Current Issues

Ilmuwan Kembangkan Panel Surya Tanpa Matahari

Delima Pangaribuan

Posted on February 4th 2020

 

Kalau panel surya diibaratkan tokoh pahlawan dalam sebuah cerita superhero, kali ini dia tampaknya akan punya 'rival' atau antihero. llmuwan telah mengembangkan jenis pembangkit listrik baru bernama anti-solar panel.
 
Yup, alat ini punya fungsi sama seperti panel surya -- tapi tanpa surya. Ia bekerja dalam kondisi sebaliknya, yakni saat malam hari alias tanpa matahari.
 
Melansir BGR, alat ini bekerja dengan memanfaatkan perbedaan temperatur antara Bumi dengan ruang angkasa pada malam hari. Peneliti menemukan bahwa saat belahan Bumi berputar membelakangi matahari alias malam, permukaan Bumi menjadi dingin.
 
Panas yang sebelumnya ada di permukaan Bumi selama siang pun terangkat dan berpindah ke ruang angkasa. Nah, ilmuwan pun berpikir bagaimana cara 'menangkap' panas itu sebelum keluar meninggalkan Bumi.
 
Konsep ini disebut ilmuwan dengan istilah fotovoltaik alternatif yang menghasilkan 'sel fotovoltaik malam hari'. Memang untuk besaran energinya nggak se-signifikan panel surya biasa yang dipakai siang hari. Karena bagaimana pun cahaya matahari lebih panas berkali-kali lipat dibandingkan energi panas yang dilepaskan permukaan Bumi setelah matahari terbenam. 
 
Menurut perhitungan ilmuwan, paling-paling energi yang tersimpan cuma 25 persen dari energi panel surya biasa dalam satu hari. Tapi tetap saja konsep energi terbarukan ini bisa memberikan pengaruh besar, apalagi buat masyarakat yang butuh listrik cadangan lebih di malam hari. 
 
Alat dan konsep anti-solar panel ini dipublikasikan sama peneliti dari University of California di ACS Photonics, sebuah jurnal penelitian ilmiah milik American Chemical Society. Jurnal ini dipublikasikan Januari 2020, tapi sebetulnya konsep menangkap panas matahari dari Bumi saat malam hari ini sudah ramai dibicarakan sejak tahun 2019 lalu. 
 
Mengutip Science News, waktu itu para peneliti telah menyelesaikan purwarupa alias prototype dari anti-solar panel ini. Tenaganya per pembangkit versi prototype bisa digunakan untuk menyalakan lampu LED kecil. Sedangkan versi besarnya bisa untuk menyalakan lampu ruangan, mengisi baterai HP, atau menyalakan alat-alat elektronik kecil. 
 

 
(Science News)
 
 
Alat ini terdiri dari generator termoelektrik sebagai bagian intinya, di mana dia menghasilkan listrik ketika salah satu sisi generatornya lebih dingin daripada sisi lainnya. Bagian generator yang menghadap ke langit dihubungkan dengan piringan aluminium dan isolasi untuk menjaga agar lapisan tersebut tetap dingin.

 
Setiap panas yang terserap langsung dilepaskan lagi dalam bentuk radiasi infrared. Sementara itu bagian bawah generator dihubungkan dengan piringan aluminium yang justru didesain untuk menyimpan panas dan membuatnya lebih panas dari udara sekitar. 
 
Anti-solar panel ini didesain sama seorang insinyur Stanford University bernama Wei Li. Generator itu menghasilkan listrik 25 miliwatt dalam setiap meter persegi alat tersebut. Tenaga listrik ini bisa menyalakan lampu LED atau bohlam. Jika dibandingkan, panel surya biasa bisa menghasilkan 100 watt per meter perseginya.
 
"Tapi generator malam hari ini bisa berguna sebagai pembangkit listrik darurat, atau untuk orang yang hidup di tempat terpencil," jelas Yuan Yang, material scientist Columbia University yang sempat melihat prototype itu kepada Science News. 
 
Sementara teknologi ini masih diujicobakan dan kayaknya bakal lebih banyak dipakai di daerah yang jarang ada sinar mataharinya. Seperti di belahan Bumi utara. Kalau di Indonesia, panel surya kayaknya masih bisa jadi andalan mengingat matahari ada terus sepanjang tahun. (*)
Related Articles
Current Issues
83 Persen Penyintas Covid-19 Lebih Kebal dari Infeksi, tapi Masih Tularkan Virus

Current Issues
Kenapa Kita Suka Kangen Ketika Hujan?

Current Issues
Apakah Patah Hati Bisa Buat Kamu Mati?