Current Issues

Akibat Climate Change, Beruang Kutub Makin Kurus dan Susah Berkembang Biak

Vita Kartika

Posted on February 16th 2020


Seekor induk dan anak beruang kutub yang sedang berburu mangsa di tengah-tengah laut es yang mencair (CNN)

Apa yang terlintas di pikiranmu kalau mendengar kata beruang kutub? Satwa liar yang tinggalnya di Kutub Utara, mamalia laut berbulu putih lebat, biasanya yang betina hidup berkelompok sama anak-anaknya, dan badannya bongsor. Hmm, apa lagi ya?

Well, sayangnya, pengetahuanmu tentang polar bear atau beruang kutub ini sudah nggak sepenuhnya benar. Lho, kok bisa? Yup, dilansir dari CNN, beruang kutub sekarang memiliki tubuh yang jauh lebih kurus dibandingkan beberapa tahun lalu.

Nggak cuma itu, beruang kutub juga kini kesulitan berkembang biak. Alhasil, jumlah anak beruang kutub pun mengalami penurunan yang drastis.

Kondisi yang terjadi pada beruang kutub ini adalah bukti nyata dari bahaya perubahan iklim atau climate change. Bukan cuma bagi lingkungan dan manusia saja, tapi juga bagi para hewan dan rantai makanan.

Bisa dibilang, beruang kutub adalah satwa yang terkena imbas perubahan iklim paling besar. Bagaimana tidak, beruang kutub kan tinggalnya di Arktik, atau area yang beriklim kutub dan penuh dengan lapisan es.

Masalahnya, climate change menyebabkan lapisan es ini mencair. Nggak main-main guys, dilansir dari National Geographic, suhu di Kutub Utara saat ini adalah yang terpanas dalam 115 ribu tahun terakhir. Bayangin aja!

Laut es di Kutub Utara yang mencair secara signifikan (National Geographic)

Padahal, sehari-harinya beruang kutub sangat bergantung pada laut es. Mulai dari berburu makanan utama mereka yang berupa anjing laut, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, membuat sarang, berpasangan, dan berkembang biak.

Makanya, ketika laut es mencair, mereka jadi kesusahan dan akibatnya tubuh mereka jadi makin kurus dan tidak bisa berkembang biak sebagaimana mestinya.

“Perubahan iklim di Arktik sangat mempengaruhi kehidupan polar bears. Bisa dibilang mereka adalah pertanda bahaya yang paling awal tentang dampak climate change ini,” tutur Kristin Laidre, seorang profesor ilmu kelautan dari University of Washington.

Laidre dan para koleganya inilah yang memantau kehidupan beruang kutub betina dewasa di Baffin Bay, Greenland, pada dua periode waktu, yaitu pada 1990an dan 2010an. Dari temuannya, pada 2009 hingga 2015, para beruang kutub ini menghabiskan rata-rata 30 hari lebih lama di daratan dibandingkan pada tahun 1991 sampai 1997.

Hal ini karena laut es mencair secara lebih cepat dan beruang kutub kesulitan mendapatkan anjing laut. Padahal, anjing laut adalah makanan utama yang gizinya paling seimbang buat mereka. Otomatis para polar bears ini jadi makin kurus karena harus berburu ke tempat lain untuk mencari makanan yang nggak ideal.

Seekor beruang kutub kelaparan ditemukan berkelana ke Kota Norilsk yang lokasinya berjarak 500 kilometer dari laut es (CNN) 

Dalam penelitiannya, Laidre memakai skala 1 sampai 3 untuk menilai kondisi tubuh para beruang ini. 1 artinya kurus dan 3 artinya gemuk. Idealnya, beruang kutub harus gemuk supaya mereka tetap hangat di tengah dinginnya suhu kutub.

Dari 352 beruang kutub yang diamati, tahu nggak, ada berapa yang gemuk? Nggak sampai 50 ekor, guys. Kondisi ini menyebabkan para beruang kutub mengalami apa yang disebut sebagai ‘nutritionally stressed’.

Selain itu, perubahan iklim ekstrem ini juga berdampak pada jumlah dan kondisi anak-anak beruang kutub. Nggak cuma karena mereka makin kurus terus jadi susah berkembang biak, tapi juga karena perubahan iklim dan mencairnya es yang membuat keseimbangan musim kawin mereka terganggu.

Sedihnya lagi, kondisi ini memaksa para beruang kutub ini untuk mencari makan sampai ke tempat yang jauh banget dari habitat asli mereka. Di bawah ini, kalian bisa lihat video beruang kutub yang berkelana sampai ke pemukiman Norilsk di Siberia, yang jauhnya 500 kilometer dari laut es.

Fenomena ini terjadi pada Juni 2019 lalu, dan merupakan penampakan beruang kutub pertama di kota itu dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Kalau kalian baca artikel ini, memang susah buat relate karena Kutub Utara kan jauh banget, dan beruang kutub juga bukan hewan yang bisa gampang kita temui di Indonesia.

Tapi, artikel ini justru adalah bukti kalau climate change itu nyata dan kita harus berkontribusi semampu kita untuk menjaga alam. SEBAB efek dari perubahan iklim bisa berdampak ke siapa aja, nggak cuma manusia, tapi terutama lingkungan dan satwa-satwa di alam liar.(*)

Related Articles
Interest
Ketika Dua Aktivis Inspiratif, Greta Thunberg dan Malala Yousafzai Bertemu

Current Issues
Ibu Greta Thunberg Ungkap Perjuangan Putrinya Lawan Autisme di Buku Terbarunya

Current Issues
Anti Plastik, Warga Thailand Belanja Pakai Kandang Ayam sampai Jemuran