang jari tangannya putus karena kecelakaan kerja. Ia mengaku biaya pengobatan ditebus sendiri. (Arimacs Willander)

 

Sebagai perusahaan, PT. AFI kerap mangkir dalam memenuhi hak pekerjannya. Mereka juga tak memberi cuti hamil dan haid bagi pegawai perempuan. Alih-alih diberi dispensasi, justru beberapa pekerja dipecat secara sepihak lantaran hamil. Sederet problema inilah yang kemudian menggerakan 644 dari 1.233 pekerja mogok pada November, 2017 silam.

Ketidakadilan pun tak kunjung mereda, memanggil para buruh lain untuk merapatkan diri ke barisan protes. Kondisi perusahaan yang menargetkan produksi 1,8 juta batang es krim tiap harinya ini, melemah. Tak hanya dari dalam, nasib getir para buruh pun juga membangkitkan solidaritas dari masyarakat. Sejumlah aliansi aktivis, mahasiswa, pengacara, dan masyarakat pun turut terlibat dalam demonstrasi.

Dibalik gemerlapan Aice dengan segala puja-puji sebagai es krim termurah, ada keringat buruh yang diperah habis-habisan untuk satu batang es krim. Bekerja bertahun-tahun, banyak buruh yang masih berstatus sebagai training, dan tak kunjung diangkat sebagai pegawai tetap. Poin itulah yang menjadi landasan tuntutan. Para demonstran meminta, PT. AFI untuk mengangkat mereka sebagai pegawai tetap. Agar, tuntutan mereka tak bisa dilanggar dan memiliki payung hukum yang jelas.

Meskipun pada Desember 2017 lalu sempat menemui kesepakatan bahwa setiap pegawai akan diangkat sebagai pegawai tetap, namun PT. AFI kembali berulah dengan melakukan PHK massal terhadap para pegawainya. Gelombang aksi massa pun kembali bergejolak. Ditambah, ada sebuah fakta tentang tingginya angka keguguran para pegawai. Karena, buruh hamil dipaksa bekerja hingga malam hari. Hal itu, memicu kemarahan massa dan tagar #Boikot Aice menggema di Twiter.

Hingga hari ini, para buruh masih gigih berjuang dengan menuntut keadilan bagi kaum pekerja. Mereka menuntut agar nasibnya sama setimpal manisnya dengan es krim buatan mereka. (*)

Related Articles
Interest
Ingat Tentara Gurkha di Pertempuran Surabaya? Kini Jadi Penjaga MTR Hongkong

Current Issues
Awal Mula Ricuh Hindu-Islam di India

Current Issues
Konflik India Dipicu Oleh Sentimen Politis