Interest

Nggak Usah Banyak Alesan, Sekarang Baca Buku Udah Lebih Mudah!

Ilham Kape

Posted on July 4th 2018

Richard Koch, salah seorang kontributor Huffington Post, pernah menuliskan bahwa hobi adalah media yang kita butuhkan untuk break sejenak dari kesibukan. “It’s time out, pure personal indulgence and refreshment,” katanya. Dan jika menurut Koch: a hobby is something you know about, and build greater knowledge over time, maka menurutku membaca adalah salah satu kegiatan yang pas untuk kategori itu.

Topik hobi membaca ini sengaja gue angkat bukan tanpa sebab. Selain karena belum jauh dari peringatan Hari Sastra Indonesia yang diperingati setiap tanggal 3 Juli, juga karena gue prihatin sama kesadaran membaca masyarakat Indonesia yang rendah banget. Coba deh ingat-ingat lagi kapan terakhir kamu membaca. Baca buku atau media yang memuat berita loh ya, bukan sekadar status teman atau gebetan di medsos. Please, deh.

 

Perlu lo tau, kalau lewat penelitian bernama World's Most Literate Nations (WMLN) yang dilakukan John Miller dari Central Connecticut State University in New Britain pada 2016, kemampuan literasi masyarakat Indonesia tuh ada di urutan ke-45 dari 61 negara. Ketinggalan jauh sama negara-negara Asia lain kayak Korea Selatan, Jepang, bahkan tetangga sendiri yakni Singapura! Ckckck.

Posisi ini kita dapatkan setelah dilakukan tes pencapaian literasi dan karakteristik perilaku literasi. Mulai dari jumlah perpustakaan, jumlah media massa, hingga ketersediaan perangkat komputer di suatu negara. Penelitian dengan hasil miris ini, makin terasa mengenaskan jika diperkuat data statistik UNESCO. Masak dari 61 negara yang didata tingkat literasinya kita ada di peringkat ke-60? Terjepit tepat di antara Thailand dan Botswana lagi. Hiks.

Padahal kalau dari segi kuantitas, media massa kita nggak kalah banyak. Nggak tahu deh kalau soal kualitasnya. Terus kalau soal ketersediaan perangkat komputer, rasa-rasanya orang kita sudah cukup melek teknologi deh. Soal perpustakaan pun, negara kita bahkan punya Perpustakaan Nasional dengan gedung tertinggi di dunia. Memiliki 27 lantai, lengkap dengan layanan anak, layanan lansia, bahkan layanan difabel disamping tentunya koleksi buku yang lengkap.

Terus, kenapa masih aja tingkat literasi kita rendah?

Penyebabnya ada banyak. Sebagaimana dilansir dari laman CNN Indonesia, salah satunya karena belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Membaca masih dianggap hobi, bukan kewajiban. Ini sangat disayangkan mengingat industri penerbitan kita sebenarnya sedang menggeliat. Cek deh ke toko buku. Ada banyak loh buku baru dari penulis-penulis baru yang memenuhinya. Belum lagi yang diterbitkan secara online. Hal ini kan seharusnya bisa bikin kita melek literasi dan mematahkan data UNESCO dan WMLN di atas.

Di zaman yang apa-apa pada naik ini, mau beli buku, majalah, koran, bahkan yang versi digital itu mikirnya bisa sampai 100 kali. Belum lagi revisi berpikirnya. Belum dengan alasan malas bawanya karena berat dan makan tempat. Belum juga ditambah alasan perpustakaan jauh—yang mana butuh ongkos jalan, tempatnya apek, gloomy, dan bukunya nggak terawat. Duh, kalau begini terus, kapan baca bukunya dong?

Nggak usah khawatir karena Perpustakaan Nasional punya kabar gembira biar kalian nggak ngeles muluk kayak bajaj. Bahwa sejak November 2017 lalu, mereka mengeluarkan aplikasi ePustaka bernama iPusnas. Nggak tanggung-tanggung, koleksi di dalamnya mencapai 20.000 judul. Mulai dari buku-buku populer, karya sastra, hingga jurnal, bisa kamu dapatkan di sini. Gratis lagi. Kita tinggal unduh aplikasinya lewat Play Store atau App Store, registrasi seperti kamu bikin akun media sosial kebanyakan, pilih buku, terus pinjam deh. 

Aplikasi ini dibuat sekeren dan se-user friendly mungkin buat dipakai semua kalangan. Apalagi generasi milenial kayak kita. Sebab selain bisa memilih banyak buku berdasarkan kategori, kita juga bisa bikin status yang berisi rekomendasi dan ulasan soal buku yang kita baca. Bisa berkomentar sesama pengguna iPusnas, bisa membaca dalam mode offline lagi. Nggak perlu deh khawatir sama kuota. Dan selain iPusnas, ada juga aplikasi serupa milik Badan Perpustakaan Jakarta yang bernama iJakarta. Wah, makin kaya aja nih rujukan membaca gratisan.

Dengan meningkatnya kebutuhan kita sama perangkat genggam, peluncuran iPusnas ini diharapkan bisa meningkatkan pula kebiasaan membaca di masyarakat kita.

Informasi lebih lanjut tentang iPusnas dan Perpustakaan Nasional, bisa kalian intip di Twitter mereka @perpusnas1 atau Instagram mereka @perpusnas.go.id. Salam literasi!

Artikel Terkait
Interest
Kamu Sekarang Bisa Unduh Ribuan E-book Gratis dari Perpustakaan Kota Sydney!

Interest
Dear Gen Z, Pendapatanmu Bakal Kalahkan Milenial 10 Tahun Lagi Nih...

Interest
Ngobrol Bareng Stranger Ada Manfaatnya, Lho!