Current Issues

Konflik India Dipicu Oleh Sentimen Politis

Surya Dipa Nusantara

Posted on February 27th 2020

INDIA—Donald Trump, presiden Amerika Serikat, baru saja mengatakan bahwa India adalah negara yang toleran, dalam lawatannya Sabtu lalu (22/2). Sehari setelahnya, kerusuhan pecah dipicu UU Kewarganegaraan yang dinilai meminggirkan masyarakat muslim itu.

Beleid anyar itu berisi keputusan pemerintah yang akan mempercepat pemberian kewarganegaraan bagi imigran yang dipersekusi oleh negaranya. Imigran itu datang dari Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan yang tengah dilanda konflik panjang. Namun, yang celaka adalah, para imigran diberikan kewarganegaraan dan kebebasan untuk memeluk agama di India seperti Hindu, Kristen, Buddha. Namun, tak ada nama Islam di daftar itu. Hal itulah yang kemudian menjadi percikan api konflik ini.

Para aktivis pro-demokrasi dan masyarakat muslim bahu membahu turun ke jalan. Mereka melayangkan protes, dan menuding negara bertindak diskriminatif. Sementara masyarakat yang setuju dengan peraturan itu pun juga turun, atas nama mempertahankan konstituen. Bahkan, partai pendukung penguasa, Bharatiya Janata Party (BJP) dalam sebuah pidato yang provokatif, mengatakan agar orang-orang Hindu membabat habis warga muslim yang tak patuh pada kebijakan pemerintah.

Akhirnya, pada hari Minggu (23/2) konflik sipil pun pecah. 12 Kilometer dari pusat kota Delhi, di dua kota kecil India, Mumbai dan Jaipur gesekan bermula. Dipicu dari aksi longmarch masyarakat muslim, dan mahasiswa pro-demokrasi menuntut pembatalan undang-undang. Di tengah jalan, sekelompok pro-pemerintah menghadang mereka. Kelompok pemerintah, dan masyarakat muslim India pun saling bertukar batu, dan bentrok. Akibatnya, darah kembali tertumpah.

Tak hanya itu, sejumlah pertokoan umat muslim pun juga dijarah. Sementara, masjid-masjid dibumihanguskan oleh massa. Setidaknya, ada 200 orang lebih yang terluka. Sedangkan yang meninggal dunia, hingga artikel ini diturunkan sudah menelan 30 korban jiwa. Salah satunya adalah Mohammad Isthiaq Khan, seorang yang dadanya diterjang peluru panas beberapa detik setelah ia membuka jendela kamarnya.

Mohammad Istihiaq, biasa disebut dengan panggilan Raja oleh keluarganya. Di Minggu pagi itu, ia terbangun karena suara bisik masyarakat yang meneriakan chantrasis agar sebaiknya seluruh warga India patuh pada pemerintah. "Hindustan mein rehna hoga Jai Shree Ram Kehna hoga ('jika kalian ingin tetap tinggal di India, kalian harus menyayikan 'Jai Shree Ram')"

Raja penasaran. Ia pun membuka kamarnya untuk melihat situasi. Baru beberapa langkah mendekati balkon. Tanpa aba-aba, ia jatuh terkapar bersimbah darah, satu detik setelah bunyi nyalak senapan terdengar nyaring datang dari bawah. Raja dan keluarganya tak tahu apa kesalahannya sehingga ia harus ditembak. Rupanya, satu-satunya alasan adalah karena Raja adalah seorang muslim, yang menjadi korban kemarahan yang membabibuta.

Raja-Raja lain pun terus datang. Kemarahan semakin membesar dan meluber ke kota-kota lainnya. Termasuk New Delhi, Ibukota Negara Sungai Gangga. Kerusuhan ini memang telah lama tak terjadi di India. Terakhir, riwayat terburuk India dalam perang saudara terjadi pada tahun 1984 silam. Saat lebih dari 3.000 orang Sikh terbunuh, dalam sebuah perang melawan komunitas Delhi.

Hingga hari ini, Kamis (27/2), suasana di India masih mencekam. Kota-kota menjadi sunyi seperti kota mati. Hanya ada sisa reruntuhan, dan kemarahan mulai mereda. Sementara, Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang sekaligus pimpinan partai PJB, mengatakan agar masyarakat untuk tenang. Ia berjanji akan menyelamatkan nasib orang-orang muslim. Tapi, warga tak percaya. Karena, selain sebagai Perdana Menteri, partai pemimpin Modi lah yang menyulut sentimen masyarakat terhadap warga muslim.

 

Related Articles
Current Issues
Awal Mula Ricuh Hindu-Islam di India

Interest
Awal Mula Kisah Pahit Para Buruh di Balik Manisnya Es Krim Aice

Current Issues
India Sulap 20 Ribu Gerbong Kereta Jadi Kamar Rumah Sakit Dadakan