Entertainment

Adaptasi Novel Eka Kurniawan, Edwin Bakal Balik Gunakan Film Analog

Surya Dipa Nusantara

Posted on February 19th 2020

 

Akhirnya, setelah bertahun-tahun menjadi rumor, film terbaru besutan Edwin yang mengadaptasi sebuah novel karya Eka Kurniawan akan mengudara di tahun 2021. Film itu bertajuk Seperti Dendam, Rindu Harus di Bayar Tuntas. Edwin hanya membocorkan salah satu cast saja. Ia akan kembali mengajak Ladya Cheryl untuk beraduperan di film terbarunya.

Kelak, di film tersebut Ladya Cheryl akan berperan sebagai Iteung. Jika mengacu pada novelnya, Iteung adalah sesosok srikandi tangguh yang berkelahi dengan pendekar sebuah kampung bernama Ajo Kawir. Dikenal sebagai jagoan, Ajo Kawir hancur lebur saat berhadapan dengan Iteung. Namun, di tengah kekalahan itu, alih-alih dendam justru ia jatuh hati pada sosok Iteung. Disitulah letak menarik dari kisah ini.

 

Namun, Ladya pun sempat kaget ketika ia ditawari oleh Edwin untuk kembali bermain di filmnya. Karena, keduanya telah tidak bertatap muka selama delapan tahun. Tapi, Edwin yakin bahwa Ladya masih cinta kepada film. Oleh sebab itu, ia menghubunginya untuk kembali bermain di film Edwin. Tawaran tersebut sempat hampir ditolak sebetulnya oleh Ladya Cheryl.

“Gua sebenernya ragu, karena gue tahu film ini sudah diproduksi dari tahun lalu. Gue bilang ke Edwin mau baca dulu skrip dan novelnya. Kalau teratarik, gue akan coba memainkan peran itu,” tutur Ladya dilansir dari Kompas.

Kolaborasi antara Edwin dan Ladya bukanlah kali pertama. Jauh sebelum mengambil peran sebagai sutradara film komersil, keduanya kerap berkolaborasi di film-film pendek Edwin seperti Hullahoop Sounding, Trip to the Wound, serta A Blind Pig Who Wants to Fly. Film-film itulah yang membuka jalan sutradara film Aruna dan Lidahnya itu ke berbagai festival bergengsi kaliber internasional.

 

 

Edwin kembali rindu dengan ide gila. Di film ini, ia akan kembali merekam dengan film analog  16mm. Ia sengaja memilih itu karena Edwin ingin memperdalam sensasi di filmnya, yang memiliki latar tahun 80-90’an. “Metode ini udah sering kami gunakan sejak pertama bikin film. Jadi sudah terbiasa. Ini medium tempat kita belajar juga seharusnya,” tutur Edwin.

Karena keputusan itulah membuat proses pembuatan film ini menjadi lama. Menurut Edwin, Indonesia belum ada laboratorium film analog yang mumpuni. Maka, siasatnya adalah ia harus mengedit film ini di luar negeri. “Tapi bagaimanapun sangat excited karena membawa format analog untuk ditampilkan di digital,” tutup Edwin.

 

 

Kira-kira akankah film ini bakal membawa nama Edwin melangkah lebih jauh? Ataukah ia kembali diganjar sebagai best director seperti di FFI tahun 2018? Kita tunggu dan nantikan saja. Jadi gak sabar nih nungguin siapa yang jadi Ajo Kawir~ (*)

Artikel Terkait
Entertainment
Film 'Anaconda' 1997 Bakal Dibuat Lagi, Sony Gandeng Penulis Naskah 'Divergent'

Entertainment
Belajar Makna Kehidupan dari Film 'Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini' (NKCTHI)

Entertainment
Sepanjang Karir, Kristen Stewart Sebut Hanya 5 Film yang Dianggapnya Bagus