Entertainment

[REVIEW BUKU] Kau Berhasil Jadi Peluru

Jean Marais

Posted on July 2nd 2018

Review Buku

 

Judul              : Kau Berhasil Jadi Peluru

Penulis            : Fitri Nganti Wani

Penerbit          : Partisipasi Indonesia & Warning Books

Tahun             : 2018

 

            Fitri Nganthi Wani adalah seorang perempuan kelahiran Solo, putri sulung dari penyair yang hilang pada 1998, Wiji Thukul. Wiji adalah seorang aktivis, sekaligus penyair yang puisinya moncer pada era Orde Baru. Hanya lewat kata-kata, ia berhasil menjadi ancaman bagi tiran. Tak hanya itu, ia juga aktif membantu rakyat-rakyat kecil dan buruh yang dirampas haknya.

Tatkala reformasi pecah pada bulan Mei 1998, hingga hari ini Widji hilang tak tahu rimbanya. Ia bersama ke-13 orang lain, hingga hari ini tak pernah lagi tampak di beranda rumah. Fitri, sebagai seorang anak Sulung harus tumbuh besar tanpa sosok ayah. Kerinduan yang membatu, amarah yang membuncah, serta kepasrahan tentang nasib Bapak—begitu ia biasa menyapa widji—ia rangkum menjadi suatu rangkaian kata dalam buku bertajuk Kau Berhasil Jadi Peluru.

Dari judulnya saja, keterkaitan buku ini dengan sosok Ayah cukup lekat. Buku ini merupakan jawaban atas impian ayahnya, yang dulu pernah menulis antologi puisi berjudul Aku Ingin Jadi Peluru. Dalam buku ini terdapat 52 puisi yang ditulis oleh Fitri selama 1 windu penuh. Ia mulai aktif merancang kata-kata dalam buku ini sejak tahun 2010 silam. Fitri Nganthi Wani, ketika ditemui pada peluncuran bukunya, mengatakan,” Saya mencintai puisi. Puisi menjadi kawan yang setia di setiap pergulatan hidup saya. Puisi adalah terapi mujarab yang mebuat saya bisa mengekspresikan hal-hal yang saya rasakan dan saya lihat tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling saya”

Seperti halnya puisi berjudul Bapak. Pada karya ini, Fitri berhasil menulis puisi secara liris, tanpa tedeng aling-aling.   

“Meneruskan perjuangan Bapak tentu sudah menjadi harapan, bagi saya. Namun bagi saya secara personal, puisi-puisi yang saya tulis ini adalah media terapi saja. Bagaimana kemudian puisi-puisi ini berkembangnitu sudah seperti talenta tersendiri. Segala api semangat yang ada di buku ini bukan sebuah warisan, tapi lebih kepada dampak yang ditimbulkan pasca kepergian bapak,” tandas Fitri.

 “Selalu Cemerlang

Sebening Lintang

Bapakku, kebanggaanku

Dimanapun Kamu Berada

Setialah pada tekat…”

—Fitri Nganthi Wani

            Gunawan Maryanto, penyair yang turut membacakan puisi pada peluncuran “Kau Berhasil Jadi Peluru”, berpendapat puisi-puisi Wani bisa secara unik membahasakan sosok ibunya sebagai luka yang tak kunjung sembuh. “Ibu adalah kenyataan bagi Wani. Sedang bapaknya adalah kenyataan yang makin lama berubah menjadi fiksi. Ia tak pernah benar-benar hadir lagi. Lewat puisi, Wani tak henti mengagumi sekaligus meratapi ketegaran ibunya dalam menjalani kehidupan tanpa seorang suami—yang direnggut dengan paksa dari kehidupan mereka,” jelasnya.

Nama Fitri pun juga banyak hidup dalam puisi-puisi Wiji. Sebagai anak Sulung, Fitri lebih akrab disapa Wani oleh Wiji. Dibanding Fajar, adik dari Fitri, ia lebih banyak memiliki waktu dan memori bersama Bapak. Ada suatu tukilan yang diambil dari karya Wiji yang ia persembahkan untuk Fitri. “Kalau teman-temanmu tanya, kenapa bapakmu dicari-cari polisi. Jawab saja, karena bapakku orang berani,” tulis Wiji.

            Buku Kau Berhasil Menjadi Peluru merupakan bacaan wajib bagi kalian yang baru saja mengenal sastra. Membaca buku ini sekaligus merawat ingatan, bahwa ada orang-orang yang tidak boleh terlupakan, dan harus diperjuangkan. Meskipun dengan cara yang sangat sederhana; menghidupkan mereka kembali lewat kata-kata.

Related Articles
Entertainment
Film Dokumenter Nyanyian Akar Rumput: Menghidupkan Kembali Karya Wiji Thukul

Entertainment
Gara-gara Komentar Kontroversial, ‘Shang-Chi’ Kemungkinan Tak Rilis di Tiongkok

Entertainment
Teken Kontrak Baru, Netflix Bakal Buatkan Film Lagi untuk Addison Rae