Interest

Ngeri! 79 Persen Pemain MOBA Dilecehkan dan Dibully Toxic Player Saat Kalah

Faanissaa

Posted on February 14th 2020

(League of Legends)

Para pemain Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) ternyata rentan jadi korban pelecehan maupun bullying. Ini terjadi ketika mereka kalah dalam sebuah pertandingan. Pelakunya siapa lagi jika bukan para toxic player.

Kalian pasti sudah tahu, toxic player memang termasuk 'racun' dalam games berbasis MOBA. Mereka adalah pemain yang doyan melontarkan kata-kata kasar yang bersifat memojokan, menghina, dan meremehkan para pemain yang lainnya.

Sebuah survei yang beredar di Reddit menunjukkan 79 persen para pemain MOBA mengalami pelecehan maupun bullying seusai pertandingan karena dianggap menjadi penyebab kekalahan.

Fakta-fakta itu diungkap oleh seorang redditor bernama Celiana. Dia melakukan survei pada 3.784 responden yang memainkan League of Legends (LOL). Sebanyak 98 persen responden mengaku pernah disalahkan oleh rekan satu tim saat pertandingan berlangsung. Sebenarnya hasil survei itu menunjukkan angka 100 persen. Namun hal tersebut tidak mungkin, karena ada margin of error sebanyak 2 persen.

Para pemain mengalami pelecehan maupun bullying saat pertandingan kebanyakan tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Ada 75 persen responden yang merasakan seperti itu.

Sedangkan pemain mengalami pelecehan maupun bullying seusai pertandingan mencapai 79 persen. Dari jumlah itu, 46 persen di antaranya mengaku mengalaminya berkali-kali.

Kalau sudah terlanjur parah. Toxic player yang suka marah-marah itu juga melakukan pelecehan seksual. Terutama pada player perempuan.

Web analisis dailyesports.gg mengatakan toxicity menjadi salah satu problem besar dalam game MOBA, khususnya LOL. Apalagi LOL merupakan game MOBA salah satu yang favorit saat ini. Kalau tanpa pengawasan orang tua, balita pun bisa memainkan game yang sungguh keras ini. 

Lalu mengapa toxic player tumbuh subur di game MOBA ini? 

Ini karena game  MOBA umumnya memerlukan kerja sama tim untuk memenangkan pertandingan. Nah, kerjasama ini akan sulit dilakukan karena umumnya para pemain tidak tahu karakter atau gaya bermain teman satu timnya.

Misalnya dalam satu tim ada tiga orang yang menjadi marksman. Dua sisanya mage. Tidak ada yang mau menjadi tak atau fighter yang keberadaannya sungguh dibutuhkan dalam tim. 

Kalau sudah begitu biasanya para pemain bakal malas memainkan game tersebut. Ujung-ujungnya mereka saling menyalahkan satu sama lain.

Nah keberadaan toxic player ini sulit terdeteksi. Sebab mereka berada di ruang-ruang dunia maya. Oleh karena itu kata-kata kasar dan jorok pun dengan mudah terlontarkan. Padahal kalau di dunia nyata belum para toxic player itu berani memaki-maki orang.

Mainmain.id mau berbagi tips ini untuk menghindar dari toxic player. Caranya, kalian sebisa mungkin kalian bermain bersama teman yang tahu karakter masing-masing. Jika ingin bermain solo, disarankan tidak main di mode rank. Sebab, sehebat apapun mainmu kalau timnya AFK, maka kamu harus ikhlas jika harus turun rank.

Atau, biar tidak menyalahkan teman satu tim, kamu bisa mencari game lain yang faktor kemenangannya bergantung pada kemampuanmu sendiri. Misalnya: Wormzone.io, Gun bound, FIFA, PES, atau main angry bird saja. Hehehe. (*)

 

 
Related Articles
Sport
Evos Esports Dapat Suntikan Dana USD 4,4 Juta

Sport
Kalahkan RRQ Lagi, Evos Juarai M1 World Championship

Sport
Pemain Evos Esports “Donkey” Kepikiran untuk Pensiun