Current Issues

Mengenal Nazma Khan, Perempuan di Balik World Hijab Day

Delima Pangaribuan

Posted on February 1st 2020

Nazma Khan (Tazawaj)
 
 
Sejak 2013, tanggal 1 Februari punya makna tersendiri bagi perempuan berhijab. Inilah waktunya perempuan di seluruh dunia merayakan identitasnya sebagai perempuan berhijab dalam 'World Hijab Day'. Mengutip situs worldhijabday.com, hari peringatan ini sebenarnya merupakan gerakan sosial penggunaan hijab oleh perempuan dari semua kalangan, bahkan yang bukan Muslim.
 

Orang yang memprakarsai gerakan ini adalah Nazma Khan. Dia mengadakan gerakan itu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan toleransi beragama. Kebetulan dia tinggal di Amerika Serikat, di mana Muslim merupakan minoritas dan mereka rawan mengalami diskriminasi dari kalangan mayoritas di sana. Suatu prestasi yang luar biasa seseorang bisa memprakarsai sebuah gerakan. Jadi sebenarnya, siapakah Nazma Khan ini?
 
Nazma berasal dari Bangladesh, sebuah negara yang juga mayoritas Muslim seperti Indonesia. Saat usia 11 tahun, atau sekitar tahun 1994, Nazma dan keluarganya migrasi ke Amerika Serikat. Nazma besar di Bronx, New York, dan masih membawa identitasnya sebagai perempuan Bangladesh dan Muslim. Alias sudah berhijab sejak kecil.
 
Karena penampilannya yang berbeda itu, dia kerap dibully sama teman-temannya selama SMP dan SMA. Sering dipanggil 'Batman' atau 'ninja'. Setelah kejadian terorisme yang meruntuhkan gedung World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001, Nazma semakin menerima bully dan diskriminasi dari lingkungan sekitarnya.

 
"Aku dikejar, diludahi, dan dihadang oleh banyak orang, dipanggil teroris, Osama bin Laden, dan sebagainya," tutur Nazma kepada Aljazeera tahun 2018 lalu.
 
Nazma berinisiatif untuk mencari sesama perempuan Muslim yang juga mengenakan hijab di media sosial. Dia ingin tahu apakah mereka juga mengalami diskriminasi yang sama seperti dirinya.
 
"Saat aku membaca cerita mereka, aku bisa melihat kesulitanku sendiri pada saudara-saudaraku," lanjutnya.
 
Sebagai aktivis sosial pemerhati kesetaraan umat beragama, Nazma lantas mendirikan organisasi non-profit bernama 'World Hijab Day', sekaligus menetapkan tanggal 1 Februari sebagai peringatan menggunakan hijab sedunia. Organisasi ini punya misi utama untuk melawan diskriminasi terhadap perempuan Muslim lewat sosialisasi dan edukasi. 
 
1 Februari 2013 adalah tanggal di mana pertama kalinya Nazma meminta para perempuan untuk mencoba mengenakan hijab, apa pun latar belakang mereka.
 
"Dengan berjalan di sepatuku selama satu hari, para perempuan bisa melihat kalau aku tidak berbeda dari mereka. Dan mungkin pengalaman selama satu hari ini bisa memberikan mereka cara pandang yang baru tentang hijab," ujar Nazma.
 
Organisasi World Hijab Day juga punya program gagasan Nazma bernama #StronginHijab. Dia mengajak perempuan Muslim membagikan pengalamannya berhijab di media sosial.
 
"Hijab bukan hanya kain yang digunakan untuk menutupi kepala. Lebih daripada itu, hijab merepresentasikan saya sebagai seseorang," ungkap Nazma.
 
Dia mengajak orang-orang memahami bahwa hijab bukan sebuah kungkungan atau pembatasan, tetapi justru adalah salah satu cara mengekspresikan diri dan identitas. (*)
Related Articles
Current Issues
Tanpa Prom, Sekolah di AS Punya Berbagai Cara Unik Rayakan Kelulusan

Current Issues
Dukung Penanganan Covid-19, Pabrik Tesla di Buffalo Kembali Produksi Ventilator

Current Issues
American Airline dan Hyatt Beri Liburan Gratis untuk Petugas Medis di New York