Portrait

Berkenalan Dengan Tirto Adhie Soerjo, Jurnalis Pertama Indonesia

Surya Dipa Nusantara

Posted on February 9th 2020

Tanggal 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Sejak diresmikan oleh Presiden Soeharto, saban tahun konferensi pers nasional selalu digelar dari satu kota ke kota lain. Namun, ada tokoh penting dalam sejarah pers di Indonesia yang wajib kamu tahu.

Ia adalah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Seorang jurnalis yang memiliki nama pena TAS ini, adalah penulis Indonesia pertama yang sekaligus melahirkan surat kabar yang dikelola pribumi pertama kali bernama S.V Medan Prijaji.

Tirto Adhi Soerjo dilahirkan di Blora dengan nama kecil Djokomono. Ia adalah seorang Raden—anak dari keluarga berdarah biru—putra dari Raden Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero. Tirto yang memiliki previlage seorang anak bangsawan, akhirnya mendapat jalan untuk menuntut ilmu yang cukup tinggi. Pada masa kolonial, tak semua orang bisa berkuliah seperti Tirto.  

Sejak masa sekolah di Hogere Burger School (HBS), Tirto mulai aktif menulis. Ia, kerap mengirimkan karya-karyanya di surat kabar, dan namanya pun mulai dikenal. Ia pun sempat melancong di Batavia [Jakarta], untuk bersekolah kedokteran. Namun, kecintaanya pada jurnalistik membuat sekolahnya tak tuntas. Dan Tirto sepenuhnya mengabdikan dirinya sebagai seorang penulis.

Tulisan-tulisan Tirto dikenal tajam, dan berani. Ia berkali-kali harus diseret ke meja hijau hanya karena melontarkan kritik pedas terhadap pemerintah kolonial. Salah satunya adalah saat ia mengungkap skandal pemilihan lurah di daerah Purworejo. A. Simon, salah seorang pejabat Belanda dituding Tirto sebagai otak kecurangan itu. Bahkan, ia mengatai Simon dengan sebutan snoot aap, atau monyet ingusan.

Peristiwa tersebut membuat Tirto kian diawasi. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, Tirto seolah hidup di dalam ‘Rumah Kaca’. Ia tak pernah luput dari pengawasan, dan selalu diintai karena tulisanya. Tirto pun juga sempat dibuang ke Lampung karena kasus itu. Namun, hal tersebut tak meruntuhkan nyalinya sebagai penulis.

Ketika ia beranjak dewasa, Tirto pun mendirikan biro beritanya sendiri bernama Medan Priyayi di Bandung pada tahun 1907. Ketika surat kabar pada zaman itu mayoritas berbahasa Belanda, Medan Priyayi adalah salah satu surat kabar dengan bobot berkualitas yang menggunakan bahasa Melayu.

Karena berbahasa Melayu, ia menjadi mudah dibaca oleh siapapun. Orang miskin kampung, kota, petani, serikat buruh, dan pelajar. Lewat kemudahan akses tersebut, kesadaran bahwa Indonesia tengah hidup dalam penindasan pun mulai bertumbuh dan mengakar.

Namun, napas Medan Priyayi tak panjang. Sejak kemunculannya, pemerintah Belanda berupaya membredel mereka habis-habisan. Karena, keberpihakannya terhadap kaum-kaum marjinal, meresahkan pemerintah Belanda dan membuat kekuasaan mereka merasa terancam. Pada tahun 1912, Tirto Adhi Soerjo kembali diseret ke pengadilan karena tulisannya yang menyebabkan pemogokan buruh.

Hasil dari persidangan tersebut adalah mula dari kehancuran. Tirto dinyatakan bersalah karena dituding sebagai penghasut. Ia pun harus menerima nasib diasingkan di Maluku selama dua tahun.

Pada masa pembuangan, Medan Priyayi diretas oleh pemerintah Belanda. Dan alhasil, mereka pun pailit. Tirto tak lagi punya harta benda saat tiba di Jakarta pada tahun 1914. Ia pun hidup berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya. Salah satunya di bekas hotel miliknya, yang saat itu dialihtangankan oleh anak buahnya, Raden Goenawan.

Namun, sepulang dari masa pembuangan, Tirto menjadi seorang yang lain. Seluruhnya telah musnah, termasuk relasi-relasinya di era perjuangan yang tak berani mendekatinya. Karena, mereka cemas. Jika terpergok berubungan dengan Tirto, mereka akan merasakan penderitaan yang sama: diasingkan, dan dimiskinkan. Tirto pun mengalami penderitaan berat, dan depresi selama bertahun-tahun. Kesehatannya pun kian merosot, dan ia mulai pikun.

Hingga di penghujung tahun 1918, sebuah surat kabar dari Semarang, De Locomotief mengabarkan sebuah lelayu tentang Tirto. Sebuah kuburan di Mangga Dua, Batavia, yang sedikit pun tak berbeda dari kuburan-kuburan lain di sekitarnya, adalah tempat istirahat terakhir pekerja dan jurnalis ini.” 

Ya, Tirto Adhi Soerjo telah wafat pada 7 Desember 1918. Ia dikebumikan dengan sunyi, tanpa ada keriuhan yang mengiringi kepergiannya. Namun, nyawa Tirto kembali dibangkitkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Ia, menghidupkan kembali Tirto dengan nama barunya, Minke. Minke kemudian hidup dalam tetralogi Pulau Buru yang ia tulisnya. Tirto adalah Minke, yang menganggap masalahnya adalah bumi manusia,  dan seluruh isinya.(*)

Related Articles
Entertainment
5 Film ini Membantumu Memahami Rumitnya Dunia Jurnalistik

Current Issues
Mengenang Pramoedya Ananta Toer, Lahirkan Masterpiece Sastra dari Jeruji Penjara

Entertainment
3 Fakta Tentang Bumi Manusia—buku Karya Pramoedya