Sport

Earl Lloyd, Pemain Pertama Berkulit Hitam di Laga NBA

Ridho

Posted on February 20th 2020

Nama Earl Lloyd mungkin terdengar asing bagi kalian. Tapi ia adalah sang pionir kulit hitam di liga paling tersohor.

Lloyd tak hanya jadi kunci membuka kesempatan orang-orang keturunan Afrika untuk bermain di NBA. Akan tetapi, Lloyd punya catatan prestasi yang mentereng selama bermain basket.

Kisah Earl Lloyd menuju NBA Hall of Fame dimulai pada tahun 1950. Saat ia dan dua orang pemain kulit hitam lainnya terpilih lewat NBA Draft.

Lloyd disebut sebagai pemain kulit hitam pertama NBA lantaran ia merupakan satu dari tiga pemain yang lebih dulu mendapat kesempatan bermain.

Kenangan Lloyd tentang karirnya bahkan hampir tidak bisa dikatakan manis di satu sisi. Pada 1955, misalnya, ketika ia membela Syracuse Nationals di final, pendukung tim lawan Fort Wayne Pistons di Indianapolis meneriakinya, menyuruhnya pergi dengan kalimat kasar.

“Para penggemar di Indianapolis, mereka berteriak, ‘Pulang sana ke Afrika.’ dan seringkali saya mendengar kata-kata merendahkan,” ujar Lloyd, seperti dikutip nba.com.

Lloyd memulai karir basketnya saat ia menginjak bangku sekolah. Saat itu Lloyd membela tim West Virginia State, dan di tim itulah ia menjadi pemain andalan. ­­Lewat permainannya yang mengesankan, akhirnya Washington Capitols merekrut Earl Lloyd.

Washington Capitols, ternyata memang memilihnya pada NBA Draft 1950. Lloyd menjadi pemain ketiga yang terpilih di draft tahun itu bersama Chuck Cooper (Boston Celtics)—pemain kulit hitam pertama yang terpilih di NBA Draft—dan Nat Clifton (New York Knicks).

Namun, Lloyd menjadi pemain hitam pertama yang bermain di NBA karena Capitols memainkannya pada Oktober 1950. Sementara itu, Cooper dan Clifton baru main pada November.

Earl Lloyd (11) saat membela Syracuse Nationals di NBA pada 1952-1958. Foto: AP

Selama semusim, Capitols hanya memainkannya di tujuh pertandingan. Lloyd memang tidak punya banyak kesempatan bermain sampai ia bergabung ke militer di Fort Sill, Oklahoma, dan terlibat di Perang Korea. Amerika Serikat mengirimnya selama dua tahun untuk menunaikan masa bakti kepada negara.

Lloyd tidak berlama-lama di dunia militer. Ia kembali dari perang, pulang ke Amerika Serikat tanpa kurang apapun. Ia sehat dan siap bermain basket lagi. Namun, Capitols bubar karena masalah bisnis yang sulit.

Ia pun menjadi seorang pemain tanpa rumah (free agent).  Dalam kondisi itu, Syracuse Nationals—yang kini menjadi Philadelphia 76ers—meminangnya pada 1952. Ia pun berhasil kembali ke NBA pasca terjun ke zona perang.

Selama karirnya, Lloyd hanya mencatatkan rata-rata 8,4 poin, 6,4 rebound, dan 1,4 asisst. Namun, ketika Nationals memenangkan gelar pada 1955, ia justru menjalani musim terbaik selama karirnya. Secara statistik, saat itu ia mencatatkan 10,2 poin dan 7,7 rebound untuk timnya.

Kendati tidak begitu gemilang dalam catatan statistik, nama Earl Lloyd dikenang sebagai pionir pembuka jalan. Pada acara tahunan bertajuk Annual Black Heritage Celebration di Cleveland, Ohio. Cavaliers menanyangkan film dokumenter tentang Lloyd di The Quickens Loan Arena. Film itu berjudul The First to Do It.

Karir Lloyd di NBA tidak berakhir di Nationals. Ia justru pensiun sebagai seorang pemain Detroit Pistons setelah membela tim itu selama dua musim. Secara total, Lloyd menghabiskan sembilan musim di NBA, yang mana bagi orang-orang kulit hitam, kisah itu menjadi inspirasi mereka.

Setelah pensiun, Lloyd menetap di Motor City—sebutan Kota Detroit—untuk menjalani hari tuanya sebagai pencari bakat dan asisten pelatih.

Ia hampir menjadi kepala pelatih berkulit hitam pertama sebelum Bill Russell, legenda NBA, mengambil gelar itu. Lloyd baru bisa menjadi kepala pelatih pada 1970.(*)

Related Articles
Sport
Texas Western, Tim Kecil yang Mengubah Budaya Basket Amerika Serikat

Sport
Kisah Bill Russell, Pelatih Pertama NBA yang Berkulit Hitam

Sport
Tiap Februari, Amerika Serikat Peringati Black History Month