Sport

Texas Western, Tim Kecil yang Mengubah Budaya Basket Amerika Serikat

Ridho

Posted on February 20th 2020

Miners -sebutan Tim basket putra Texas Western (kini University of Texas at El Paso)- memiliki sejarah penting yang mengubah wajah basket Amerika Serikat. Hal itu terjadi setelah mereka mengalahkan tim kuat, Kentucky, di final NCAA 1966. Beberapa pemain mereka kemudian bermain di liga profesional seperti ABA dan NBA.

Miners punya sejarah bagus di tahun itu. Bukan hanya memenangkan kejuaraan NCAA 1966, Don Haskins sang pelatih juga berhasil membuka ruang yang membuat pemain keturunan Afrika sulit mendapat tempat di tim, menjadi sekumpulan orang yang dielu-elukan.

Dengan sikap terbukanya itu, ia menjadi pelatih pertama dalam sejarah bola basket kampus yang memainkan lima pemain utama berkulit hitam. Kisah mereka terekam dengan baik lewat film drama olahraga Glory Road (2006).

Kisah dimulai ketika Texas Western merekrut Haskins ke El Paso, sebuah kota di tepi sungai Rio Grande di Texas, untuk mengurus tim basket putra mereka. Namun, saat itu kondisinya benar-benar sulit, tidak ada ongkos untuk merekrut pemain bagus. Texas Western hanyalah sebuah kampus kecil di kota yang juga kecil. Orang-orang berbakat enggan pergi ke sana, bahkan jika kampus itu menawari beasiswa penuh. Jadi, tugas Haskins saat itu benar-benar berat.

Dengan dana seadanya, Haskins mengincar pemain-pemain berkulit hitam. Tak hanya di sekolah-sekolah Haskins sampai ke turun jalanan Kota New York, dan mendatangi orangtua mereka untuk meminta izin. Ia meyakinkan mereka supaya mau ikut dengannya pindah ke Texas.

Haskins pun akhirnya mendapat kepastian dari tujuh keturunan Afro-Amerika untuk dibawa sekolah dan bermain basket di Texas Western. Ketujuh orang itu di antaranya: David Lattin, Nevil Shed, Orsten Artis, Willie Cager, Harry Flournoy, Bobby Joe Hill, dan Willie Worsley.

Pada musim itu, para penggawa Texas Western melalui berbagai masalah. Bukan hanya terjadi di internal mereka, tetapi juga mendapat tekanan dari luar. Mereka mengalami bullying secara verbal maupun fisik, bahkan teror yang mengerikan. Namun, Haskins menjaga mereka dengan baik supaya terus mau bertanding di tengah-tengah ketidaksukaan masyarakat Amerika Serikat terhadap orang-orang kulit hitam.

Don Haskins ketika menangani Texas Western Miners di NCAA pada 1966. Foto: Associated Press via El Paso Times

Pada 1960-an, Amerika Serikat sedang ada di masa yang cukup bergejolak. Rasisme ada di mana-mana, membuat kalangan keturunan Afrika kesulitan mendapat kesempatan yang sama dengan lainnya. Pertandingan melawan Texas Western menjadi pertandingan yang mengubah segalanya. Pertandingan itu tercatat sebagai pertandingan penting dalam sejarah basket Amerika Serikat.

Don Haskins, pelatih legendaris itu, mencoba menyatukan tujuh pemain kulit hitam dengan lima pemain kulit putih. Ia perlu memastikan semua anggota timnya tetap bersatu untuk memenangkan kejuaraan, meski di luar sana tekanan datang banyak sekali. Namun, Haskins dan timnya berhasil melalui itu dengan akhir yang menggembirakan.

Lewat keberhasilan Haskins memainkan lima pemain utama kulit hitam. Sekolah-sekolah lain pun semakin terbuka untuk menggunakan jasa mereka di tim mereka. Upaya Haskins yang pada awalnya hanya ingin menjadikan Texas Western juara, ternyata memiliki dampak yang lebih besar. Pertandingan final 1966 memberi warna sendiri yang kemudian membukakan jalan bagi mereka yang tampak minoritas mendapat hak yang sama untuk berkarir.

Kini, Don Haskins memang telah wafat pada 2008 silam, tapi sejarahnya tidak ikut terkubur bersama jasadnya. Kisah keberhasilannya bersama Texas Western masih tercatat sebagai pertandingan penting yang menjadi pelajaran bagi generasi-generasi penerusnya.

Related Articles
Sport
Kisah Bill Russell, Pelatih Pertama NBA yang Berkulit Hitam

Sport
Earl Lloyd, Pemain Pertama Berkulit Hitam di Laga NBA

Sport
Tiga Hari Absen, NBA Bakal Lanjutkan Playoff Sabtu Ini