Current Issues

Awal Mula Ricuh Hindu-Islam di India

Surya Dipa Nusantara

Posted on February 27th 2020

 

Situasi India sedang mencekam. Gelombang gerakan aksi massa yang menolak undang-undang anyar adalah mula dari titik api perselisihan. Umat muslim di India, merasa bahwa UU Kewarganegaraan yang baru saja ditandatangani oleh Perdana Menteri Narendra Modi itu problematis. Karena, dinilai diskriminatif terhadap masyarakat muslim.

Beleid anyar itu berisi keputusan bahwa pemerintah India akan memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang dipersekusi oleh negara asalnya seperti Pakistan, Afghanistan, dan Bangladesh. Namun, undang-undang itu hanya berlaku bagi imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama-agama lain. Sementara untuk imigran yang beragama muslim, pemerintah tak merasa perlu untuk menyediakan suaka. Alasanya? Tidak jelas. Tentu saja, keputusan itu memancing kemarahan umat, dan pemerintah dianggap tak demokratis.

Seperti bola salju, gelombang protes pun kian hari kian membesar. Sementara, sang Perdana Menteri, tak kunjung membuka ruang diskusi dengan masyarakat. Ia, justru menghimbau agar masyarakat Muslim tak perlu khawatir dengan beleid yang baru saja ia sahkan.

 

(Telegraph)

 

"Muslim yang adalah anak dari tanah ini dan leluhurnya adalah anak dari ibunda India tidak perlu khawatir [dengan UU ini]," ujar Modi (69), dilansir dari AFP

Selain dinilai diskriminatif, umat Muslim India pun juga khawatir bahwa negara akan meringkus mereka dan membungkamnya di kamp penahanan, seperti yang terjadi di Uighur, China. Karena, desas-desus akan upaya pemerintah India meletakan negaranya sebagai basis agama Hindu, telah sampai di masyarakat. Sementara, menurut Perdana Menteri, bahwa isu tentang kamp penahanan digoreng oleh partai oposisi untuk menciptakan konflik di masyarakat.

“Tidak ada kamp penahanan. Itu hanya kebohongan, kebohongan, dan kebohongan saja,” ujarnya.

 

 

Namun keputusan pemerintah mengesahkan beleid itu memicu kerusuhan. Belakangan, tensi antara masyarakat Hindu dan Muslim di India juga turut memanas. Bahkan, saat tengah melakukan long march, dua kelompok ini sempat bentrok. Akibatnya, kota Jaipur dan Mumbai dibumihanguskan.

Sentimen antara keduanya sebetulnya telah terjadi lama. Cekcok diantara dua kelompok ini juga dipicu oleh urusan sapi. Bagi umat Hindu, hewan itu dikultuskan karena dianggap sebagai dewa. Sementara, bagi umat Muslim, sapi adalah ternak yang layak dikonsumsi.

Nah, sebab itulah, umat Hindu merasa bahwa Muslim tak menghargai mereka. Konflik tentang hal ini dijelaskan secara gamblang di buku Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir karya Marvin Harris, yang diterbitkan oleh Marjin Kiri. Sinisme yang tercipta karena perbedaan dalam memandang budaya inilah yang sebetulnya menjadi ikhwal perang saudara India terjadi. Sementara, beleid UU Kewarganegaraan hanyalah momentum saja untuk memicu kemarahan massa. (*)

Related Articles
Current Issues
Konflik India Dipicu Oleh Sentimen Politis

Current Issues
Trik Pemain Sepakbola Menghadapi Bulan Puasa

Interest
Awal Mula Kisah Pahit Para Buruh di Balik Manisnya Es Krim Aice